PEKANBARU, datariau.com - Libur kabut asap sudah terjadi berminggu-minggu di Pekanbaru. Pelajar pun terancam ketinggalan pelajaran. Komisi III punya tips jitu.
Kabut asap kiriman akibat dari pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di pulau Sumatera saat ini, membuat kondisi kota Pekanbaru dalam dua bulan terakhir ini menjadi tidak sehat. Dampaknya banyak sekolah yang meliburkan muridnya, dan meminta untuk mengurangi aktifitas di luar ruangan.
Saat ini juga, ada sejumlah sekolah yang sedang melaksanakan ujian tengah semester. Meski terlambat namun tetap dilaksanakan. Diliburkannya sekolah saat kondisi kabut asap mengalami kondisi ekstrim, dimaksud juga agar orang tua murid mengawasi anaknya untuk tidak bermain diluar, dan anak sekolah pun dititipkan PR.
Akibat dari seringnya sekolah di Pekanbaru libur, membuat anak-anak sekolah mengalami ketinggalan pelajaran. Dan dikhawatirkan saat ujian mengalami blank, kalau pun dijawab tidak sesuai dengan harapan.
"Untuk itu, saya minta pihak sekolah terus memaksimalkan program budaya membaca," imbau Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Fikri Wahyudi Hamdani, Rabu (21/10/2015).
Menurut Fikri, budaya membaca ini sangat penting bagi anak-anak sekolah, selain menambah pengetahuan, juga wawasan, lalu bisa juga mengurangi waktu bermain di luar ruangan.
"Apalagi saat ini dalam kondisi darurat pencemaran udara akibat karhutla, membaca juga sangat membantu anak-anak yang saat ini jam sekolahnya terpangkas oleh asap," jelas Politisi NasDem lulusan S1 ini.
Selain itu juga, Fikri menyebutkan dengan memaksimalkan membaca bisa juga mengurangi stress, yang diyakininya anak sekolah saat ini pasti stress dengan seringnya diliburkan. Dan juga membaca itu bisa memperbanyak kosakata.
"Yang jelas, membaca itu bisa melatih ketrampilan untuk berpikir dan menganalisa," tutur Fikri lagi.
Untuk bahan bacaan disarankan Fikri, yang harus disiapkan oleh pihak sekolah adalah buku-buku pelajaran, dan juga buku umum tentang pengetahuan. Bisa juga buku-buku soal sejarah kabupaten kota yang ada di Provinsi Riau dan lainya.
"Menurut saya, ini sangat perlu digalakkan lagi oleh pihak sekolah, lewat pustaka sekolah, dan juga peran orang tua di rumah," imbaunya.
Untuk gudang membaca di Pekanbaru ini, diarahkan Fikri bisa dilakukan di Pustaka Wilayah Riau Soeman HS, atau Pustaka Pekanbaru. "Sekarang saya melihatnya, anak-anak lebih suka menonton televisi, atau keluyuran dan kumpul-kumpul tanpa tujuan jelas dan hanya membuang-buang waktu saja hingga mengarah kepada perbuatan yang tidak sesuai dengan norma, maka ini perlu dicarikan solusi," pungkasnya. (atr)