Melalui Permainan Ini, Anak-anak Palestina Berupaya Mengusir Tentara Israel dari Masjid Al Aqsa

datariau.com
4.017 view
Melalui Permainan Ini, Anak-anak Palestina Berupaya Mengusir Tentara Israel dari Masjid Al Aqsa

DATARIAU.COM - Hidup anak-anak Gaza penuh dengan berondongan peluru dan rongrongan senjata. Tatkala anak lain bermain dengan penuh antusiasme di depan rumah bersama kawan lain, anak-anak di Gaza hanya menemukan ketenangan dengan bermain di lapangan Masjid Al-Aqsa.

Seakan tak cukup dengan senjata yang diacungkan ke muka sebagai ancaman, tentara Israel pun merenggut kebebasan mereka. Setidaknya 300 anak Gaza berada di bawah penahanan Israel.

Sebelumnya, Masjid Al-Aqsa sempat menjadi salah satu tempat ‘teraman’ bagi para anak untuk bermain--walau tentu saja, Israel tetap betah mengawasi. Maklum, taman untuk mereka bermain sudah menjadi sarang peluru, sehingga halaman masjid pun menjadi satu-satunya tempat teraman untuk menikmati kebebasan sebagai seorang anak.

Hingga akhirnya kondisi berubah memanas. Konflik Gaza - Israel kembali meledak. Anak-anak Gaza tak boleh sedikit pun melewati batas Gaza. Sekadar menjejakkan kaki pun risikonya begitu tinggi, entah ditembak, atau ditangkap. Angan untuk bermain dengan damai dan aman di lapangan Masjid Al-Aqsa harus dikubur dalam-dalam.

Namun, kerinduan akan masjid Al-Aqsa tak bisa lagi dibendung.Untuk menghalaunya, anak-anak itu pun akhirnya menciptakan sebuah permainan sederhana. The Road to Jerusalem, namanya. Melalui artikel yang diunggah di Ansamed, Sami al-Ajrami menuliskan permainan tersebut hanya membutuhkan hal sederhana: selembar kertas bergambar, sebuah dadu dan dua buah pion--biasanya menggunakan batu.

Permainan ini diciptakan oleh Muhammad Amriti. Masa kanak-kanaknya begitu kelam akibat konflik dan perang.

“Masa kecil saya begitu keras,” kata Amriti pada ANSA, seperti dilansir Ansamed. Kedua kakaknya meninggal akibat serangan Israel. Rumahnya dilempar bom pada tahun 2014 silam.

Cara memainkannya pun begitu sederhana. Dimainkan seperti permainan ular tangga. Para pemain akan melempar dadu dan bergerak sesuai angka yang muncul. Pemain yang cukup beruntung mendapat nomor tiga dapat langsung bergerak ke kotak nomor 24. Dengan menggunakan ‘misil’ Hamas di kotak nomor 3, pemain bergerak menyerang ‘pembangkit listrik’ milik Israel. ‘Misil’ Hamas lain pun dapat ditemukan di kotak nomor 58, bergerak ‘menyerang’ Nazareth di kotak nomor 82.

Namun, jika pemain menduduki kotak di mana helikopter atau tank Israel berjaga, maka mereka harus kembali ke kotak awal dan jarak mereka menuju ‘Yerusalem’ pun semakin jauh.

Amriti berujar, kelam masa anak-anaknya menjadi salah satu dorongan bagi dirinya untuk menciptakan permainan The Road to Jerusalem agar anak-anak Palestina dapat terus menjaga kecintaannya pada Masjid Al-Aqsa dan tempat suci lainnya.

“Saya mencoba untuk menumbuhkan dan menjaga rasa cinta anak-anak pada Masjid Al-Aqsa dan tempat suci kami lainnya,” kata Amriti.

Permainan ini sempat dikecam karena dianggap mengajarkan ‘kekerasan perang’ pada anak-anak. Amriti pun membantah. Baginya, itu adalah bagian dari realita dan bukan cuma sekadar ‘permainan’ selaiknya apa yang ia ciptakan sebagai The Road of Jerusalem.

Anak-anak Palestina itu kini tak lagi punya tempat untuk bermain. Masjid Al-Aqsa kini hanya bisa diraih melalui permainan saja.

Sampai kapan anak-anak itu harus menderita ditodong pistol dan direnggut kebebasannya untuk bermain?

Editor
: Riki
Sumber
: Kumparan.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)