Dihamili Dua Pegawai Kampus, Bocah SD Butuh Biaya Persalinan

Ruslan
905 view
Dihamili Dua Pegawai Kampus, Bocah SD Butuh Biaya Persalinan
Ilustrasi (Foto: Int)

PEKANBARU, datariau.com - Hingga kini, kasus dugaan pemerkosaan anak dibawah umur oleh dua orang pegawai rektorat salah satu universitas swasta terkemuka di Riau, masih berlanjut.  Satu pelaku mendadak terkena serangan jantung, satu pelaku lainnya masih dalam pengejaran pihak kepolisian.

Lantas bagaimana kondisi korban SH (14) saat ini? Ternyata kondisi siswi kelas IV sekolah dasar tersebut sangat memprihatinkan. Waktu yang semesti dihabiskannya untuk bermain dan melanjutkan pendidikan, kini SH harus menyibukkan diri untuk merawat janin yang sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan.

Sementara upaya untuk mendapatkan keadilan, SH didampingi oleh Lembaga Bantuan Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR). Tidak hanya pada proses hukum, SH yang berasal dari keluarga tidak mampu juga masih didampingi oleh lembaga tersebut untuk keperluan persalinannya.

Seperti yang disampaikan Ketua LBP2AR, Rosmaini, kondisi anak dan kandungannya saat ini tengah baik. Namun demikian untuk bersalinnya nanti, diperkirakan akan dilakukan operasi sesar. 

"Seperti yang pernah terjadi di Kampar, untuk anak SD yang ingin melahirkan biasanya harus operasi karena dikhawatirkan sulit juga harus normal," ujarnya kepada CAKAPLAH.COM, Rabu (5/9/2018).

Untuk biaya operasi sendiri, kata Rosmaini, keluarga kesulitan untuk memenuhinya karena memang SH berasal dari keluarga yang kurang mampu. 

"Jadi kita berencana akan menggunakan uang pribadi. Karena di lembaga sendiri belum ada anggaran dan donatur tetap," sebutnya.

 

Rosmaini juga mengatakan bahwa untuk kondisi kejiwaan korban, saat ini juga sudah baik. Ia hanya meminta agar pelaku yang telah melecehkannya agar segera ditangkap.

"Untuk saat ini salah satu pelaku masih belum dapat, sedangkan yang satunya lagi sudah dapat namun penahannya ditangguhkan karena pelaku terkena serangan jantung," tutup Rosmaini. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya SH (14), bocah malang yang merupakan anak pemulung diketahui telah berkali-kali mengalami pelecehan seksual oleh dua orang oknum Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Riau hingga dirinya mengandung.

Ada dua pelaku pemerkosaan terhadap bocah SD tersebut. Satu orang sudah ditangkap dan kini dirawat di rumah sakit karena terkena serangan jantung. Sedang rekannya melarikan diri.

Perbuatan pelaku terungkap ketika tetangga korban curiga  melihat perut korban yang membesar. Hal itu dilaporkan kepada orang tua korban, apalagi diketahui korban sering terlihat mual saat makan.

Orang tua korban lalu mempertanyakan hal itu kepada anaknya tapi korban hanya diam. Khawatir suatu hak tak diinginkan terjadi, korban lalu dibawa ke Puskesmas untuk diperiksa.

Bagai petir di siang hari, orang tua korban kaget ketika mengetahui kalau anaknya sedang hamil. "Hasil pemeriksaan, anak saya hamil 5 bulan," kata Nur warga Kecamatan Tenayan Raya.

Namun korban masih tak mau  menceritakan siapa orang yang telah menghamilinya. Dia selalu diam ketika ditanya tetang kejadian yang menimpanya hingga kekuarga yang hidup pas-pasan ini hanya bisa pasrah menerima kenyataan.

Menurut Nur, saat peristiwa terjadi korban masih duduk di bangku kelas V SD. Dia diketahui hamil ketika duduk di kelas VI SD harusnya saat ini korban sudah duduk di bangkai kelas I SMP.

"Anak saya hamil saat kelas lima mau naik ke kelas enam. Sewaktu mau masuk kelas enam, perutnya sudah besar, jadi sejak naik kelas tak masuk sekolah lagi," beber Nur.

Dalam kepasrahan, akhirnya Nur bertemu dengan Lembaga Bantuan Perlindungan Perempuan dan Anak Riau (LBP2AR), Rosmaini. Dia  menceritakan kondisi korban.

Rosmaini pun tergerak untuk menemui korban. Setelah dibujuk, akhirnya korban menceritakan kisah nahas yang dialaminya. Sambil berurai air mata, korban mengatakan bahwa dia telah digilir oleh dua orang pria.

"Jadi kita laporkan dua staf kampus itu ke Polresta Pekanbaru. Kita buat dua laporan untuk dua pelaku. Mereka antara bawahan dan atasan yang bekerja di kampus swasta di Pekanbaru ini," jelas Rosmaini.

Laporan pertama diterima polisi pada 13 Juli 2018. Pelaku yang dilaporkan adalah inisial US usianya diperkirakan 60 tahun. Kemudian, laporan kedua dilayangkan pada 7 Agustus 2018 dengan dugaan pelaku inisial RP berusia diperkirakan 55 tahun.

Setelah membuat laporan, korban sudah divisum sebanyak dua kali di RS Bhayangkara Polda Riau. Itu sebagai alat bukti untuk kasus yang telah menimpa korban.

Rosmaini menyebutkan, korban mengaku bergantian melayani kedua pelaku dengan terpaksa. Sebab, korban selalu diancam jika tak menuruti kehendak kedua pelaku.

Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: cakaplah.com
Tag: