DATARIAU.COM - Kita sering marah melihat pemimpin yang zalim, korup, dan jauh dari keadilan. Reaksi pertama yang muncul biasanya adalah menuding, mencaci, bahkan menuntut penguasa diganti. Wajar memang. Tapi, Islam punya cara pandang yang lebih jujur dalam membaca realitas ini.
Islam tidak membela penguasa zalim. Tapi Islam mengajarkan sesuatu yang lebih dalam, bahwa kondisi pemimpin suatu kaum adalah cerminan dari kondisi kaum itu sendiri. Dan ini bukan sekadar filosofi atau pepatah bijak. Ini adalah sebab syar’i yang memiliki kedudukan dalam akidah seorang muslim.
Apa itu sebab syar’i?
Sebelum masuk ke intinya, perlu dipahami dulu apa yang dimaksud “sebab” dalam pandangan Islam. Secara istilah, para ulama ushul mendefinisikan sebab sebagai, “Sesuatu yang keberadaannya mengharuskan adanya akibat, dan ketiadaannya mengharuskan tiadanya akibat, dengan sendirinya.” [Al-Isnawi, Jamal ad-Din Abdurrahim. Nihayat as-Sul fi Syarh Minhaj al-Wushul, hal. 45.]
Yang penting dipahami, sebab tidak bekerja sendiri. Ia hanya perantara yang Allah jadikan penghubung antara suatu tindakan dengan hasilnya. Ibnu al-Qayyim rahimahullah menegaskan,
“Memperhatikan sebab dengan mengabaikan Penciptanya adalah syirk dalam tauhid. Meniadakan fungsi sebab adalah cacat dalam akal. Dan mengabaikan sebab sama sekali adalah pelanggaran terhadap syariat.” [Ibn al-Qayyim, Muhammad bin Abi Bakr. Madarij as-Salikin, 4: 522-533.]
Dua jenis sebab
Syekh Muhammad Hasan Abdul Ghaffar menyebutkan bahwa sebab terbagi dua, kauni dan syar’i. [Muhammad Hasan Abdul Ghaffar. Masa’il Khalafa fiha Rasulullah Ahl al-Jahiliyah, 8: 5.]
Pertama, sebab kauni
Sebab kauni adalah sebab yang Allah tetapkan dalam hukum alam. Api mememberi panas, air membasahi, hujan menumbuhkan tanaman, obat menyembuhkan penyakit. Sebab kauni adalah sebab-akibat yang dapat diindera dan dinalar secara langsung oleh akal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menempuh sebab kauni ini,
“Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya tidaklah Allah turunkan penyakit kecuali Ia turunkan pula obatnya.” [Hadis riwayat Abu Dawud no. 2015 dan 3855, at-Tirmidzi no. 2038, an-Nasa’i no. 7553, Ibnu Majah no. 3436, Ahmad no. 18454. Dinilai sahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 2789.]
Kedua, sebab syar’i
Sebab syar’i adalah sebab yang Allah tetapkan melalui wahyu, yaitu keterkaitan antara amal perbuatan manusia dengan akibat yang Allah timpakan atau karuniakan. Ia tidak bisa diindera, hanya bisa diketahui dan diyakini lewat wahyu. Dan karena bersumber dari kalam Allah, ia tidak pernah berubah,
“Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak akan mendapatkan penyimpangan bagi sunah Allah itu.” (QS. Fatir: 43)
Contoh sebab syar’i yang mudah dipahami, dosa menjadi sebab hilangnya nikmat, sedangkan syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat‘.” (QS. Ibrahim: 7)
Di antara sebab syar’i yang paling sering luput dari perhatian adalah keterkaitan antara kondisi rakyat dengan kondisi penguasa yang Allah berikan kepada mereka.
Bagaimana sikap muslim terhadap sebab syar’i yang tidak dia sukai?
Setidaknya, ketika dihadapkan akibat dari sebab syar`i yang tidak ia sukai (termasuk pemerintah yang buruk), ada dua hal yang perlu dihadirkan.
Pertama, jadikan sebagai bahan muhasabah
Ketika kondisi tidak menyenangkan, pertanyaan yang benar bukan “siapa yang salah?”; tapi: “apa yang ada pada diriku yang menjadi bagian dari penyebab ini?”
Allah Ta’ala berfirman, “Dan musibah apapun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. asy-Syura: 30)
Kedua, ambil sebab perbaikan yang sesuai syariat
Memahami sebab kerusakan bukan berarti pasrah. Justru ia mendorong kita untuk mengambil jalan yang Allah syariatkan, yaitu kembali kepada-Nya dan memperbaiki diri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, jalan keluar itu bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan.” [Hadis riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad no. 2803.]
Dalil-dalil: Penguasa adalah cerminan rakyatnya
Pertama, Allah tidak mengubah suatu kaum kecuali mereka mengubah diri sendiri. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar-Ra’d: 11)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah tidak akan mengubah nikmat dari seseorang, kecuali dengan sebab dosa yang ia perbuat.” [Ibn Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 4: 221.]
Perubahan kondisi suatu kaum, termasuk kondisi penguasa mereka, terikat langsung dengan perubahan yang terjadi pada diri kaum itu sendiri.
Kedua, Allah menjadikan penguasa zalim sebagai balasan atas kezaliman rakyatnya. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. al-An’am: 129)
Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, “Allah Maha Agung memberitahu bahwa sebagian dari mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, kemudian Dia menindaklanjuti pemberitahuan itu dengan memberitahu bahwa kepemimpinan sebagian mereka terhadap sebagian yang lain adalah karena Allah telah memberi mereka kekuasaan.” [Ath-Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, 9: 559.]
