JAKARTA, datariau.com - Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan menyesalkan pemberian gelar sunan yang disematkan oleh GP Ansor untuk salah satu pasangan calon gubernur DKI yang Non-Muslim.
Gelar Sunan itu dinilai berlebihan karena mencampuradukkan ajaran dan simbol agama Islam dengan pasangan calon tertentu. Gelar tersebut diberikan oleh Ketua GP Ansor Yaquf Cholil Qoumas, karena menurut Yaquf, sosok tersebut telah merubah dunia hitam kelam menjadi warga beriman.
“Terlalu berlebihan, walau awalnya ingin bersikap empati, toleran, proporsional, kalau begitu hanya akan membuat kisruh Pilkada DKI,” kata Amirsyah seperti dikutip dari Republika, Kamis (13/4/2017) kemarin.
Amirsyah meminta masyarakat untuk lebih waspada dan hati-hati dalam menempatkan simbol agama. Dia juga mengharapkan bisa menempatkan hal sesuai dengan tempatnya. Sehingga kedepannya, akan terwujud sikap santun dan menghargai sesama umat beragama.
Amirsyah menegaskan, gelar sunan itu adalah gelar yang begitu mulia, dan tidak sembarangan orang bisa dapat gelar itu. “Saran saya, lebih baik tokoh agama Islam manapun menahan diri untuk tidak ikut larut dalam hiruk pikuk pilkada,” pungkasnya.
Sebelumnya, Ahok dapat julukan Sunan Kalijodo dari GP Ansor. GP Ansor menerima kedatangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama- Djarot Saeful Hidayat, di Kantor DPP GP Ansor, Jakarta Pusat, Jumat (7/4) lalu. Pada pertemuan itu Ketua GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas memberi julukan khusus untuk Ahok.
Yaqut memberikan julukan sunan kepada Ahok. "Karena hidupnya di Jakarta, beliau ini Sunan Kalijodo. Sunan Kalijodo itu telah mengubah masyarakat yang hitam kelam menjadi masyarakat beriman," kata Yaqut.
Yaqut mengacu pada kawasan Kalijodo yang dulu merupakan kawasan prostitusi dan perjudian ilegal di Jakarta. Kini kawasan Kalijodo sudah berubah menjadi ruang terbuka hijau dan RPTRA, bahkan jadi destinasi wisata.
Sebelum memberi sambutan, Yaqut juga sempat memanggil Ahok dengan nama lain. "Selamat datang Pak Basuki Nurul Qomar," kata Yaqut.
Basuki Nurul Qomar merupakan bahasa Arab dari Basuki Tjahaja Purnama. Ahok ternyata memahami sebutan itu. "Nurul Qomar-nya saja yang bahasa Arab. Basuki-nya enggak," kata Ahok.
Yaqut juga menyapa Djarot yang hadir dalam pertemuan itu. Yaqut mengatakan GP Ansor sudah mencari tahu track record Djarot selama di Blitar.
"Di Blitar sana beliau sahabat karib rois Suriah kita. Maka kalau kita jatuh cinta kepada Pak Djarot itu hal biasa," ujar Yaqut.
Pada kesempatan itu, Pengurus Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyatakan siap mendukung pasangan Cagub dan Cawagub nomor urut dua pada DKI Jakarta dalam upaya memenangi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 putaran kedua.