DATARIAU.COM - Pertama kali di Indonesia, ada pembangunan tol menggunakan
bahan bambu sebagai sistem matras jalan tol. Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung, Direktorat
Bina Teknik Permukiman dan Perumahan, Direktorat Jenderal Cipta Karya
melaksanakan pengujian untuk mengukur kelayakan bahan bambu sebagai suatu
sistem matras guna meningkatkan daya dukung tanah dasar di lokasi konstruksi
Jalan Tol Semarang-Demak.
"Pengujian dilakukan untuk mempersiapkan
bahan bambu yang akan digunakan sebagai konstruksi matras untuk mempercepat
waktu konsolidasi pada tanah di lokasi konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak.
Perbaikan kondisi tanah (soil improvement) melalui konstruksi matras bambu
dilakukan karena konstruksi tanggul laut yang terintegrasi dengan jalan tol ini
akan dibangun di atas tanah dengan klasifikasi very soft soil," jelas
Kepala Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung Ferri Eka Putra dalam
keterangan tertulis, Senin (20/8/2021).
Pengujian yang dilakukan terdiri dari 2 jenis
yaitu uji tarik sistem matras bambu dan uji lentur sistem matras bambu dengan
tujuan untuk mengetahui perilaku dari bambu yang dirangkai menjadi kesatuan
sebagai matras jika mengalami gaya tarik dalam arah horizontal serta gaya tekan
pada arah tegak lurus.
Pengujian dilakukan sebagai bagian dari kegiatan
Full Scale Trial Embankment pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak yang merupakan
proyek Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah - D.I.
Yogyakarta, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR. Kegiatan ini
diprakarsai oleh PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak (PPSD) selaku Badan
Usaha Jalan Tol yang nantinya akan mengelola operasional dari Jalan Tol
Semarang-Demak dan didukung oleh PT Lapi ITB selaku perencana Rincian Teknik Akhir
Jalan Tol Semarang-Demak seksi 1.
Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak
terintegrasi dengan tanggul laut dimana struktur timbunan di atas laut
direncanakan diperkuat oleh matras bambu setebal 17 lapis. Selain sistem matras
bambu, penguatan kondisi tanah dilakukan juga dengan cara pemasangan material
pengalir vertikal pra-fabrikasi atau PVD serta melaksanakan pembebanan
menggunakan material pasir laut yang diambil menggunakan alat Trailing Suction
Hopping Dredger atau TSHD.
"Metode-metode tersebut tentunya diharapkan
tidak hanya akan memberikan konstruksi tanggul laut terintegrasi dengan jalan
tol yang efisien dari segi biaya, namun juga dapat menyediakan infrastruktur
yang handal dan berkesinambungan di masa yang akan datang," kata Kepala
BBPJN Jawa Tengah-D.I. Yogyakarta Satrio Sugeng Prayitno.
Tanggul laut terintegrasi dengan jalan tol ini
merupakan konstruksi yang baru pertama sekali dilaksanakan di Indonesia
sehingga hal ini pastinya akan menjadi tantangan tersendiri bagi Kementerian
PUPR dalam pelaksanaannya. Tantangan berat lainnya adalah pada proses pengadaan
tanah yang masih terbentur pada pelaksanaan penentuan tanah musnah dan regulasi
atau payung hukum yang belum terbit terkait penanganan dampak sosial atas tanah
musnah dalam rangka pembangunan untuk kepentingan umum.
"Dengan melaksanakan koordinasi intensif
dengan semua pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal, kami optimis
dapat mengatasi tantangan - tantangan tersebut sehingga Jalan Tol Semarang -
Demak dapat terwujud sesuai dengan kaidah-kaidah teknis dan aturan-aturan yang
berlaku," tutupnya. (*)
Source:
detik.com