PEKANBARU, datariau.com - Kenaikan harga BBM baru direncanakan, tapi harga komoditi di pasar-pasar sudah mulai meroket. Seperti harga komoditi cabai merah yang saat ini dikeluhkan banyak ibu rumah tangga, harga cabe tembus Rp90 ribu perkilonya.
Keluhan ini pun menjadi sorotan anggota DPRD Kota Pekanbaru Desi Susanti SSos. Kepada datariau.com, Jumat (7/11/2014), dia meminta supaya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru segera melakukan sidak ke pasar-pasar dan juga diminta untuk menstabilkan harga.
"Bagaimana bisa ya, BBM belum naik tapi harga sebagian komoditi sudah mahal. Pemerintah dalam hal kini Disperindag kami minta untuk sidak ke pasar-pasar menstabilkan harga," pinta Desi.
Keluhan ibu-ibu rumah tangga ini dirasakan oleh Politisi Demokrat Desi, apalagi jika ini dialami oleh masyarakat yang golongan rendah ke bawah yang penghasilannya berada di bawah UMK, tentu sangat berpengaruh besar.
"Ini tentu akan menambah penderitaan masyarakat kita yang berpenghasilan minim, pemerintah harus segera mencarikan solusinya agar setiap terjadi kenaikan BBM tidak begitu menjadi persoalan bagi masyarakat kota," ungkapnya.
Menurut Desi, berpengaruhnya setiap rencana kenaikan BBM ini terhadap komoniti, maupun sembako karena Pekanbaru terlalu bergantung kepada daerah luar pemasok komoniti sayur mayur, cabe, maupun lainnya, seperti dari Sumbar dan juga Sumut.
"Sebagai kota yang berkembang Pekanbaru jangan terus bergantung kepada daerah lain untuk pemenuhan kebutuhan seperti yang dikeluhkan masyarakat saat ini. Perlu ada terobosan untuk membuat sejumlah sentra pangan dengan merangkul semua stackholder," harapnya.
Dilanjutkannya, jika selama ini Pekanbaru masih mendatangkan cabe atau sayur-sayur dari daerah lain, bagaimana kedepan tidak lagi dan sudah harus bisa mandiri.
"Pekanbaru masih ada lahan yang bisa dijadikan sebagai sentra pertanian, perkebunan, dan juga perikanan dengan memaksimalkan daerah pinggiran kota. Ini harus dipersiapkan, selain harus melibatkan stack holder, mahasiswa di jurusan itu juga bisa dimanfaatkan," ungkapnya.
Ditambahkannya lagi, jika terus bergantung dengan daerah lain untuk pemenuhan kebutuhan itu, maka Pekanbaru akan selamanya seperti ini.
"Pekanbaru tidak akan bisa mengontrol harga, jika tidak bisa mandiri, yang kasihan siapa? ya masyarakat kita yang penghasilannya tidak mencukupi," jelasnya lagi.
Diyakini Desi, dari rencana kenaikan BBM ini dampaknya sangat luar biasa. "Pasti akan ada efek dominonya jika sudah ada rencana kenaikan BBM. Begitu juga jika Pemerintah Kota bisa menyiapkan lahan di pinggir sebagai setra pertanian dan lainnya, tentu akan berdampak baik bagi masyarakat, termasuk juga menjadi lapangan pekerjaan," tutupnya. (rik)