PEKANBARU, datariau.com - Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Jhon Romi Sinaga mengaku prihatin dengan kondisi Provinsi Riau yang saat ini mengalami peningkatan penderita pengidap HIV/AIDS.
Jhon Romi mengatakan, dalam memerangi meningkatnya penderita HIV dibutuhkan partisipasi dari semua pihak, baik itu instansi terkait yakni Dinas Kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, Badan Narkotika Nasional (BNN) serta orang tua.
"Peran semua pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi HIV, karena pada jaman sekarang bukan hanya menimpa pada orang dewasa namun juga kini telah beredar pada kalangan remaja dan juga kalangan suka sesama jenis," terangnya, Rabu (11/11/2015).
Dikatakan Politisi PDI Perjuangan ini, semangat untuk memberantas HIV di Pekanbaru, Riau umumnya, harus terus digalakan sehingga kedepannya HIV tidak lagi bisa masuk ke Bumi Lancang Kuning.
"Termasuk juga pihak sekolah untuk bisa melakukan pengawasan terhadap anak, memang kita juga tidak bisa menyalahkan para guru, tetapi kita harapkan agar dapat mengawasi jam istirahat para siswa, sebab seperti yang apa saya katakan tadi persoalan ini bukan hanya terjadi pada kalangan Dewasa namun juga di kalangan remaja," tuturnya.
Ditambahkan Jhon Romi, pihaknya di komisi III yang membidangi kesehatan akan segera melakukan tindakan dengan segera akan berkoordinasi bersama dinas kesehatan serta dinas terkait lainnya.
"Informasi berita yang kita terima dari kawan-kawan wartawan terkait meningkatnya penderita HIV di Riau, akan kita jadikan suatu masukan, untuk segera bergerak aktif bersama dinas terkait," pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Andra Sjafril mengatakan, penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Provinsi Riau, terus mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya dari ibu hamil kepada anaknya, namun juga dari sesama laki-laki atau homo seksual. Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi Riau melakukan beberapa program pencegahan.
"Dari data Dinas Kesehatan Riau menunjukkan, angka penderita HIV di kalangan penganut sesama jenis atau homo seksual pada 2013 mencapai 19 orang dan meningkat menjadi 34 orang pada 2014 atau meningkat 79 persen. Kasus pertama HIV baru ditemukan pada tahun 2007, sebanyak 2 orang," ungkapnya.
Perkembangannya seakan stagnan karena pada tahun 2008 tidak ditemukan kasus baru. Pada 2009, baru ditemukan 2 kasus HIV lain. Perkembangan pesat terjadi pada tahun 2010. Tiba-tiba saja, jumlah penderita HIV meningkat sampai 16 orang dan trennya semakin naik. Pada tahun 2014, jumlah penderitanya sudah mencapai 34 orang.
Kembali dikatakan Andra Sjafril, memang saat ini terjadi peningkatan penderita HIV dari ibu hamil kepada anaknya dan juga homo seksual. Karena itu, pihaknya membuat program khusus untuk ibu hamil kepada anaknya diminta untuk memeriksakan diri ke beberapa sarana kesehatan yang telah disediakan.
"Untuk pemeriksaan tersebut, kita sarankan semuanya untuk memeriksakan diri. Dengan tidak melihat latar belakang apakah dia mempunyai perilaku menyimpang atau tidak, kita sarankan untuk melakukan pemeriksaan HIV," ujarnya.
Namun untuk kalangan homo seksual, demikian diutarakan Kadiskes lagi, memang pihaknya mengalami kesulitan. Pasalnya kelompok ini cenderung tertutup dan jarang diketahui masyarakat banyak. Kemudian, Kadiskes juga menjelaskan bahwa saat ini tidak ada Kabupaten/Kota di Provinsi Riau yang bebas dari penderita HIV. Dengan artian seluruh Kabupaten/Kota di Riau ada penderita HIV.
"Kemudian selain itu, di Provinsi Riau sekarang ini tidak ada lagi orang yang berdasarkan pekerjaan yang tidak menderita HIV. Dengan artian, orang yang berlatar belakang pekerjaan apapun sudah ada yang menderita HIV. Semua ada, mulai dari yang tidak bekerja, PNS, tentara, polisi ada, namun yang tertinggi memang tetap dari tingkat swasta," jelasnya.
Ditambahkan Kadiskes, terkait penderita HIV dari kalangan homo seksual, Diskes sudah membentuk tim yang bekerja untuk mengajak kelompok tersebut untuk mau membuka diri dan memeriksakan diri. Namun terdapat persoalan, dimana para homo seksual mereka tidak memiliki kelompok dan tidak terorganisir.
"Untuk pemeriksaan HIV, ada beberapa rumah sakit yang dapat dijadikan rujukan seperti RSUD Arifin Achmad, Rumah Sakit PMC dan beberapa puskesmas di Pekanbaru," pungkasnya. (ndp)