Cerita Pilu Bedjo Untung Penyintas Peristiwa 1965

835 view
Cerita Pilu Bedjo Untung Penyintas Peristiwa 1965
Gambar: Tribunnews.com
Bedjo Untung penyintas peristiwa 65.

DATARIAU.COM - Bedjo Untung merupakan ketua dari Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) tahun 1965. Saat peritiwa tahun 1965, ia tergabung dengan Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia yang usianya kala itu baru berusia 17 tahun.

Bedjo Untung mengingat dan menceritakan kembali peristiwa 1965 itu.

"Dari Pemalang saya dikejar-kejar, bersembunyi dalam pelarian dan akhirnya ditangkap lima tahun kemudian di Jakarta dan dibawa ke tempat interogasi Gunung Sahari," kenangnya.

"Saya mengalami kurang gizi dan kaki saya sampai bengkak. Saya ditelanjangi dengan hanya bersisa celana dalam, merasakan sengatan setrum yang dilakukan petugas interogasi, rasanya seperti mengalami pukulan bertubi-tubi, itu terjadi berkali-kali. Saya makan nasi tanpa lauk kadang bercampur pasir, paling nasinya hanya tiga sendok,? ungkapnya.

Bahkan ia mengaku pernah melihat beberapa orang bunuh diri akibat tidak kuat disiksa aparat. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1971 ia dibawa ke Penjara Salemba. Dua tahun kemudian, Bedjo Untung dipindahkan lagi ke tempat kamp kerja paksa di Tangerang, menjalani hukuman kerja paksa selama beberapa tahun. Di sini ia mengaku tidak mendapat cukup makan.

"Kadang nasi ditambah sayur bayam, atau sepotong tempe tanpa atau sedikit bumbu. Akhirnya saya sempat makan anak tikus, saya telan begitu saja, karena lapar dan butuh protein. Kami terpaksa makan ular, bekicot, bahkan pernah juga kucing, anjing, karena benar-benar kekurangan makan dan harus bertahan hidup. Total hukuman yang dijalani sembilan tahun, tanpa proses hukum yang jelas, hingga akhirnya tahun 1979 dibebaskan," tuturnya.

Perlu diketahui, pada tahun 1965 organisasi PKI beranggotakan tiga juta orang, dengan organisasi massa di bawahnya sekitar 26 juta.

"Kalau yang betul-betul dibunuh itu ada tiga juta orang, masih banyak yang masih hidup. Namun demikian, persoalannya, banyak para korban yang tidak berani muncul karena trauma berat. Saya hanya mengambil angka yang paling kecil saja, 10 ribu orang yang masih hidup, mungkin itu paling sedikit. Untuk angka tepatnya, ini adalah tugas negara untuk melakukan penelitian, YPKP tidak punya kemampuan untuk mendata seluruh Indonesia. Korban 65, tersebar di seluruh Indonesia," katanya.

Kini ia aktif di organisasi YPKP 65 yang ia ketuai dan sering melakukan penelitian korban-korban Tragedi 1965. Beberapa tahun belakangan ini ia juga aktif dalam Aksi Kamisan dan mendesak tanggung jawab pemerintah dalam menuntaskan kasus-kasus hak azasi manusia.

"Korban 65 yang masih hidup, saya bisa katakan paling sedikit ada 10 ribu orang. Asumsi saya, setiap kali saya datang di kota-kota cabang YPKP 65, itu berkumpul ratusan. Di Pemalang ada 200-an orang, di Pekalongan ada 200, di Pati lebih banyak lagi, ribuan. Tapi memang ada beberapa kota yang banyak korban yang tidak berani muncul," tuturnya.

Sering bertemu dengan penyintas 65 lainnya yang masih hidup, Bedjo mengatakan rata-rata usia mereka di atas 70 sampai 80 tahun.

"Mereka hidup dalam kesulitan ekonomi dan kesehatan yang sangat memprihatinkan. Saya selalu mengatakan bahwa hingga 10 tahun yang akan datang, bisa kami katakan korban 65 bisa habis, karena sudah usia sepuh. Umumnya, mereka hanya hidup menggantungkan diri dari anak cucunya yang juga hidupnya seadanya," tandasnya.

Oleh sebab itu, saat ini menurutnya merupakan waktu yang paling tepat bagi pemerintah untuk melakukan pemulihan dan rehabilitasi terhadap korban 65. (*)

Source: dw.com

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)