Pada malam itu muslim mendengar suara adzan dari salah satu korban yang menurutnya adalah suara Khalifah wah imam Sofyan dari pesantren Kebonsari. Kejadian itu juga disaksikan Ahmad Idris tokoh Masyumi di desa cigrok yang menyaksikan penjagalan PKI dari kejauhan.
Berbeda dengan biasanya pembantaian di sumur cigrok tidak menggunakan senpi atau klewang. Namun menggunakan pentungan. Idris mengatakan tawanan dengan kondisi tangan terikat dihadapkan ke arah timur sumur dan kemudian dihantamkan dengan pentungan di bagian belakang kepala yang kemudian dimasukkan ke lubang cigrok.
Korban yang dimasukkan ke lubang cigrok sebagian besar masih ada yang hidup, namun kekejaman PKI lubang tersebut langsung ditimbun dengan jerami dan bebatuan dan paling sedikit memakan korban berjumlah 22 orang.
Pada 24 September 1948 bertepatan pada malam Jumat Kliwon menjadi hari bersejarah bagi kampung Kauman. seluruh warga laki-laki Kauman ditawan dan kemudian digiring ke masopati dalam keadaan tangan terikat dari tali bambu.
Parto Mendoyo seorang pengusaha mebel makanan di masa itu menjadi saksi mata dan sempat dijadikan tawanan.
Parto menyebut pada senin legi 20 September 1948 tiba-tiba datang sebuah truk yang berisikan orang-orang PKI yang berteriak mencari pembunuh salah satu orangnya.
"Dua di atas truk memang ada mayat yang dibungkus kain dan hanya kelihatan kakinya saja," ungkap Parto.
Ia menceritakan ini adalah akal-akalan PKI yang ingin menjebak lawan-lawan yang menghalangi pemberontakan mereka.
Dari Maospati seluruh tawanan dimasukkan ke dalam gudang pabrik rokok, kemudian diangkut dengan lori milik pabrik gula ke kawasan Glodok.
?Dari glodok kami dipindahkan ke Geneng dan Keniten. Tetapi sebelum disembelih, kami berhasil diselamatkan oleh tentara Siliwangi,? ujar Parto Mandojo tentang peristiwa mencekam itu.
Pembakaran Kampung Kauman pada dasarnya merupakan bagian dari aksi PKI untuk memberangus pengaruh agama Islam di tengah masyarakat. Sebab, sebelum aksi pembakaran itu, Madrasah Pesantren Takeran juga telah dibakar, beberapa saat setelah Kiai Imam Mursjid tertawan.
Pesantren Burikan pun tak luput dari serbuan PKI. Kemudian para tokoh-tokoh pesantren seperti Kiai Kenang, Kiai Malik, dan Muljono dibantai di Batokan. Korban lain dari kalangan ulama yang dibantai oleh PKI adalah keluarga Pesantren Kebonsari, Madiun.
Di Pondok Pesantren Gontor, PKI juga menyebarkan terornya, Seperti dituturkan oleh Kafrawi, saksi hidup yang diwawancarai Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU), yang saat kejadian, masih jadi santri di Pesantren Gontor, Ponorogo. Ketika itu pesantren Gontor dikuasai dan diancam oleh PKI.
Banyak orang PKI berpakaian hitam-hitam datang ke Gontor, lalu mengancam.
?Kalau tidak mau menyerah, kita akan habiskan besok dan akan kita duduki,? katanya.
Berbagai peristiwa biadab tersebut, sebetulnya menjelaskan bahwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, sangat tidak bisa diampuni,Jika hanya tidak suka agamanya mengapa mereka membantai para kiai dan santrinya yang tak bersalah. (mar)