DATARIAU.COM - Mengacu pada data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik, didapatkan hasil bahwasannya produksi sampah utamanya sampah plastik di Indonesia mencapai 5,4 juta ton per tahunnya.
Dimana, jumlah tersebut bernilai sebesar 14% dari total produksi sampah secara keseluruhan di Indonesia per tahunnya. Sampah plastik sendiri membutuhkan waktu yang sangat lama agar bisa terurai secara alami, umumnya akan memakan waktu ratusan bahkan hingga ribuan tahun.
Melihat dari banyaknya sampah plastik di Indonesia tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Riau Desa Teluk Samak 2024 berinisiatif untuk melakukan sosialisasi mengenai pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick di SDN 3 Teluk Samak.
Sampah plastik tersebut nantinya akan diubah menjadi ecobrick digunakan untuk membuat banyak macam karya yang bernilai tinggi, seperti contohnya kursi, meja, gapura, pot bunga, dan lain-lain.
Sosialisasi ini dilakukan kepada Siswa/i SDN 3 Teluk Samak dengan tujuan agar menumbuhkan pemahaman akan bahayanya sampah plastik bagi lingkungan, menanamkan tingkah laku untuk membuang sampah pada tempatnya dan mensosialisasikan salah satu cara yang tepat untuk mengolah sampah-sampah plastik tersebut.
Kegiatan sosialisasi ini diadakan pada 22 Juli 2024 di SDN 3 Teluk Samak dengan melibatkan sepuluh orang anggota Mahasiswa Kukerta Universitas Riau Desa Teluk Samak.
Mereka adalah Rezky Ade Putra, Vilda Setiani, Pramita Sabrina, Yoseline Zebua, Mega Setiawati, Daffa Rifqi Arbiansyah, Naila Ika Andharini, Yusup, Pinkan Razita Harahap, dan Charlie Crisman Zega.
Kegiatan sosialisasi ini diawali dengan bertanya kepada Siswa/i mengenai pengetahuan mereka tentang apa yang mereka ketahui tentang sampah plastik.
Kemudian dilanjutkan dengan memberikan edukasi serta praktek langsung tentang bagaimana cara memanfaatkan sampah plastik tersebut menjadi ecobrick.
Siswa/i berpartisipasi langsung dalam kegiatan pembuatan ecobrick ini. Pada prakteknya, siswa/i secara langsung membuat ecobrick milik mereka pribadi dan memberinya pada mahasiswa Kukerta.
Siswa/i antusias dalam kegiatan sosialisasi dan pembuatan ecobrick ini, hal tersebut dapat dilihat dari kemauan mereka dalam membuat ecobrick pribadi yang nantinya dikumpulkan kepada mahasiswa Kukerta lalu akan dibuat menjadi gapura desa.
Dengan terlaksananya sosialisasi mengenai pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick tersebut, diharapkan nantinya Siswa/i SDN 3 Teluk Samak akan terbentuk karakter yang mampu menjaga lingkungan dari sampah plastik serta bisa mengolah sampah plastik tersebut menjadi suatu karya.
Kegiatan ini nantinya diakhiri dengan pembuatan gapura bertuliskan "TELUK SAMAK" yang mana gapura tersebut membutuhkan sejumlah 328 botol ecobrick.
Sebanyak 328 botol yang digunakan tersebut diperkirakan sudah mendaur ulang sampah plastik seberat puluhan kilogram, satu botol bekas aqua yang berisikan sampah plastik yang telah dipadatkan diperkirakan seberat 200 gram per botolnya.
Jumlah itu tentunya tidak sedikit dan tentunya dapat memberikan dampak negatif pada lingkungan di sekitar desa jika sampah tersebut dibuang begitu saja tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu.
Menurut Rezky Ade Putra selaku ketua kelompok Kukerta UNRI Desa Teluk Samak 2024 mengatakan ecobrick ini merupakan salah satu program kerja unggulan dari kelompok ini.
Dengan memanfaatkan ecobrick kelompok ini telah berhasil mengurangi sampah plastik di sekitar Desa Teluk Samak yang telah dikumpulkan sebanyak 328 botol dengan menggunakan sampah plastik sebanyak 200 gram per botolnya atau jika ditotalkan ke seluruhan botol yang telah didapatkan untuk membuat gapura Desa Teluk Samak seberat 65.6 kilogram sampah plastik yang telah terkumpulkan dan dapat dimanfaatkan menjadi gapura desa teluk samak.
Mega Setiawati selaku mahasiswa Universitas Riau dari jurusan teknik lingkungan juga menimpalkan harapan kedepannya, desa teluk samak dapat menjadi contoh untuk daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia agar mengedepankan pengelolaan sampah plastik dengan baik dan benar sehingga lingkungan di sekitar tidak tercemar dan dapat mengurangi sampah plastik yang berserakan sehingga total sampah plastik di Indonesia pertahunnya dapat menurun perlahan-lahan secara signifikan.***