Sontak kepanikan terjadi, karena dirinya tidak
pernah menduga akan terjadi peristiwa yang mengerikan itu.
"Kami semua panik lalu (para jenderal) dibuang semua
ke sumur ditembak dari atas. Kejadian itu sebentar kayak ngimpi,"
ungkap Ishak.
Setelah semua jenderal dibuang di dalam sumur,
pasukan membubarkan diri. Dia ditinggal dengan pasukan truk.
"Sampai ke Cakrabirawa saya dilucuti semua
dan dijebloskan ke penjara," tuturnya.
Dari peristiwa itu, dimulailah penderitaan Ishak.
Anggota Cakrabirawa berpangkat Sersan Mayor ditahan karena tuduhan terlibat
dalam operasi G30S/PKI.
"Pertama di Cipinang 14 hari, terus pindah ke
Salemba 13 tahun tanpa persidangan apa-apa, hanya sekali dimintai keterangan
sebagai saksi Untung," jelasnya.
Selama 13 tahun di dalam tahanan, peristiwa tidak
manusiawi sering kali dialaminya. Siksaan yang luar biasa dan kerap kali harus
menahan lapar adalah hal sehari-hari baginya.
"Sudahlah jangan diceritakan, nggak ada yang
enak lah. Kalau mukuli semaunya disuruh ngaku, lah saya nggak tahu anggota
partai apa-apa, makanan gak cukup," tuturnya.
Bahkan menurutnya, pernah selama empatbelas hari
Ishak dan teman-temannya hanya diberi makan jagung yang disebar di atas lantai.
Selain itu kondisi sel yang sempit membuat banyak rekannya mati tanpa sempat
menghirup kebebasan.
"Sel dua meter kali satu meter diisi empat
orang, harusnya di situ diisi 600 tapi nyatanya diisi 4.000 orang. Saya merasa
beruntung hanya karena Allah saya bisa bebas dengan selamat. Berbeda dengan
rekan-rekan yang lain berakhir tragis di dalam, Saya tahu-tahu tanggal 28 Juli
1977 dibebaskan," ungkapnya.
Setelah bebas, Ishak menjalani kehidupan yang
cukup sulit. Menjadi buruh tani dan menjadi tukang petik kelapa sempat
dilakoninya.
"Saya ini kan anak ustad, jadi
beruntung masyarakat tidak begitu memberi cap buruk karena saya juga sebelumnya
lulusan pesantren, jadi masyarakat banyak yang tidak percaya saya terlibat
dalam PKI," tutupnya. (*)
Source : detik.com