Nabi Muhammad Buta Huruf Tidak Bisa Baca Tulis?

Ruslan
4.809 view
Nabi Muhammad Buta Huruf Tidak Bisa Baca Tulis?
Foto: Internet

Pertanyaan:

Apakah Benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Buta Huruf, Tidak Bisa Baca Tulis?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat banyak dalil yang menyebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Kita akan sebutkan beberapa diantaranya,

Pertama, firman Allah, ketika menyebutkan ciri-ciri Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الذِينَ يَتبِعُونَ الرسُولَ النبِي الأُمي الذِي يَجِدُونَهُ مَكتُوبًا عِندَهُم فِي التورَاةِ وَالإِنجِيلِ

Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul, sang nabi yang ummi, yang mereka jumpai keterangan tertulis dalam kitab taurat dan injil yang ada di tengah mereka. (QS. al-A’raf: 157).

Kedua, firman Allah, yang memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti nabi,

فَآَمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النبِي الأُمي الذِي يُؤمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتبِعُوهُ لَعَلكُم تَهتَدُونَ

Berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, sang nabi yang ummi, yang beliau beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah beliau agar kalian mendapat petunjuk. (QS. al-A’raf: 158).

Ketiga, firman Allah tentang nikmat adanya nabi di tengah orang Quraisy,

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah).” (QS. al-Jumu’ah: 2).

Keempat, Allah tegaskan bahwa Nabi-Nya tidak pernah membaca kitab apapun,

وَمَا كُنتَ تَتلُو مِن قَبلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارتَابَ المُبطِلُونَ

“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (QS. al-Ankabut: 48).

Imam Syaukani rahimahullah menyebutkan,


“Seandainya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mampu membaca dan menulis, tentu orang-orang akan berkata bahwa ajaran beliau hanyalah dari hasil membaca kitab-kitab Allah yang ada sebelumnya. Ketika disebut bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang ummi, yaitu tidak bisa membaca dan menulis, tentu tidak ada yang ragu lagi pada (ajaran) beliau (yaitu yang beliau bawa adalah wahyu ilahi, -pen). Sehingga yang mengingkari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam paling hanya karena kesombongan atau termakan syubhat.” (Fath Al-Qadir, 4: 273).

Dikutip dari situs kisahmuslim.com. Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad bin Abdullah mengalami mimpi yang menjadi nyata. Setelah beberapa kali mimpi, ia memiliki kebiasaan baru, menyendiri di Gua Hira. Di saat itulah ada yang menyerunya dengan perintah, “Iqra!” (bacalah!). Ia menjawab, “Aku tak bisa membaca”. Nabi ﷺ mengatakan, “Kemudian ia mendekapku, hingga aku merasa sesak. Barulah ia melepaskanku. Ia kembali memerintah, ‘Bacalah!’. ‘Aku tak bisa membaca’, jawabku. Ia mendekapku untuk yang kedua kali hingga aku merasa sesak. Lalu ia melepaskanku. Dan berkata, ‘Bacalah!’ ‘Aku tak bisa membaca’ jawabku. Ia pun mendekapku untuk kali ketiga. Kemudian melepaskanku dan mengatakan,

{اقرَأ بِاسمِ رَبكَ الذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإِنسَانَ مِن عَلَقٍ (2) اقرَأ وَرَبكَ الأَكرَمُ (3) الذِي عَلمَ بِالقَلَمِ (4) عَلمَ الإِنسَانَ مَا لَم يَعلَم} [العلق: 1-5]

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS:Al-‘Alaq | Ayat: 1-5). (Riwayat al-Bukhari Bab Kaifa Kana Bad’ul Wahyi Ila Rasululillah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Apa yang Dimaksud dengan Ummi?

Al-Qurthubi menyebutkan beberapa keterangan seputar makna Ummi,

قال ابن عباس: الاميون العرب كلهم، من كتب منهم ومن لم يكتب، لانهم لم يكونوا أهل كتاب. وقيل: الاميون الذين لا يكتبون. وكذلك كانت قريش. وروى منصور عن إبراهيم قال: الامي الذي يقرأ ولا يكتب

Ibnu Abbas mengatakan,

al-Ummi adalah semua orang arab, baik mereka yang bisa menulis maupun mereka yang tidak bisa menulis. Karena mereka bukan ahli kitab. Ada yang mengatakan, al-Ummiyun adalah mereka yang tidak bisa menulis, dan seperti itu kondisi orang Quraisy. Dan diriwayatkan oleh Manshur dari Ibrahim, beliau mengatakan, al-Ummi adalah orang yang bisa melafalkan tapi tidak bisa menulis. (Tafsir al-Qurthubi, 18/91-92).

Ibnu Abbas juga menjelaskan ayat di surat al-Ankabut,

كان نبيكم صلى الله عليه وسلم أميا لا يكتب ولا يقرأ ولا يحسب

Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang ummi, tidak menulis, membaca, dan tidak menghitung. Lalu Ibnu Abbas membaca firman Allah di surat al-Ankabut: 48. (Tafsir al-Qurthubi, 7/298).

Keterangan lain kami nukilkan dari ar-Raghib al-Ashbahani tentang makna ummi,

الأمي هو الذي لا يكتب و لا يقرأ من كتاب ، و عليه حمل قول تعالى : ( هو الذي بعث في الأميين رسولاً منهم …. )

Al-Ummi adalah orang yang tidak bisa menulis dan membaca. Dan itulah makna firman Allah di surat al-Jumuah ayat 2. (Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 28).

Dan inilah yang lebih sesuai dengan dzahir al-Quran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang ummi, dalam arti beliau bisa melafalkan kalimat, tapi tidak bisa menuliskannya. Karena beliau tidak tahu tulisan huruf. Dan kondisi tidak bisa membaca tulisan, sama sekali tidak menunjukkan bahwa beliau kecerdasannya rendah. Banyak tokoh hebat di tengah Quraisy, mereka tidak bisa membaca tulisan.Namun kecerdasan ketika itu diukur dari kedewasaan dan bijaksana dalam bersikap. Beliau bisa menyelesaikan kasus dengan baik, dewasa ketika menghadapi masalah, itulah orang ummi.

Apa Hikmah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Seorang yang Ummi?

Al-Mawardi menyebutkan, Jika ada orang yang bertanya, apa sisi kelebihan dengan Allah utus seorang nabi yang ummi,

فالجواب عنه من ثلاثة أوجه: أحدها: لموافقته ما تقدمت به بشارة الانبياء. الثاني: لمشاكلة حال لأحوالهم، فيكون أقرب إلى موافقتهم. الثالث: لينتفي عنه سوء الظن في تعليمه ما دعى إليه من الكتب التي قرأها والحكم التي تلاها.

Jawabannya, ada 3 alasan mengenai hal ini,

[1] Agar sesuai dengan informasi dan kabar gembira yang disampaikan para nabi sebelumnya tentang kehadiran beliau.


[2] Agar sesuai dengan keadaan orang arab, sehingga lebih dekat dengan kesamaan mereka


[3] Untuk menghilangkan su’udzan karena beliau dianggap telah mengajarkan kitab-kitab yang telah beliau baca sebelumnya. (Tafsir al-Qurthubi, 18/92).(*)

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com).


Artikel asli: konsultasisyariah.com

Editor
: Ruslan Efendi
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)