BPOM Perkuat Integritas, Tolak Suap Demi Obat Aman

Najwa
718 view
BPOM Perkuat Integritas, Tolak Suap Demi Obat Aman
Foto: Badan POM

DATARIAU.COM- Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) menegaskan komitmennya menjaga integritas pengawasan obat untuk memastikan keamanan publik dan mencegah praktik suap melalui kegiatan Leaders Dialogue yang digelar Senin, 23 Juni 2025.

Mengusung tema 'Integritas Dalam Kepemimpinan: Menggerakkan Perubahan Melalui Teladan dan Tindakan', forum ini menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai antikorupsi bagi para pimpinan serta agen perubahan di lingkungan BPOM. Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan pengawasan terhadap komoditas obat dan makanan sangat strategis karena menyangkut hajat hidup masyarakat luas, namun besarnya nilai ekonomi dari sektor ini membuatnya rawan terhadap penyimpangan.

"BPOM termasuk lembaga negara yang sangat penting. Dampak ekonominya mencapai hampir Rp6.000 triliun setiap tahun dari industri obat dan makanan, baik skala besar maupun UMKM," ujar Taruna Ikrar. Menurutnya, tingginya kebutuhan sertifikasi dan perizinan dari para pelaku usaha membuat posisi BPOM sangat strategis dan bisa menimbulkan tekanan serta godaan terhadap integritas pegawai dalam menjalankan tugas pengawasan.

"Kita tahu pelaku usaha menginginkan percepatan perizinan. Semakin tinggi ketergantungan terhadap BPOM, maka semakin besar pula tantangan menjaga integritas. Di tengah gempuran besar ini, kita harus tetap mempertahankan nilai integritas," tambah Taruna Ikrar. Dia menambahkan BPOM mencatat skor 83,98 dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) yang dilakukan KPK tahun lalu, namun angka ini tidak cukup jika tidak dibarengi dengan implementasi nyata dalam pekerjaan sehari-hari.

"Jangan cederai hati rakyat dengan tindakan yang tidak semestinya. Semakin tinggi integritas kita, maka semakin terpercaya pula izin edar atau label BPOM yang melekat pada produk obat dan makanan," lanjutnya. Acara ini juga menghadirkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI periode 2015-2019, Agus Rahardjo, sebagai narasumber utama yang memaparkan topik "Membudayakan Integritas".

Agus menggarisbawahi bahwa akar dari banyak kasus korupsi di Indonesia adalah gratifikasi yang dibiarkan terjadi dan dianggap biasa. "Gratifikasi itu dekat sekali dengan suap. Kasus korupsi paling banyak di Indonesia adalah suap. Agama juga sudah mengajarkan bahwa diberi sesuatu di luar gaji itu bukan hak kita," ujarnya. Agus memaparkan sembilan poin penting dalam membangun budaya integritas, salah satunya pentingnya sistem gaji atau remunerasi yang layak bagi pegawai karena selama kebutuhan dasar belum terpenuhi, praktik korupsi sulit dihindari.

Dialog ini juga menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk menyampaikan tantangan nyata dalam menjaga integritas di lapangan. Salah satunya disampaikan oleh Inspektur I BPOM, Adam PWA Wibowo, yang mengungkapkan dilema etika bagi pegawai BPOM yang berlatar belakang apoteker tapi tidak dapat menjalankan praktik di fasilitas kesehatan karena risiko benturan kepentingan. Pengalaman lain disampaikan oleh Nesha Sitompul, Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM) Ahli Pertama, yang pernah menghadapi situasi gratifikasi saat melakukan pengawasan.

Menanggapi hal tersebut, Agus Rahardjo kembali mengingatkan pentingnya efisiensi dan sikap tegas terhadap godaan gratifikasi. "Jangan sampai tidak efisien menjadi budaya orang timur. Kita harus terus memperbaiki diri, mulai dari sistem hingga perilaku," ujar Agus. Dia juga menekankan pentingnya jumlah pegawai yang efisien, aturan dan kode etik yang jelas, serta sistem pengawasan internal yang berjalan optimal dengan kepemimpinan yang memberi teladan sebagai faktor penting memperkuat integritas organisasi.***

Sumber:Liputan6.com

Penulis
: Najwa
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)