PEKANBARU, datariau.com - Program Selasa Tanpa Rokok yang telah diterapkan di Kota Bandung, dinilai bagus juga diterapkan di Kota Pekanbaru dan Riau secara umum yang tengah dilanda kabut asap.
"Program yang bisa kita contoh, karena memang rokok ini persoalan serius. Apalagi saat ini tengah ada bencana asap, semua masyarakat yang merokok harus tenggang rasa, jangan menambah asap," ungkap Anggota DPRD Kota Pekanbaru Dian Sukheri SIp, kepada datariau.com melalui selulernya, Selasa (6/10/2015).
Menurut Politisi PKS ini, merokok memang sudah menjadi senjata ampuh negara luar untuk menjajah Indonesia. Dimana saat ini, banyak ditemukan anak-anak yang masih usia sekolah sudah kecanduan rokok dan merokok terang-terangan di pinggir jalan saat masih menggunakan seragam sekolah.
"Ini sangat menjadi perhatian serius. Dampak dari rokok ini luar biasa, jika kecanduan maka akan hilang sifat saling tenggang rasa, hilang konsentrasi bekerja, dan banyak dampak buruk lainnya. Lihat saja di halte bus dan tempat umum, seorang perokok seenaknya menghembuskan asap rokok, padahal di sana banyak anak-anak dan ibu yang menggendong anak bayinya," ungkap Dian.
Tidak hanya di kalangan pelajar, para pejabat dan publik figur juga tidak jarang yang tidak dapat mengontrol diri saat sudah datang hasrat ingin merokoknya. Sehingga pekerjaan menjadi terganggu karena harus meluangkan waktu untuk merokok.
"Bahkan ruangan yang seharusnya tidak diperbolehkan merokok, banyak yang dilanggar dan akhirnya ruangan itu tetap berasap. Kita berharap agar semua pihak mendukung agar tidak merokok di sembarang tempat," ujarnya.
Dengan demikian, Dian berharap agar program Selasa Tanpa Rokok ini nantinya bisa diterapkan juga di Kota Pekanbaru atau Riau secara umumnya. "Mungkin Bandung membuat Selasa Tanpa Rokok, kita bisa buat Minggu Tanpa Rokok, satu minggu dalam sebulan dilarang ada rokok," sarannya.
Program Selasa Tanpa Rokok yang dijalankan oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil pada 2014 silam. Ridwan Kamil juga telah mendapat penghargaan dari Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) sebagai pemimpin muda yang berinovasi mengurangi program rokok di Kota Bandung.
Kamil dinilai mampu melindungi warga Bandung dari epidemi tembakau dengan mengusung hari "Selasa tanpa Rokok" dan melarang iklan rokok di Kota Bandung.
Mulai Januari 2014, Walikota Bandung menjadikan hari Selasa sebagai hari tanpa rokok. Ajakan tersebut awalnya disosialisasikan lewat media sosial. Hingga akhirnya menjadi imbauan bagi seluruh warga Bandung. Kini di jalanan Bandung terdapat spanduk pengingat "Selasa tanpa Rokok".
Walikota akan terus mensosialisasikan budaya Selasa tanpa merokok supaya bisa menjaga kesehatan warga Bandung, terutama anak-anak. Dia sering mengamati adanya anak-anak kecil pada Car Free Day (CFD) yang merokok.
Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo mengatakan bahwa fakta yang paling tragis adalah maraknya iklan, promosi, dan sponsor rokok yang menjaring anak untuk menjadi perokok pemula menggantikan perokok dewasa yang mulai sakit dan mati.
Komnas PT menghargai terobosan yang dilakukan oleh Ridwan Kamil dalam melindungi rakyat Bandung dari bahaya rokok. Komnas PT juga mengimbau para pemimpin daerah dan negara untuk mencontoh keteladanan walikota lulusan Institut Teknologi Bandung tersebut.
Beberapa bulan sebelumnya, penghargaan juga diberikan kepada Gubernur Bali I Made Mangku Pastika karena sudah menolak dan menggagalkan pameran rokok Jerman terbesar yang akan diadakan di Bali.
Komnas Pengendalian Tembakau juga pernah memberikan penghargaan kepada Ignasius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, karena menerapkan larangan merokok di dalam gerbong dan lingkungan stasiun kereta. (rik)