Pedagang di Jalan Pekanbaru-Bangkinang Kini Hanya Bisa Banyak Merenung

datariau.com
1.900 view
Pedagang di Jalan Pekanbaru-Bangkinang Kini Hanya Bisa Banyak Merenung
Nova Rinaldo
Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang dibangun seperti jalan tol anpa U-Turn.

TAMBANG, datariau.com - Syamsul (43) duduk termenung di kedai kecil yang menjual barang harian miliknya siang itu. Lelaki paruh baya itu menatap rak-rak dan etalase kedainya yang telah berangsur kosong. Tak ada semangat baginya untuk menambah barang dagangannya, karena dagangannya tak laku, sepi pembeli.

Menurut Syamsul, sepinya pembeli di kedai harian miliknya disebabkan karena jalan Pekanbaru-Bangkinang di Km 20 desa Rimbo Panjang telah diberi pembatas jalan, sehingga para konsumen hanya bisa diharapkannya dari jalan sebelah kiri saja atau dari arah Bangkinang.

Dikatakannya, jalur pembatas jalan yang dibuat pemerintah diperkirakan setinggi orang dewasa atau 2 meter, dimana di bawahnya berupa beton dan diatasnya diberi pagar. Jalur pembatas sepanjang 1,9 Km itupun tidak ada ruang untuk kendaraan berputar alias U-Turn, sementara itu di sebelah kiri dari jalur itu dari arah Bangkinang banyak perumahan warga.

Diterangkan Syamsul, akibat tidak adanya ruang untuk kendaraan berputar, maka banyak warga yang terpaksa menuju rumahnya dengan melawan arus, dan hal itu sangat membahayakan pengendara karena kendaraan yang melintas di jalan Pekanbaru-Bangkinang ini dengan kecepatan tinggi.

"Pada jalur inilah kendaraan sering berpacu, karena jalurnya sepanjang 1,9 Km mempunyai dua arah yang berlainan. Sementara itu jalan yang belum diperlebar kendaraan yang lewat tidak kencang," ujar Syamsul, Rabu (12/10/2016).

Hal senada juga diungkapkan Zainal (32), bahwa jalur pembatas jalan di Km 20 itu sangat panjang dan tanpa ruang untuk kendaraan berputar. Dikatakannya, di jalur sebelah kiri arah ke Bangkinang, terdapat fasilitas umum yaitu SD 07 Rimbo Panjang. Saat orangtua mengantar atau menjemput anak sekolah terpaksa melawan arah karena tak ada ruang berputar kendaraan.

Dijelaskan Zainal, jalur pembatas yang tingginya sekitar 2 meter itu juga sering dijadikan warga, bahkan anak sekolah dan guru untuk melintas ke seberang jalan dengan cara memanjat pagar pembatas, dan hal itu sangat membahayakan karena kendaraan yang melintas di tempat itu berkecepatan tinggi.

"Hampir setiap hari warga, anak sekolah, bahkan guru ada yang memanjat pagar pembatas jalan untuk menyeberangi jalan," sela Zainal kecut.

Ditambahkan Zainal, sejak ada pembatas jalan sepanjang hampir 2 Km itu, sesuatu yang terjadi di kiri kanan jalan itu tidak diketahui warga diseberangnya, sehingga di sisi jalan arah ke Bangkinang, bahu jalan mulai ditumpuki sampah. Bahkan korban kecelakaan pun tidak dapat segera dibantu warga, karena adanya pagar pembatas.

"Kami berharap kepada Dinas terkait untuk dapat membuat ruang untuk kendaraan berputar, karena kami harus berputar dengan melawan arus, atau membuat jembatan penyeberangan," usulnya sambil tersenyum.

Penulis
: Nova Rinaldo
Editor
: Riki
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)