Satgas Kaji Penggunaan Gelang Chip Monitor Orang Karantina

Ruslan
56 view
Satgas Kaji Penggunaan Gelang Chip Monitor Orang Karantina

DATARIAU.COM - Kepala Sub Bidang Tracing Satgas Penanganan COVID-19 Koesmedi Priharto berbicara kemungkinan adanya kebijakan baru untuk penanganan COVID-19.

Koesmedi mengungkap Satgas sedang mengkaji adanya penggunaan gelang yang mengandung chip untuk memonitor orang yang sedang melakukan karantina.

Hal itu karena pandemi telah berlangsung selama 2 tahun lebih, pihaknya terus memikirkan cara untuk mengatasi masalah karantina.

Sebab diketahui beberapa kali terjadi masalah karantina, seperti adanya orang yang kabur dari karantina.

"Tentunya kita harus mulai berpikir yang tepat ya. Setelah dua tahun lebih kita menjalani semuanya, bahwa wabah itu kan kuncinya menemukan kasus secepatnya dan melakukan karantina, mencegah penularan ke mana-mana. Nah, masalah karantina itu selalu menjadi masalah, apapun juga bentuknya ada di sana, bisa dari orangnya, bisa sanak saudaranya, bisa temannya, bisa keluarganya, semua menjadi masalah di tempat itu," kata Koesmedi dalam diskusi yang disiarkan di YouTube MNC Trijaya FM, Sabtu (15/1/2022).

Ia mengungkap saat ini sedang mencari informasi terkait kajian penggunaan gelang yang terdapat chip untuk memonitor orang yang dikarantina.

"Kita harus mulai mencari model, artinya model apa sih yang bisa kita lakukan supaya karantina itu bisa diterima dengan enak, kita pun petugas bisa memonitor semuanya dengan baik, ini yang harus kita ciptakan," kata Koesmedi.

"Kita pernah mencoba, dan ini sedang kita coba cari ya, apakah mungkin seorang yang dikarantina itu diberikan gelang kemudian kita bisa memonitor dengan chip yang ditaruh di sana. Orang ini ada di mana, posisinya seperti apa, itu kan kita bisa lihat karena teknologi sangat memungkinkan saat ini. Kita sedang mencari informasi ke teman-teman kita hal-hal tersebut," imbuhnya.

Sementara itu saat ini pemerintah juga telah menggunakan aplikasi Pedulilindungi. Namun kelemahannya, handphone bisa saja ditinggalkan dan tidak dibawa-bawa kemana pun.

"Kita juga akan mencoba bicara dengan Pedulilindungi. Kalau Pedulilindungi itu kan ditaruh di handphone, kan bisa ditinggal sama dia, kemudian dia pergi ke mana-mana, kita enggak bisa monitor dia. Berbeda Kalau chip dipasang di badan orang itu sendiri," ungkapnya.