DATARIAU.COM - Kejujuran bak mutiara mahal yang semestinya diusahakan oleh setiap insan Mukmin dan Mukminah bagi diri mereka sendiri dan keluarga yang mereka sayangi. Ia merupakan salah satu bentuk karakter yang bersifat universal. Siapapun akan menyukai kejujuran dan membenarkan orang yang jujur serta mendudukan orang-orang yang suka berbuat dan berkata jujur.
Perintah Allah Untuk Jujur
Secara khusus pun, Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita semua, kaum Mukminin untuk berlaku dan bertutur jujur.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar". [At-Taubah/9:119].
Perintah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Untuk Jujur
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ. وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا
"Hendaklah kalian jujur. Karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan. Dan kebajikan akan mengantarkan menuju Surga. Tidaklah seseorang senantiasa jujur dan berusaha kuat untuk jujur kecuali akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang shiddiiq". (HR. Al-Bukhari no.6094 dan Muslim no.2607).
Dalam hadits mulia ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kejujuran itu akan mengantarkan kepada tujuan luhur dan orang shiddiq akan mendapatkan kedudukan. Adapun tujuan luhur dari kejujuran adalah kebajikan dan kebaikan, dan kemudian dilanjutkan menuju Surga. Sedangkan kedudukan orang yang jujur adalah shiddiqiyyah, sebuah kedudukan di bawah kedudukan nubuwwah (kenabian).
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
"Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisa/4:69]
Seorang Mukmin Tidak Pantas Berdusta
Seorang Mukmin tidak sepantasnya melakukan dusta dalam ucapannya. Hal ini dikarenakan dusta merupakan sifat yang melekat pada diri orang-orang munafiqin.
Allah Azza wa Jalla berfirman tentang mereka:
وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
"Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta. [Al-Munafiqun/63:1]
Orang Mukmin tidak berdusta karena ia mengimani ayat-ayat Allah dan beriman kepada Rasul-Nya. Ia mempercayai bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
"Sesungguhnya dusta itu akan menyeret kepada al-fujur. Dan sesungguhnya tindak kejahatan itu akan menyeret menuju Neraka. Dan tidaklah seseorang itu sering berdusta dan sengaja untuk berdusta hingga akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta". (HR. Al-Bukhari no.6094 dan Muslim no.2607).
Orang Jahiliyah Menghindari Dusta
Dahulu, orang-orang kafir dalam masa jahiliyah menjauhi dusta dan tidak menjadikannya sebagai karakter hidup mereka atau sebagai jalan meraih apa yang mereka inginkan. Lihatlah Abu Sufyan sebelum ia memeluk Islam, saat ia bersama rombongan dagang berada di Syam. Tatkala Heraklius mendengar keberadaan mereka di sana, ia pun mengutus seseorang agar mendatangkan Abu Sufyan ke hadapannya untuk ditanya tentang Muhammad bin 'Abdillah, orang yang mengaku sebagai nabi.
Saat itu, Abu Sufyan mengatakan, "Seandainya bukan karena malu, kalau orang-orang tahu aku berdusta, maka aku pastilah akan bicara bohong (tentang Muhammad)" (HR. Al-Bukhari no.7)
Maka, sangat memprihatinkan bila ada sebagian orang dari umat ini, sering melakukan dusta. Ini sebenarnya menjadi indikator keburukan. Bila seseorang sudah melakukannya sekali dua kali, maka akan mudah baginya untuk mengulang-ulangnya kembali, sehingga akhirnya menjadi kepribadian dan karakter baginya.
Kesalahan dan keburukan dusta akan lebih parah bila diiringi dengan mengambil hak orang lain, membela orang yang salah atau digunakan untuk mencoreng citra orang yang baik-baik.
Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa
Bentuk dusta lainnya yang terkadang tidak disadari sebagai bentuk kebohongan, seseorang mengada-adakan cerita lucu atau anekdot untuk membuat orang lain tertawa.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan orang seperti ini dalam sabdanya:
وَيْلٌ لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ. وَيْلٌ لَهُ ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ
"Celaka, bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Celaka baginya, celaka baginya". (HR ath-Tsalatsah. Isnadnya qawi).
Dusta Orang Tua Kepada Anak
Sebagian orang tua tergelincir dalam dusta di hadapan anak-anaknya, lantaran sekedar ingin menenangkan sang buah hati. Mereka janjikan ini itu kepada anak-anak, padahal tidak ada niat sekalipun untuk merealisasikannya. Sikap demikian ini, jelas sudah menjerumuskan orang tua ke dalam dusta dan meremehkannya. Maka, jangan salahkan siapa-siapa, bila anak secara tidak langsung telah dididik untuk berdusta.
Mari kita simak riwayat dari 'Abdullah bin 'Amir yang pernah dipanggil sang ibu. Sang ibu mengatakan, "Kesinilah, aku beri engkau (sesuatu)". Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apakah yang akan engkau berikan kepadanya?". Ia menjawab, "Kurma". Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَمَّا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا لَكُتِبَتْ عَلَيْكِ كَذِبَةً
"Jika engkau tidak akan memberinya sesuatu, maka akan tertulis satu kedustaan atas dirimu (HR. Abu Dawud dan Al-Baihaqi).