Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak
terintegrasi dengan tanggul laut dimana struktur timbunan di atas laut
direncanakan diperkuat oleh matras bambu setebal 17 lapis. Selain sistem matras
bambu, penguatan kondisi tanah dilakukan juga dengan cara pemasangan material
pengalir vertikal pra-fabrikasi atau PVD serta melaksanakan pembebanan
menggunakan material pasir laut yang diambil menggunakan alat Trailing Suction
Hopping Dredger atau TSHD.
"Metode-metode tersebut tentunya diharapkan
tidak hanya akan memberikan konstruksi tanggul laut terintegrasi dengan jalan
tol yang efisien dari segi biaya, namun juga dapat menyediakan infrastruktur
yang handal dan berkesinambungan di masa yang akan datang," kata Kepala
BBPJN Jawa Tengah-D.I. Yogyakarta Satrio Sugeng Prayitno.
Tanggul laut terintegrasi dengan jalan tol ini
merupakan konstruksi yang baru pertama sekali dilaksanakan di Indonesia
sehingga hal ini pastinya akan menjadi tantangan tersendiri bagi Kementerian
PUPR dalam pelaksanaannya. Tantangan berat lainnya adalah pada proses pengadaan
tanah yang masih terbentur pada pelaksanaan penentuan tanah musnah dan regulasi
atau payung hukum yang belum terbit terkait penanganan dampak sosial atas tanah
musnah dalam rangka pembangunan untuk kepentingan umum.
"Dengan melaksanakan koordinasi intensif
dengan semua pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal, kami optimis
dapat mengatasi tantangan - tantangan tersebut sehingga Jalan Tol Semarang -
Demak dapat terwujud sesuai dengan kaidah-kaidah teknis dan aturan-aturan yang
berlaku," tutupnya. (*)
Source:
detik.com