Juru Parkir Tak Pernah Beri Karcis

datariau.com
891 view
Juru Parkir Tak Pernah Beri Karcis
Fran Manurung
Petugas parkir saat meminta uang parkir kepada salah satu pengendara mobil.

KISARAN, datariau.com - Warga  resah dengan ulah  juru parkir yang tidak  pernah memberikan  karcis kepada  pemilik kendaraan  jika tidak diminta  saat membayar. Ironisnya,  karcis yang  diberikan sering tidak  jelas karena tidak  mencantumkan  kelas jalan yang digunakan  parkir.

Tidak transparannya pengelolaan  parkir yang dilakukan sejumlah  jukir di Kota Kisaran Kabupaten Asahan sudah  cukup mengganggu. Sejumlah  warga meminta agar  praktik seperti itu ditertibkan petugas yang berwenang.  

"Tiba-tiba diminta  Rp 2.000 untuk sepeda motor," kata salah seorang pengendara kepada datariau.com, Kamis (17/11/2016).

"Padahal kita enggak pernah  tahu itu parkir di kelas apa  karena karcisnya enggak pernah  dikasih kalau enggak diminta.  Selain itu enggak ada  nama jalan di karcisnya," kata  Amlet (33) warga Jalan Cokroaminoto Kelurahan Kisaran Baru Kecamatan Kisaran Barat.

Anehnya lagi, lanjut Amlet,  saat karcis parkir diminta,  jukir yang memakai seragam oranye itu malah tidak memberikan karcis apapun kepada pengendara sepeda motor dan mobil.  Mereka dengan seenaknya memberikan alasan karcis tidak diberikan oleh pihak Dinas Perhubungan Kisaran.

"Jadi karcis untuk Distribusi tidak ada pihak pengendara sepeda motor dan pengendara mobil mau tidak mau harus memberikan uang 2000 rupiah," ujarnya.

Menurut Amlet, hal itu terjadi  hampir di semua lokasi parkir  tepi jalan. Seolah-olah para jukir  ini berupaya agar pihak pengendara sepeda motor dan kendaraan mobil tetap memberikan uang parkir tanpa karcis, ada juga jukir yang mengunakan karcis Distribusi.
Selain itu ada oknum juru  parkir yang ingin mengelabui  masyarakat dengan tarif yang  tidak pernah jelas.  

Dia meminta pihak berwenang  seperti Dinas Perhubungan  (Dishub Asahan) segera melakukan  penertiban. Jika perlu meminta  ke masyarakat agar tidak  membayar parkir jika karcis tidak  diberikan atau karcisnya tidak  spesifik memuat nama jalan  dan kawasan yang dikutip. Sebab,  nama jalan di setiap karcis  penting untuk memastikan  apakah benar kawasan tersebut  masuk dalam kategori kelas satu  atau kelas dua.  

Robert (35) warga Bunut Barat mengatakan,  terkadang masyarakat  punya kecenderungan memaklumi  jika retribusi parkir  dikutip lebih besar dari yang  seharusnya. Sebab, mereka  memilih untuk tidak cari masalah  dengan para juru parkir, karena biasanya para juru parkir bukan malah Pemuda setempat yang berkerja malah orang yang pendatang yang diperkerjakan oleh pihak Dishub Asahan.

"Ini sudah terbalik, pada umumnya untuk para juru parkir pemuda setempat ini malah orang pendatang yang memegang areal parkir tersebut. Salah kali pihak Dishub Asahan ini bang tidak memperkerjakan pemuda setempat," sebut warga lainnya.

Dalam kondisi perekonomian  masyarakat sedang  kacau, daya beli semakin  lemah, sehingga selisih uang  Rp1.000 kini jadi terasa  berharga. Sebab, jika sehari mobilitas warga bisa parkir di  lima tempat, untuk mobil  harus menyiapkan Rp10.000  dan sepeda motor Rp5.000  per hari. Namun, umumnya  jukir menyamaratakan retribusi  parkir untuk kelas satu.  

"Tentu ini sudah sangat meresahkan. Apalagi jika harus  berhadapan dengan jukir yang  sikapnya seperti preman yang  mau ngompas. Saat kita mencari  parkiran dia cuek saja entah  di mana. Tapi pas kita mau  pergi tiba-tiba datang minta uang," ujarnya.

Dishub Asahan diharapkan punya  terobosan dalam menertibkan  retribusi parkir. Seperti menerapkan  parkir meteran otomatis  menggunakan koin atau  memberikan sosialisasi dan  penegasan ke warga untuk  tidak membayar parkir jika  karcis tidak diberikan dan di  dalam karcis harus memuat jelas  informasi nama jalan serta  menuliskan nomor pelat  kendaraan.

H Sianipar, Juru Parkir yang berada di Jalan Cokroaminoto Kisaran tepatnya di depan Prakter Dr Idwar Dalil mengatakan, dia parkir di lokasi itu sudah 6 tahun dan masalah parkir ini yang mengkordinir dari pihak Dinas Perhubungan.

"Penghasilan aku dari hasil juru parkir hanya 60 ribu satu malam dan untuk kendaraan roda 2 dan roda 4 aku hanya minta uang 2000 perunit, itupun aku menyetor dengan pak Nazar Tanjung 10 ribu rupiah per 1 hari, berarti sisa hanya 50 ribu rupiah penghasilan aku, manalah cukup untuk makan anak bini aku dek," terang Juru Parkir.

"Selain itu, di daerah ini sudah sepi karena wilayah parkir yang aku kerjain batasnya hanya beberapa meter saja, jadi kalau penghasilanya hanya pas-pasan untuk makan saja, selain itu pak Nazarpun orangnya pelit kali tidak ada pengertian orangnya" terang H Sianipar.

Di tempat yang berbeda, Juru Parkir yang berada di jalan Cokroaminoto tepatnya di depan Toko Roti Zahra, Wilmar Simarmata mengatakan, dia disini baru saja jadi tukang parkir.

"Masalah karcis dikasih sama Pak Nazar Tanjung, dan disini untuk parkir hanya 1000 rupiah perunit, dan untuk penghasilan jadi juru parkir hanya lepas untuk makan aja, selain itu aku menyetor sama pak Nazar Tanjung 15.000 ribu per hari," terang Wilmar.

Pengurus Dari Dinas Perhubungan Nazar Tanjung saat akan dimintai keterangnya tidak bersedia untuk ditemui dengan alasan melihat orang meninggal. Sampai berita ini diturukan Pihak Dinas Perhubungan atas nama Nazar Tanjung tidak bisa ditemui.

Dari pantauandi lapangan, situasi parkir di daerah jalan Cokroaminoto Kisaran masih sepi, setiba menjelang sore hingga malam daerah tersebut dipadati dengan kendaraan roda empat yang memakirkan dengan semrawut, dan kemacetan pun terjadi sehingga penguna jalan raya merasa terganggu, karena daerah parkiran tersebut tempat untuk berbelok arah.

Penulis
: Fran Manurung
Editor
: Riki
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)