DATARIAU.COM
- Pagelaran Seni Ritus Parahyangan yang bisa
dimaknakan sebagai cara para penghayat kepercayaan dalam mengungkapkan terima
kasih pada alam semesta atas pemberian keberkahan yang melimpah ruah.
"Masyarakat penghayat itu sangat erat dengan
ritus. Mengungkapkan terima kasih kepada alam semesta bagi masyarakat penghayat
itu kan diungkapkan dengan seni dan ritual," ungkap ketua panitia
Pagelaran Seni Ritus Parahyangan, Asep Setia Puja Negara kepada detikcom.
Ada juga pagelaran seni Rengkong, Tarawangsa,
Sintren, Pencaksilat, dan kesenian sunda lainnya. Tak dinyana, suguhan itu
ternyata menghibur penonton yang hadir lantaran pagelaran seperti itu sangat
jarang digelar.
"Dengan acara ini harapannya masyarakat awam
bisa sedikit terbuka dan memahami bahwa ritus itu tidak identik dengan klenik
atau dengan hal mistis. Ini ungkapan persembahan pada karuhun dan leluhur kita
semua," ujar Asep yang juga menjabat Wakil Ketua Organisasi Penghayat
Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Budidaya.
Pagelaran itu juga menjadi ajang memproklamirkan
jika kehidupan sehari-hari masyarakat penghayat kepercayaan sangat erat dengan
kearifan lokal.
"Maka sudah jadi kewajiban generasi muda
untuk melestarikan budaya sunda khususnya kami sebagai orang sunda dan penghayat
kepercayaan leluhur dan karuhun," terang Asep.
Degradasi Nilai Budaya Sunda dalam Diri Generasi
Muda
Pagelaran Seni Ritus Parahyangan yang baru pertama
kali digelar ini banyak melibatkan generasi muda. Alasannya tentu karena
keprihatinan terjadi degradasi nilai kesenian tradisional khususnya budaya
sunda yang dimiliki generasi muda saat ini.
Misalnya banyak generasi muda yang sangat awam
dengan tari tradisional sunda, kesenian tarawangsa, sintren, angklung buncis,
dan bentuk kesenian lainnya. Tak bisa dinafikan lagi, hal itu bakal mengikis
nilai bangga budaya sesepuh pada generasi muda.
"Prihatin bahwa generasi sekarang awam dengan
budaya sunda. Padahal yang di Jawa Barat, dia lahir sebagai suku sunda tapi
tidak mengerti kesenian apalagi budaya sunda. Mereka lebih tertarik dan
mengenal budaya asing. Mungkin ini jadi PR kita semua untuk kembali memahami
jati diri sunda," ucap Asep.
Asep menyebut dari sudut pandang penghayat
kepercayaan, esensi dari hidup yakni menjalani apa yang sudah menjadi kodratnya.
Seseorang yang lahir di tanah pasundan, perlu memahami kodratnya sebagai suku
sunda.
"Sunda itu punya budaya, sunda itu punya
adat, sunda itu punya bahasa. Bagi penghayat itu salah satu kodrati yang harus
dijalankan sebagai orang yang lahir di tanah sunda. Esensinya hidup itu kan
menjalani apa yang menjadi kodratnya. Dan menyikapi generasi muda yang tak
paham kodratnya sebagai suku sunda, itu jadi tanggungjawab semua," jelas
Asep.
Baginya, perlu peran pemerintah juga untuk bisa
membantu memupuk rasa memiliki budaya sunda pada diri generasi muda. Meskipun
sudah terasa, namun bisa dibilang masih jauh dari cukup.
"Sudah ada dan terasa tapi belum cukup. Hanya
saja ada kemajuan dari pemerintah yang sebelumnya," ujar Asep. (*)
Source : detik.com