Ini Pidato Politik AHY Singgung Soal Pemecah Belah Bangsa

datariau.com
608 view
Ini Pidato Politik AHY Singgung Soal Pemecah Belah Bangsa
Foto: Okezone.com
DATARIAU.COM - Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pidato politiknya menyoroti berbagai hal penyebab pemecah belah bangsa. Salah satunya, ambang batas partai politik (parpol) atau gabungan parpol mencalonkan calon presiden-calon wakil presiden sebesar 20 persen.

Hal itu menurut dia, karena ambang batas 20 persen dukungan parlemen atau 25 persen suara nasional untuk mengusung capres-cawapres membatasi pilihan masyarakat atas calon pemimpin nasionalnya.


"Itulah mengapa Partai Demokrat tampil ke depan untuk mengoreksi batasan presidential threshold yang berpotensi membelah bangsa karena terbatasnya pilihan calon pemimpin kita," kata AHY dalam pidato politiknya di Djakarta Theater, Jakarta seperti dikutip dari Antaranews.com, Jumat (1/3/2019) malam.

Dia menegaskan, partai juga bertekad untuk serius mencegah terbelahnya persatuan dan kesatuan bangsa. Demokrat menurut dia, sebagai 'Partai Tengah' dengan landasan ideologi nasionalis-religius siap menjadi benteng tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

"Kondisi terbelahnya bangsa, tentu bukan tanpa sebab. Karenanya, kami juga menyoroti pertarungan dua capres yang sama pada tahun 2014 dan 2019," ujarnya.

Dalam kaitan itu, AHY mencermati perkembangan sosial politik yang sedang terjadi karena perhelatan demokrasi ini oleh kalangan-kalangan tertentu dijadikan sebagai ajang memaksakan keyakinan dan pilihan politiknya.

Menurut AHY, dampaknya muncul fanatisme berlebihan yang pada akhirnya justru kontra-produktif dengan tujuan memajukan bangsa dan negara itu sendiri. "Sayangnya, karena perbedaan pandangan dan pilihan politik, tak ayal, seringkali kita berdebat kusir, membela pilihannya masing-masing secara subyektif dan membabi-buta. Kita tidak lagi mau mendengar dan melihat secara jernih dan jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi," katanya.

Dia mengatakan, lebih parah lagi, karena perbedaan pandangan politik kita sering keluar dari akal sehat misalnya kawan-kawan kita atau justru kita sendiri keluar grup whatsapp karena jengkel, seolah-olah kawan-kawan kita tidak lagi sejalan.

Sebab itu, ia menyayangkan karena kehidupan politik dan demokrasi, yang susah payah dibangun sejak krisis 1998 dan hasilnya kian nyata, namun saat ini terasa mundur kembali.

"Saat Partai Demokrat berada di pemerintahan, atau ketika menjadi 'the ruling party', sesungguhnya kami bersyukur karena demokrasi, termasuk pemilu kita makin matang dan makin berkualitas," ujarnya.

Putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menambahkan, ketika Demokrat memimpin, stabilitas politik terjaga baik dan kalau ada riak dan dinamika, hal itu memang menjadi bagian dari demokrasi dan kebebasan itu sendiri. Ketika pemilu, menurutnya, tidak muncul ketegangan yang berlebihan antarkelompok pendukung, golongan, apalagi antaridentitas (SARA).

"Perbedaan pandangan dan pilihan politik tidak dibawa ke level pribadi atau personal. Kalau pun ada, jumlahnya relatif kecil dan tidak menjadi keprihatinan nasional," katanya.

Pesta demokrasi seharusnya disambut dengan riang gembira, bukan dengan kebencian dan hati yang susah, karena putusnya silaturahmi akibat perbedaan pandangan dan pilihan politik. (*)
Editor
: Redaksi
Sumber
: Okezone.com
Tag:AhyPidato
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)