Warning: session_start(): open(/opt/alt/php84/var/lib/php/session/sess_e42a6800643dc98a4e4154191e8b9252, O_RDWR) failed: Disk quota exceeded (122) in /home/u572801051/domains/datariau.com/public_html/koneksi.php on line 2

Warning: session_start(): Failed to read session data: files (path: /opt/alt/php84/var/lib/php/session) in /home/u572801051/domains/datariau.com/public_html/koneksi.php on line 2
Berkaca Pada Kasus Obat Covid-19 Hadi Pranoto dan Hilangnya Era Kepakaran di Kalangan Pengemban Dakwah
Oleh : Reni Adelina. *)

Berkaca Pada Kasus Obat Covid-19 Hadi Pranoto dan Hilangnya Era Kepakaran di Kalangan Pengemban Dakwah

datariau.com
367 view
Berkaca Pada Kasus Obat Covid-19 Hadi Pranoto dan Hilangnya Era Kepakaran di Kalangan Pengemban Dakwah
Reni Adelina
DATARIAU.COM - Masa pandemi belum berakhir, namun jagad dunia maya kembali dihebohkan dengan informasi yang tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, yakni soal penemuan antibodi penyembuhan Covid 19 oleh seorang bernama Hadi Pranoto.

Berita ini berawal ketika seorang musisi Tanah Air bernama Erdian Aji Prihartanto (Anji) mengunggah video wawancaranya berjudul "Bisa Kembali Normal ? Obat Covid-19 Sudah Ditemukan" ke media sosial YouTube.

Dalam wawancara tersebut, Hadi Pranoto memperkenalkan dirinya sebagai seorang Profesor Ahli Mikrobiologi sekaligus Kepala Tim Riset Formula Antibodi Covid 19. Ia juga menyebutkan bahwa cairan antibodi Covid 19 yang ditemukan mampu menyembuhkan ribuan pasien Covid 19. Ia juga mengklaim bahwa cairan antibodi ini sudah didistribusikan di Pulau Jawa, Bali, dan Kalimantan. Selain itu, cairan antibodi Covid 19 tersebut telah diberikan kepada ribuan pasien yang diisolasi di Wisma Atlet dengan lama penyembuhan 2-3 hari.

Hal ini tentu membuat video tersebut menjadi viral. Mengingat informasi dalam wawancara tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan validitasnya, video tersebut berdurasi kurang lebih 30 menit yang diunggah tanggal 31 Juli 2020, yang pada akhirnya kena take down dari YouTube.

Beredarmya informasi tersebut langsung mendapat tanggapan dari Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid 19 yakni Wiku Adisasmito. Wiku angkat bicara mengenai klaim Hadi Pranoto tersebut. Menurutnya di Indonesia telah diatur tentang produk herbal berupa jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka, silahkan cek produk yang diklaim oleh Hadi Pranoto apakah sudah terdaftar di BPOM atau Kementerian Kesehatan. (Kompas.com, 2/8/2020).

Selain Satgas Covid-19, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga mengecam klaim Hadi Pranoto soal obat corona. IDI menegaskan bahwa klaim tersebut sangat mebahayakan. Wakil Ketua Umum dr Slamet Budiarto menepis semua klaim Hadi Pranoto, bahkan dr Slamet mengatakan bahwa nama Hadi Pranoto tidak ada dalam database IDI.

Melihat kasus ini membuat mata kita terbuka lebar, bahwa sampai detik ini obat corona belum juga ditemukan. Mengingat pandemi ini sudah berlangsung sejak Maret yang lalu. Masyarakat sangat menanti adanya obat dari pandemi ini, agar semua kehidupan berjalan normal seperti sediakala.

Disinilah masyarakat membutuhkan seorang pakar. Maka sebagai seorang muslim khususnya pengemban dakwah harus terjun ke suatu bidang untuk menjadi ahli misalnya di bidang industri, litbang, ristek, pendidikan, medis dan lain-lain.

Tidak bisa dikatakan seorang pengemban dakwah hanya cukup jadi pengusaha saja dengan tujuan agar lebih mempunyai waktu untuk berdakwah. Nyatanya ketika fenomena ini beredar kita kehilangan arah informasi yang jelas untuk menjadi acuan kebenaran informasi.

Selain itu, ketika di internet banyak kita temui ada isu baru pada bidang tertentu justru yang paling reaksioner adalah mereka yang bukan pakarnya. Alhasil publik dibuat bingung karena banyaknya klaim yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bahkan para pengemban dakwah yang terlibat dalam bidang biologi dan kesehatan hanya mampu menunggu informasi yang pasti.

Saat ini kita kehilangan para pengemban dakwah yang pakar dalam bidang tertentu. Maka dari itu, seharusnya para pengemban dakwah turut aktif dalam aktivitas kepakaran. Dalam hal ini semuanya harus besinergi, baik individu pengemban dakwah hingga negara turut bergerak agar vaksin Covid-19 segera ditemukan. Ketika hilangnya era kepakaran, maka penanganan pandemi ini begitu lamban teratasi.

Tidak hanya di bidang biologi dan kesehatan di sektor yang lain seperti pendidikan, industri, ekonomi dan sebagainya. Seorang pengemban dakwah tidak dituntut untuk terburu-buru melontarkan analisa. Sebab ia tahu menahan diri dari berkomentar secara publik. Peran pengemban dakwah dalam ilmu kepakaran sangat dibutuhkan. Sebab para pengemban dakwah mampu menimbang fakta yang ada dengan dalil-dalil syariat secara akurat yang jelas sumbernya berasal dari Al Quran. Sehingga dapat merumuskan ide secara lebih detail dan gamblang. Narasi dipilih dengan tepat tidak semata-mata bersifat normatif atau hanya bersifat ideologi saja.

Dapat disimpulkan para pengemban dakwah harus fokus pada bidangnya, jika ingin menjadi peneliti maka biarkan saja menjadi peneliti, tidak perlu disuruh keluar walaupun nanti berhadapan dengan rezim wakanda yang represif terhadap gerak dakwah. Maka dapat dikatakan bahwa tiap-tiap pengemban dakwah harus memiliki karakter khusus yang cocok untuk kondisi khusus. Agar terciptanya generasi Islam yang lebih gemilang yang mampu mengalahkan hegemoni Barat.

Wallahua'lam. (*)

*) Penulis merupakan Aktivis Muslimah Peduli Umat.
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)