Oleh: Atika Almustanir

Ketika Putih Abu dan Putih Biru Menjadi Pelangi

Ruslan
1.002 view
Ketika Putih Abu dan Putih Biru Menjadi Pelangi
Ilustrasi (Foto: Int)

DATARIAU.COM - Sedih, sakit, kecewa, campur aduk rasanya tapi bukan nano-nano rasa permen melainkan rasa sedih yang mendalam. Karena beberapa minggu terakhir ini masyarakat digegerkan dengan berita bahwa komunitas LGBT di Indonesia semakin marak. Hal ini dapat diketahui oleh warga melalui group di jejaring media sosial Facebook. Jumlah mereka mulai dari puluhan hingga ribuan dalam satu group. Aktifitas mereka di Facebook mulai dari sekedar menyapa hingga terang-terangan mengajak kencan anggota group. 

Mirisnya group yang ada tidak hanya bagi kalangan dewasa, mereka juga membuat akun bagi gay SMP/SMA. Di Garut, grup Facebook beranggotakan 2.500 orang khusus pelajar.  Dengan kata lain, 2.500 pelajar di Garut, Jawa Barat, adalah penyukai sesama sejenis orientasi seksual yang dianggap tabu di Indonesia (Suara.com 10/10/ 2018). Akun Grup Facebook semisalnya bagi pelajar SMP/SMA bisa ditemukan di kota lain di Indonesia. Astaghfirullah, Na'udzubillahimindzalik.

Merebaknya perilaku LGBT ini akan diikuti dengan problem sosial lainnya; meningkatnya PMS dan HIV/AIDS, hancurnya institusi pernikahan dan keluarga, sampai punahnya jenis keturunan manusia. Sebagaimana tercatat oleh dinas Kesehatan dan KPA Propinsi Riau, selama kurun waktu Januari-September 2018 ditemukan ada 393 kasus HIV/AIDS dan 124 kasus diantaranya pada pelaku homoseksual. Perilaku LGBT telah mendominasi cara penularan dan penyebaran HIV/AIDS (Tribun Pekanbaru 8/10/2018).

Temuan ini sangat memprihatinkan dan harus mendapatkan perhatian serius. Bagaimana tidak, sosok yang berseragam putih abu dan putih biru adalah generasi penerus bangsa. Merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Mereka pula yang akan mengisi kemerdekaan dengan karya-karya luar biasa. Namun,  prestasi tersebut dapat digerus dengan virus LGBT yang menghancurkan cita-cita mereka. Ini sungguh merupakan ancaman besar bagi keberlangsungan generasi kita. 

Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan menjadi pembenaran bahkan LGBT dijadikan gaya hidup yang harus diterima oleh masyarakat. Menjijikkan! lalu generasi muda kita akan rusak dan negara pun berada diambang kehancuran. 

Dari itu, Fenomena maraknya LGBT dikalangan remaja harus menjadi tanggungjawab bersama mulai dari individu dan keluarga yang meletakkan pondasi dan aqidah serta pendidikan untuk membentuk kepribadian Islami. Orang tua haruslah memahami syariat Islam dan mengajarkan kepada anak-anak mereka hingga menjadikan halal dan haram sebagai tolak ukur dalam setiap perbuatan. Orang tua juga hendaknya mengawasi gerak gerik anak mereka termasuk pengguanan media sosial karena bukan tidak mungkin mereka akan mengakses akun yang terindikasi grup LBGT atau diajak bergabung dalam grup tersebut.  

 

Berikutnya, masyarakat juga memiliki peran dalam mengontrol dan mengawasi lingkungan sekitar. Jika menemukan kemaksiatan dan pelanggaran hukum hendaklah mencegahnya dengan beramarma'ruf nahi mungkar, tidak berdiam diri atau bersikap cuek. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah ketegasan Negara dalam menegakan hukum dengan menindak pelaku LGBT ini yang dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat dan keluarga. Semua itu akan terwujud dengan penerapan syariat Islam dalam semua aspek kehidupan. (*)

Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)