Jangan Dekati Perusak Agama

Admin
128 view
Jangan Dekati Perusak Agama

Jangan Dekati Perusak Agama

Bismillah,

Dalam bahasa agama kita, perusak agama sering disebut sebagai fitnah. Ada dua fitnah yang bisa merusak agama kita:

1. Fitnah syahwat

2. Fitnah syubhat.

Fitnah syubhat adalah yang bisa merusak akidah seorang. Yang dulunya cinta Sunnah dan tauhid, menjadi benci Sunnah dan tauhid, ini karena pengaruh fitnah syubhat.

Syubhat akan membuat seorang berada dalam lingkaran setan, sementara dia tidak sadar. Bahkan bisa sampai dia menyangka berada dalam kebenaran, padahal dia sedang tenggelam dalam kesesatan.

Fitnah inilah yang disinggung dalam firman Allah ta’ala,

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (QS. Muhammad: 14).

“Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah beralasan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya” (QS. Az-Zumar: 3)

Sebabnya apa?

Bermudah-mudahan dengan buku-buku dan ceramah-ceramah para penyebar kesesatan atau kebid’ahan.

Fitnah syahwat, adalah perbuatan-perbuatan maksiat. Melihat yang haram, berdusta, ghibah, menfitnah, dengki, mengadudomba, berjudi dan seluruh maksiat, sumbernya di syahwat.

Orang yang syahwat menjadi pemimpin di setiap gerak geriknya, akan susah untuk menyerap ilmu. Karena dosa-dosa akan mempergelap hati, sehingga hati menjadi temapat yang lusuh, kotor, tidak nyaman untuk ditinggali ilmu.

Allah Ta’ala berfirman,

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka” (QS. Al Muthaffifin: 14).

Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’” (HR. Tirmidzi).

Antara dua fitnah di atas, fitnah syubhat lebih besar pengaruhnya dalam merusak agama, daripada fitnah syahwat. Karena hati yang rusak oleh fitnah syubhat, akan susah bertaubat. Bahkan seringkali mengira berada di atas kebenaran.

Fitnah syahwat, seorang akan lebih mudah bertaubat dari fitnah syahwat. Karena hati nuraninya menyadarkan, bahwa yang dia lakukan adalah salah.

Iblis lebih semangat menyesatkan manusia melalui pintu syubhat daripada pintu syahwat. Karena kegelapan syubhat berpeluang lebih bisa langgeng mempergelap hati sampai dibawa mati, daripada kegelapan syahwat.

Saat kita dihadapkan oleh kedua fitnah di atas, sikap yang benar bukan menantang fitnah. Bukan petantang-petenteng penuh PD melawan fitnah. Sikap yang benar adalah, menjauh-sejauhnya. Karena dua hal inilah yang akan merusak agama seorang. Seorang yang bijaksana, akan menyadari betapa berharganya iman dan agama yang ada dalam jiwanya. Ia akan menjauhkannya dari segala hal yang dapat merusaknya. Seperti seorang yang menyadari berharganya emas, ia akan jauhkan dari segala yang bisa membuatnya rusak atau raib dari dirinya. Tak mungkin ada orang berakal menyimpan emas, di emperan rumah yang bisa diakses oleh siapapun. Karena ia tahu nilainya emas. Berbeda jika seorang menggap emas ini nilainya sama dengan tembaga.

Agama lebih berharga daripada emas. Bahkan harta yang paling berharga yang pernah dimiliki manusia. Emas hanya bisa membeli dunia. Sementara iman dan agama, adalah kunci untuk mendapatkan surga yang sangat nikmat.

Ibnul Jauzi rahimahullah menasehatkan,

“Siapa yang dekat dengan fitnah, maka ia akan jauh dari keselamatan. Siapa yang mengklaim dirinya akan sabar dengan fitnah itu, maka Allah akan bebankan klaimnya itu pada dirinya.” (A’dzabul Khowatir Mukhtasor Shoidul Khotir, hal. 13)

Beliau melanjutkan,

“Hati-hati terperdaya dengan tekad anda meninggalkan hawa nafsu. Namun Anda masih berdekat-dekat dengan fitnah. Karena hawa nafsu itu mempunyai banyak tipu muslihat.” (A’dzabul Khowatir Mukhtasor Shoidul Khotir, hal. 13 - 14)

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh : Ahmad Anshori
Artikel asli : Muslim.or.id

Punya rilis yang ingin dimuat di datariau.com? Kirim ke email datariau.redaksi@gmail.com