KISARAN, datariau.com - Warga resah dengan ulah juru parkir yang tidak pernah memberikan karcis kepada pemilik kendaraan jika tidak diminta saat membayar. Ironisnya, karcis yang diberikan sering tidak jelas karena tidak mencantumkan kelas jalan yang digunakan parkir.
Tidak transparannya pengelolaan parkir yang dilakukan sejumlah jukir di Kota Kisaran Kabupaten Asahan sudah cukup mengganggu. Sejumlah warga meminta agar praktik seperti itu ditertibkan petugas yang berwenang.
"Tiba-tiba diminta Rp 2.000 untuk sepeda motor," kata salah seorang pengendara kepada datariau.com, Kamis (17/11/2016).
"Padahal kita enggak pernah tahu itu parkir di kelas apa karena karcisnya enggak pernah dikasih kalau enggak diminta. Selain itu enggak ada nama jalan di karcisnya," kata Amlet (33) warga Jalan Cokroaminoto Kelurahan Kisaran Baru Kecamatan Kisaran Barat.
Anehnya lagi, lanjut Amlet, saat karcis parkir diminta, jukir yang memakai seragam oranye itu malah tidak memberikan karcis apapun kepada pengendara sepeda motor dan mobil. Mereka dengan seenaknya memberikan alasan karcis tidak diberikan oleh pihak Dinas Perhubungan Kisaran.
"Jadi karcis untuk Distribusi tidak ada pihak pengendara sepeda motor dan pengendara mobil mau tidak mau harus memberikan uang 2000 rupiah," ujarnya.
Menurut Amlet, hal itu terjadi hampir di semua lokasi parkir tepi jalan. Seolah-olah para jukir ini berupaya agar pihak pengendara sepeda motor dan kendaraan mobil tetap memberikan uang parkir tanpa karcis, ada juga jukir yang mengunakan karcis Distribusi.
Selain itu ada oknum juru parkir yang ingin mengelabui masyarakat dengan tarif yang tidak pernah jelas.
Dia meminta pihak berwenang seperti Dinas Perhubungan (Dishub Asahan) segera melakukan penertiban. Jika perlu meminta ke masyarakat agar tidak membayar parkir jika karcis tidak diberikan atau karcisnya tidak spesifik memuat nama jalan dan kawasan yang dikutip. Sebab, nama jalan di setiap karcis penting untuk memastikan apakah benar kawasan tersebut masuk dalam kategori kelas satu atau kelas dua.
Robert (35) warga Bunut Barat mengatakan, terkadang masyarakat punya kecenderungan memaklumi jika retribusi parkir dikutip lebih besar dari yang seharusnya. Sebab, mereka memilih untuk tidak cari masalah dengan para juru parkir, karena biasanya para juru parkir bukan malah Pemuda setempat yang berkerja malah orang yang pendatang yang diperkerjakan oleh pihak Dishub Asahan.
"Ini sudah terbalik, pada umumnya untuk para juru parkir pemuda setempat ini malah orang pendatang yang memegang areal parkir tersebut. Salah kali pihak Dishub Asahan ini bang tidak memperkerjakan pemuda setempat," sebut warga lainnya.
Dalam kondisi perekonomian masyarakat sedang kacau, daya beli semakin lemah, sehingga selisih uang Rp1.000 kini jadi terasa berharga. Sebab, jika sehari mobilitas warga bisa parkir di lima tempat, untuk mobil harus menyiapkan Rp10.000 dan sepeda motor Rp5.000 per hari. Namun, umumnya jukir menyamaratakan retribusi parkir untuk kelas satu.
"Tentu ini sudah sangat meresahkan. Apalagi jika harus berhadapan dengan jukir yang sikapnya seperti preman yang mau ngompas. Saat kita mencari parkiran dia cuek saja entah di mana. Tapi pas kita mau pergi tiba-tiba datang minta uang," ujarnya.
Dishub Asahan diharapkan punya terobosan dalam menertibkan retribusi parkir. Seperti menerapkan parkir meteran otomatis menggunakan koin atau memberikan sosialisasi dan penegasan ke warga untuk tidak membayar parkir jika karcis tidak diberikan dan di dalam karcis harus memuat jelas informasi nama jalan serta menuliskan nomor pelat kendaraan.
H Sianipar, Juru Parkir yang berada di Jalan Cokroaminoto Kisaran tepatnya di depan Prakter Dr Idwar Dalil mengatakan, dia parkir di lokasi itu sudah 6 tahun dan masalah parkir ini yang mengkordinir dari pihak Dinas Perhubungan.
"Penghasilan aku dari hasil juru parkir hanya 60 ribu satu malam dan untuk kendaraan roda 2 dan roda 4 aku hanya minta uang 2000 perunit, itupun aku menyetor dengan pak Nazar Tanjung 10 ribu rupiah per 1 hari, berarti sisa hanya 50 ribu rupiah penghasilan aku, manalah cukup untuk makan anak bini aku dek," terang Juru Parkir.
"Selain itu, di daerah ini sudah sepi karena wilayah parkir yang aku kerjain batasnya hanya beberapa meter saja, jadi kalau penghasilanya hanya pas-pasan untuk makan saja, selain itu pak Nazarpun orangnya pelit kali tidak ada pengertian orangnya" terang H Sianipar.
Di tempat yang berbeda, Juru Parkir yang berada di jalan Cokroaminoto tepatnya di depan Toko Roti Zahra, Wilmar Simarmata mengatakan, dia disini baru saja jadi tukang parkir.
"Masalah karcis dikasih sama Pak Nazar Tanjung, dan disini untuk parkir hanya 1000 rupiah perunit, dan untuk penghasilan jadi juru parkir hanya lepas untuk makan aja, selain itu aku menyetor sama pak Nazar Tanjung 15.000 ribu per hari," terang Wilmar.
Pengurus Dari Dinas Perhubungan Nazar Tanjung saat akan dimintai keterangnya tidak bersedia untuk ditemui dengan alasan melihat orang meninggal. Sampai berita ini diturukan Pihak Dinas Perhubungan atas nama Nazar Tanjung tidak bisa ditemui.
Dari pantauandi lapangan, situasi parkir di daerah jalan Cokroaminoto Kisaran masih sepi, setiba menjelang sore hingga malam daerah tersebut dipadati dengan kendaraan roda empat yang memakirkan dengan semrawut, dan kemacetan pun terjadi sehingga penguna jalan raya merasa terganggu, karena daerah parkiran tersebut tempat untuk berbelok arah.