Penguasa zalim bukan musibah yang jatuh dari langit tanpa sebab. Ia adalah balasan dari apa yang diperbuat rakyat itu sendiri.
Ketiga, penguasa yang baik adalah janji Allah bagi kaum yang beriman dan beramal saleh. Allah berfirman, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (QS. an-Nur: 55)
Syekh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah telah menjanjikan kepada mereka dari umat ini yang tegak dengan iman dan amal saleh, bahwa Dia akan menjadikan mereka pengganti di bumi, yang mengelola dan mengatur urusannya.” [As-Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, hal. 573.]
Artinya, ketiadaan pemimpin yang saleh adalah tanda ketiadaan kesalehan di tengah mereka.
Keempat, pendapat para salaf tentang keadaan pemimpin merepresentasikan rakyatnya. Syekh Bin Baz dalam al-Fawa’id al-‘Ilmiyyah min ad-Durus al-Baziyyah mengutip perkataan para salaf, “Sebagaimana keadaan kalian, demikianlah pemimpin yang akan ditetapkan atas kalian.” [Ibn Baz dalam al-Fawa’id al-‘Ilmiyyah min ad-Durus al-Baziyyah, 5: 384.]
Hal ini juga didasari dan ditekankan oleh penjelasan al-Mulla Ali al-Qari ketika menerangkan hadis qudsi “ثُمَ?' أُوَفِ?'يكُم?' إِيَ?'اهَا” (kemudian, aku akan balas mereka atas itu),
“Allah telah memberikan kepada kalian balasan dari amal-amal kalian secara sempurna. Jika kebaikan, maka (dibalas) kebaikan; dan jika keburukan, maka (dibalas) keburukan.” [Al-Qari, Ali bin Sultan Muhammad. Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, 4: 1614.]
Lalu bagaimana bersikap terhadap penguasa zalim?
Memahami bahwa penguasa adalah cermin rakyat tidak berarti kita diam saja. Tapi, Islam juga tidak membenarkan kita bertindak sembarangan. Ada jalur yang sudah ditetapkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jihad yang paling utama adalah ucapan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” [Hadis riwayat Abu Dawud no. 4344, at-Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Dinilai sahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud no. 4344.]
Hadis ini sering dipahami sebagai pembenaran untuk berhadapan dengan penguasa secara terbuka di depan umum. Padahal, maksudnya lebih terukur dari itu. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang hukum menasihati pemimpin yang zalim, beliau menjawab, “Jika kamu takut ia membunuhmu, maka tidak harus. Jika tidak, jadikan nasihat itu hanya antara kamu dan dia.” [Az-Za’tari, Asad bin Fathi. al-Atsar al-Waridah ‘an as-Salaf fi al-‘Aqidah min Khilal Kutub al-Masa’il al-Marwiyyah ‘an al-Imam Ahmad, 2: 529.]
Nasihat disampaikan langsung kepada penguasa, bukan dikumandangkan kepada massa. Selain itu, Islam melarang tegas pemberontakan terhadap penguasa yang sah meskipun ia zalim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa melihat sesuatu yang tidak ia sukai dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar. Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jemaah sejengkal saja lalu mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah.” [Hadis riwayat al-Bukhari no. 7143, Muslim no. 1849.]
An-Nawawi rahimahullah menegaskan, “Para ulama sepakat tentang wajibnya menaati penguasa dalam selain kemaksiatan, bersabar atas kezalimannya, dan bahwa tidak boleh memberontak terhadapnya.” [Az-Zuhayri, Hasan Abu al-Asybal. Syarh Shahih Muslim, 20: 5.]
Ini bukan berarti Islam membenarkan kezaliman. Tapi, Islam paham bahwa mengganti penguasa tanpa memperbaiki rakyat hanya akan menghadirkan wajah baru dengan watak yang sama. Selama rakyat belum berubah, sunnatullah pun tidak akan berubah. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. al-A’raf: 96)
Kesimpulan
Kondisi penguasa yang Allah berikan kepada suatu kaum bukan kebetulan sejarah dan bukan semata-mata soal politik. Ia adalah sunnatullah yang berlaku atas dasar sebab syar’i, bahwa rakyat yang baik mendapat pemimpin yang baik, dan rakyat yang jauh dari ketaatan mendapat pemimpin yang mencerminkan kejauhan itu, secara umum dalam sunnatullah yang berlaku.
Maka ketika seorang muslim mengeluhkan kondisi penguasanya, tanyakan dulu kepada diri sendiri sebelum menuding ke luar.
Jalan keluarnya bukan turun ke jalan atau propaganda yang membakar emosi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menunjukkan akarnya,
“Sesungguhnya Allah tidak mengazab orang-orang umum karena perbuatan orang-orang khusus, hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka sementara mereka mampu mengingkarinya, namun tidak mengingkarinya. Apabila mereka melakukan itu, maka Allah akan mengazab yang khusus maupun yang umum.” [Ibn Abi Dunya, Abdullah bin Muhammad. al-Amr bi al-Ma’ruf wa an-Nahy ‘an al-Munkar, hal. 101, no. 14. Dinilai hasan lighairihi oleh Syu’aib al-Arna’ut dalam Takhrij Syarh as-Sunnah no. 4155.]
Akar persoalannya ada pada kita semua, maka solusinya juga dimulai dari sini: perbaiki diri, perbaiki keluarga, tegakkan amar ma’ruf nahi munkar di circle pertemanan yang kita mampu, dan bersabarlah di atas jalan itu. Itulah sebab yang Allah syariatkan untuk mendatangkan perubahan yang sesungguhnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.***
Sumber: muslim.or.id