Dunia Mengalami Resesi, Islam Adalah Solusi Hakiki

1.632 view
Dunia Mengalami Resesi, Islam Adalah Solusi Hakiki
Foto: Ist
Casima, (Aktivis Muslimah Peduli Negeri)

DATARIAU.COM - Resesi ekonomi sudah semakin di depan mata. Keberadaannya sudah tampak nyata, bukan lagi hanya sebatas perkiraan saja. Beberapa waktu terakhir, banyak berseliweran kata-kata "resesi". Memang, semenjak virus corona (covid 19) menyerang dunia, kata resesi sering kali disebut dan menimbulkan kecemasan pada setiap orang. Resesi sendiri adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. (Wikipedia.org).

Jauh sebelum pandemi ini hadir, ancaman resesi juga acapkali terlihat. Dampak terbesar itu ialah dengan menurunnya pendapatan masyarakat hingga menambah angka kemiskinan. Sementara itu, dalam skala Pemerintah bukti resesi juga dapat dilihat dengan meningkatnya angka hutang luar negeri. 

Hal ini diperparah dengan hadirnya pandemi yang seakan meruhntuhkan segala kecongkakan manusia. Jelas, keadaan perekonomian setiap negara akan semakin memburuk. Fakta terbaru adalah bagaimana Koersel dan Singapura yang sudah masuk ke jurang resesi. 

 

Pun negara sekelas Amerika Serikat (AS) sudah mengalami puluhan kali resesi. Terlebih setelah pandemi. Kepala Ekonom Capital Economics Paul Ashworth menuturkan, ekonomi AS tidak akan bisa segera kembali ke keadaan sebelum Covid-19 melanda. Meski bank sentral negara itu, The Federal Reserve (Fed) akan meluncurkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan.(cnbcindonesia.com).

Dilansir dari Investopedia, AS (negara dengan nilai ekonomi terbesar di dunia) sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara sejak tahun 1980, AS sudah mengalami 4 kali resesi termasuk yang terjadi saat krisis finansial di tahun 2008. (CNBNIndonesia.com).

Indonesia, Bukan tidak mungkin juga akan mengalami hal serupa. Mengingat lambannya penanganan pemerintah terhadap virus dan sikap abainya masyarakat. Menanggapi kemungkinan ini maka Bhima Yudhistira, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menghimbau masyarakat, ?Kurangi juga belanja yang tidak sesuai kebutuhan dan fokus pada pangan serta kebutuhan kesehatan. Jadi jangan latah ikut gaya hidup yang boros. Pandemi mengajarkan kita apa yang bisa dihemat ternyata membuat daya tahan keuangan personal lebih kuat."

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Menurutnya, di saat seperti ini masyarakat jangan boros dan harus mempersiapkan kondisi terburuk untuk mencukupi keuangan.

"Tetap harus berjaga-jaga mempersiapkan kondisi terburuk yaitu apabila resesi ini berkepanjangan. Ini perlu stamina yang kuat termasuk juga tabungan yang cukup. Jangan Boros," ucapnya. (detik.com).

Bank Dunia melaporkan untuk ekonomi Indonesia bulan Juli 2020, tak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Terlebih dengan data angka infeksi Covid-19 yang semakin meningkat, maka ancaman resesi bagi Indonesia sudah di depan mata. Ancaman tersebut juga sudah sering diingatkan oleh Presiden RI, Joko Widodo kepada para menterinya.

Semakin kesini seharusnya kita semakin membuka mata dan memahami bahwa ada yang salah dengan sistem yang sedang kita terapkan saat ini. Sistem Kapitalis, hampir seluruh negara menerapkannya dalam sebuah aturan negara terbukti gagal dalam menjamin keamanan dan pemenuhan kebutuhan manusia. Baik disaat pandemi maupun sebelum pandemi melanda.

Kerapuhan sistem kapitalisme menyebabkan mudahnya perekonomian dalam negeri maupun skala dunia tergoncang. Sebab, ekonomi kapitalisme berdiri di atas sektor non riil dan sistem ribawi. Sehingga rentan terjadi krisis ekonomi.

Lantas, bagaimana Islam memberikan solusi dalam penanganan resesi ini? Daulah Islam pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab juga pernah mengalami krisis ekonomi yang hebat. Rakyat Daulah Islam mengalami kelaparan massal, ribuan orang jatuh sakit dan roda ekonomi semakin sulit. 

Kendati demikian, pemimpin kaum muslimin saat itu tak kehilangan arah apalagi patah semangat hingga membiarkan rakyatnya berjuang sendiri. Amirul mukminin Umar ibn Al-Khattab berdiri kokoh melindungi rakyat dengan bersegera memecahkan permasalahan dengan solusi cemerlang.

Pertama, Khalifah Umar langsung memerintahkan setiap pejabat untuk membuat posko-posko bantuan. Kedua, musibah yang melanda juga membuat Khalifah semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhana Wata'ala. Beliau meminta pertolongan Allah Subhana Wata'ala Pemilik alam dan seisinya. Khalifah juga langsung memimpin taubat nasuha dan bermuhasabah. Bisa jadi bencana/krisis yang ada akibat kesalahan-kesalahan atau dosa yang telah dilakukan oleh Khalifah dan atau masyarakatnya. Khalifah menyerukan taubat, Meminta ampun kepada Allah agar bencana segera berlalu. Ketiga, kepada rakyatnya yang datang karena membutuhkan makanan, segera dipenuhi. Yang tidak dapat mendatangi Khalifah, bahan makanan diantar ke rumahnya, beberapa bulan sepanjang masa musibah. Keempat, tatkala menghadapi situasi sulit, Khalifah Umar bin Khaththab meminta bantuan ke wilayah atau daerah bagian Kekhilafahan Islam yang kaya dan mampu memberi bantuan.

Begitulah fragmen yang diterapkan oleh khalifah, sehingga dapat menyelesaikan dampak pandemi berupa krisis yang terjadi tanpa mendzalimi. Tampak jelas konsep Islam merupakan solusi tuntas yang mampu mengatasi resesi ekonomi yang melanda negara. Sebab, solusi Islam merupakan solusi sempurna dari yang maha sempurna Allah Azza wa Jalla.

Wal akhir, semoga setiap manusia di muka bumi menyadari bahwa kerusakan, kemiskinan dan keterjajahan yang ada bersumber dari penerapan sistem kapitalisme demokrasi. Sehingga kita bersegera kembali kepada sistem shahih warisan Rasulullah Subhana Wata'ala , yaitu Sistem Islam Rahmatan lil Alamin.(*)

Wallahu a?lam bish shawab.

Penulis
: Casima
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)