PEKANBARU, datariau.com - Menghindari isu negatif akan adanya tabligh akbar yang akan diisi oleh Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Felix Siauw dengan agenda Deklarasi #2019gantipresiden di Riau yang digelar di tanggal yang sama yaitu 26 Agustus 2018 nanti, Gerakan Masyarakat Menuntut Keadilan (GMMK) gelar klarifikasi di Masjid Raya An-Nur Pekanbaru, Jum'at (17/8/2018). Turut hadir staf Masjid Raya An-Nur, Panitia Deklarasi #2019gantipresiden dan sebagainya.
Dalam penjelasannya, Ketua GMMK Riau Yana Mulyana mengatakan GMMK memang ditunjuk sebagai panitia tabligh akbar ustad Abdul Somad dan Felix Siauw yang digelar di Masjid An-nur 26 Agustus 2018 mendatang. Namun menurutnya gelaran ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan gekaran Deklarasi #2019gantipresiden diwaktu yang sama.
"Antara tabligh akbar dan deklarasi tidak ada kait-terkait. Hanya waktu saja yang bersamaan. Jadi, tidak ada pengumpulan masa melalui tabligh akbar untuk hadir di deklarasi #2019gantipresiden. Namun, kita tidak bisa melarang bagi jamaah yang hadir dalam tabligh akbar kemudian hadir dalam deklarasi," bebernya.
Tambahnya, Yana juga menekankan bahwa isu yang beredar di masyarakat bahwa gelaran tabligh akbar sebagai generalisasi persiapan deklarasi tidak benar. Sebab, dua kegiatan ini merupakan kegiatan yang berbeda.
"Kita lebih fokus pada acara tabligh akbar, tapi kita tidak membatasi bagi jama'ah bahkan anggota GMMK yang ingin hadir di acara deklarasi #2019gantipresiden. Namun, itu merupakan personal atau keinginan pribadi tudak berasal dari GMMK ataupun panita tabligh akbar," sebutnya.
Terang Yana, gelaran tabligh akbar ini adalah murni kajian pendidikan tidak ada sama sekali unsur politik praktis. Untuk itu, Ia menghimbau jika jamaah ingin hadir tidak ada persyaratan khusus bahkan ini juga terbuka untuk umum. Di tanggal 26 Agustus 2018, jamaah bisa hadir pukul 08.00 WIB hingga sebelum Zuhur.
Sementara itu, Khalid mewakili Panitia Deklarasi #2019gantipresiden membenarkan bahwa gelaran deklarsi memang tidak bermaksud mendompleng kegiatan tabligh akbar. Hanya saja, tanggalnya bersamaan saja. "Kita juga tidak pernah berencana melaksanakan di Masjid An-nur. Sebab, agenda kita di jalan Diponegoro Pekanbaru," katanya.
Terkait tanggal, sebelumnya Panitia Deklarasi telah bermusyawarah bersama dan mengahsilkan beberapa tanggal. Yakni tanggal 12, 19 dan 26 agustus 2018. Dari tiga tanggal tersebut terpilih tanggal 26 yang mana secara tidak sengaja justru bersamaan dengan kegiatan tabligh akbar.
Menanggapi isu tersebut, Ketua BKMR An-Nur Qomar Karim menambahkan dari pihak Masjid Raya An-Nur sendiri juga tidak ada kaitannya dengan agenda deklarasi #2019gantipreaiden. Namun untuk tabligh akbar pihaknya menjadi fasilitas ustad dam juga jamaah. "Kita mengikuti peraturan pemerintah. Dimana ada tiga peraturan yang kita jaga di masjid ini. Yakni masjid ini berfungsi sebagai pusat kegiatan jamaah agama dan dakwah, kemudian sebagai pusat kegiatan para ustad serta sebagai jembatan pertemuan berbagai pihak khsusnya dalam keagamaan," terangnya.
Dikatakan Qomar, pihaknya juga tidak akan menginzinkan jika masjid An-nur di jadikan sebagai pusat kegiatan yang berbau politik praktis, partai, bahkan juga pemasangan umbul-umbul yang berbau hak tersebut.
Terkait agenda Deklarasi #2019gantipresiden, Ia menjelaslan bahwa panitia dan Masjid An-Nur tidak saling terkait. Jadi, sifatnya personal. Namun pihaknya juga tidak pula membatasi jamaah yang datang ke masjid kemudian ikut dalam gelaran deklarasi tersebut. "Kita memiliki ketentuan yang berlaku. Untuk itu kita tidak pernah izinkan jika masjid An-nur dijadikan sebagai titik kumpul peserta aksi dan melakukan long march ke jalan Diponegoro nantinya. Namun jika jamaah datang untuk beribadah kemudian ikut dalam aksi tersebut kita tidak ada hak untuk melarang," pungkasnya.