Kisah Buaya Besar Tabrak Kapal TNI Hingga Pecah di Teluk Kabung Sungai Mandau Siak

Hermansyah
3.642 view
Kisah Buaya Besar Tabrak Kapal TNI Hingga Pecah di Teluk Kabung Sungai Mandau Siak
Ilustrasi.

SIAK, datariau.com - Pada tanggal 21 Maret 1946 hingga 17 Oktober 1946, di Bagan Siapi-Api terjadi pergolakan antara penduduk Pribumi dengan masyarakat Tionghoa. Dimana peristiwa pergolakan ini terjadi kala itu Jepang kalah perang dengan Sekutu. 

Tionghoa Kuo Min Tang merasa mereka ikut menang. Sebab, mereka bagian dari Sekutu dan mereka (Tionghoa) menganggap bahwa merekalah yang berhak memerintah Indonesia saat itu, dan akhirnya mereka mengibarkan bendera Kuo Min Tang. 

Sementara itu, Pemuda Pribumi yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) tidak senang dan menurunkan bendera Tionghoa Kuo Min Tang.

Walaupun sudah ada perundingan sebelumnya antara Wedana M Yatim dan Kapitan Tionghoa, eksiden kerusuhan tetap terjadi dengan korban yang cukup banyak di kedua belah pihak. 

Kapitan Tionghoa Lu Cim Puh akhirnya terbunuh pada peristiwa itu, hingga orang Tionghoa dari Pulau Halang semakin mengganas di Bagan Siapi-Api saat itu. Perang antara Pribumi dan Tionghoa Kuo Min Tang semakin menjadi, kota Bagan Siapi-Api semakin mencekam. 

Camat Bagan Datuk Zainal Abidin dan Letnan Mustafa tertembak, kemudian di ungsikan ke Labuhan Bilik dan wafat beberapa hari sesudahnya di Labuhan Bilik. Rakyat Bagan dan beberapa pejabat yang tidak mau terjebak pada kerusuhan itu banyak yang mengungsi. 

Selanjutnya, mereka mengungsi ke Mandau melalui Tanah Putih, Balai Makam dan Balai Pungut. Di Balai Pungut dibuatlah sebuah barak penampungan. Pengungsi letih, setelah berjalan kaki melalui hutan-hutan menuju Mandau (Kabupaten Siak).

Diantara para pengungsi di Balai Pungut saat itu terdiri dari Tengku Abdul Aziz Klerk Bengkalis, Abdul Wahid Klerk Bagan, istri Camat Datuk Zainal Abidin yang membawa anaknya saat itu masih kecil-kecil yang bernama Rehan, Junah, Mahadar, Asmah, Faridah dan Zulkifli.

Setelah terjadi perdamaian antara Pribumi Indonesia dengan Tionghoa di Bagan Siapi-Api pada tanggal 17 Oktober 1946 para pengungsi yang berada di Balai Pungut Mandau saat itu kembali dijemput menggunakan kapal TNI dari Pekanbaru melalui Kuala Mandau . 

Pada saat akan memasuki Sungai Mandau dari Sungai Siak para TNI melihat seekor Buaya besar tepat di Kuala Mandau. Mereka pun menembakinya, akan tetapi Buaya itu tidak mati. Kapal TNI terus melaju melakukan penjemputan ke Balai Pungut di Hulu sungai Mandau. 

Setelah pengungsi dinaikkan ke kapal TNI di Balai Pungut kapal kembali keluar menghiliri sungai Mandau. Sempat singgah di Muara Kelantan untuk melaporkan kegiatan kepada Camat Sei Mandau dan kemudian berangkat kembali. 

Bertugas sebagai Camat Sei Mandau kala itu adalah almarhum OK M Jamil. Namun, na'as ketika mulai melanjutkan perjalanan disekitaran Kampung Teluk Kabung kapal TNI yang sarat dengan pengungsi seperti ditabrak sesuatu dari dalam air, kemudian akhirnya pecah dan tenggelam. Selain itu juga terdapat korban jiwa. 

Banyak korban yang tenggelam saat itu tidak ditemukan jasadnya ketika itu. Beberapa korban yang meninggal dan kemudian dimakamkan tepat di Kampung Teluk Kabung Sungai Mandau Kabupaten Siak.

Editor
: Redaksi
Sumber
: Buku Harian OK M Jamil