Ustadz Yahya Waloni Memperoleh Kematian yang Indah: Sedang Khutbah Shalat Jumat di Hari Idul Adha

datariau.com
717 view
Ustadz Yahya Waloni Memperoleh Kematian yang Indah: Sedang Khutbah Shalat Jumat di Hari Idul Adha

DATARIAU.COM - Sungguh kondisi kembali yang sangat indah diterima oleh Ustadz Yahya Waloni. Mantan pendeta yang kemudian mualaf serta menjadi ustadz itu, meninggal dunia di usia 55 tahun, saat menyampaikan khutbah Shalat Jumat di Masjid Darul Falah, Jalan Aroepala, Minasa Upa, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Jumat (6/6/2025) siang.

Tanda-tanda husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik) terkumpul padanya, yaitu meninggal di hari Jum'at dan sedang melakukan amal shalih yakni sedang khutbah, menyampaikan syiar Islam dan menyebut kalimat tauhid Laa ilaaha illallah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Allah akan menjaganya dari fitnah kubur”

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah hanya karena mengharap wajah Allah, maka ia akan diwafatkan dengan (mengucapkan) kalimat tersebut, ia akan masuk surga”.

Ustadz yang saat khutbah Jum'at itu tiba-tiba terduduk di atas mimbar hingga tak sadarkan diri saat menyampaikan khutbah kedua. Peristiwa itu sempat membuat prosesi Shalat Jumat tertunda. Ustadz Yahya segera dilarikan ke Rumah Sakit Bahagia di Minasa Upa, yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi masjid.

Wafatnya ustadz mengejutkan masyarakat, terlebih karena terjadi di tengah suasana perayaan Idul Adha. Ustadz kelahiran di Manado Sulawesi Utara pada 30 November 1970 ini merupakan seorang mantan pendeta. Ustadz magister theologia ini sudah dijadwalkan panitia masjid sebagai khatib Jumat sejak pekan lalu.

Pagi harinya ia memberi khutbah Idul Adha di sebuah masjid di pusat Kota Makassar. Seperti biasa, ia selalu didampingi istrinya bernama Sitti Mutmainnah (34) setiap kali mengisi ceramah di luar kota. Hari itu mereka menginap di Hotel Prima Jalan Dr SAM Ratulangi, Makassar, sekitar 9,7 km dari Masjid Darul Falah.

Yahya Waloni dibesarkan dalam lingkungan keluarga Kristen yang taat. Sebelum menjadi pendakwah Islam, ia sempat meniti karier sebagai pendeta dan akademisi. Kehidupannya berubah drastis pada Oktober 2006 ketika ia dan istrinya memutuskan memeluk Islam. Sejak itu, ia mengganti namanya menjadi Muhammad Yahya Waloni dan mulai meniti jalan sebagai dai.

Perjalanan hijrahnya yang dramatis menarik perhatian banyak kalangan, terutama karena ia kerap menceritakan latar belakang agamanya secara terbuka dalam ceramah-ceramahnya. Yahya dikenal sebagai “singa podium” karena gaya ceramahnya yang lantang, emosional, dan sering kali menyerempet isu-isu sensitif, baik terkait antaragama maupun kritik terhadap pemerintah.

Popularitasnya di media sosial melonjak seiring dengan banyaknya video ceramahnya yang viral. Namun, bersama popularitas itu, datang pula gelombang kritik. Pada Januari 2022, Ustaz Yahya dijatuhi hukuman lima bulan penjara dan denda Rp50 juta oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena kasus ujaran kebencian yang bernuansa SARA. Vonis itu menjadi titik balik bagi Yahya, yang kemudian menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada publik.

Meski demikian, gaya ceramahnya tetap tidak berubah banyak. Ia tetap tampil vokal, bahkan dikenal sebagai salah satu pendakwah yang berani mengkritik kebijakan pemerintah maupun tokoh-tokoh publik.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)