PEKANBARU, datariau.com - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Riau terus dilakukan sebagai salah satu upaya menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Hingga saat ini, sebanyak 26.000 kilogram atau 26 ton natrium klorida (NaCl) atau garam telah disemai ke awan menggunakan pesawat Cessna.
OMC di Riau kini telah memasuki hari ke-21. Penyemaian garam dilakukan dengan menyasar awan yang berpotensi menghasilkan hujan, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan dan rawan terjadi karhutla.
Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan Jim Gafur mengatakan, pelaksanaan OMC telah memberikan dampak positif. Sejumlah daerah yang sebelumnya mengalami kekeringan telah diguyur hujan.
"OMC di Riau sudah memasuki hari ke-21. Sejumlah daerah yang dilanda kekeringan sudah diguyur hujan," kata Jim, Kamis (20/8/2026).
Baca juga:Diselimuti Kabut Asap, Pemkab Pelalawan Minta Bantuan 18 Ribu Masker dan Oksigen ke Pemprov Riau
Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Riau, pada Rabu (19/8/2026) telah dilakukan sebanyak 26 sorti penyemaian garam. Dari kegiatan tersebut, hujan buatan turun di sejumlah wilayah Riau.
Beberapa daerah yang mendapatkan guyuran hujan di antaranya Kabupaten Pelalawan, Bengkalis, Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hilir, dan Kabupaten Kuantan Singingi.
Menurut Jim, OMC akan terus diupayakan untuk mengurangi dampak kekeringan yang menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya karhutla. Upaya tersebut dinilai penting, khususnya untuk membasahi kawasan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.
"OMC ini tidak dapat dilakukan serta-merta, tergantung kondisi awannya. Tapi hujan buatan terus diupayakan, tak hanya bertujuan untuk memadamkan karhutla, tapi juga membasahi lahan agar kawasan yang mudah terbakar bisa diminimalisir," ungkapnya.
Baca juga:Munawar Syahputra Prihatin Pekanbaru Kembali Terdampak Kabut Asap, Minta Penanganan Karhutla Diperkuat
Pelaksanaan OMC menjadi salah satu strategi penanganan karhutla dari sisi pencegahan dan penanganan dampak kekeringan. Dengan meningkatnya kelembapan lahan, potensi kebakaran di kawasan rawan, terutama gambut, diharapkan dapat ditekan.
Selain mengandalkan OMC, penanggulangan karhutla di Riau juga dimaksimalkan melalui operasi udara menggunakan helikopter. Saat ini terdapat enam helikopter yang disiagakan di Riau untuk mendukung penanganan karhutla.
Dari enam helikopter tersebut, satu unit digunakan untuk kegiatan patroli guna memantau kondisi titik rawan maupun lokasi kebakaran. Sementara lima helikopter lainnya dikerahkan untuk melakukan water bombing.
Baca juga:Kualitas Udara Pekanbaru Masuk Kategori Tidak Sehat, DPRD Imbau Warga Waspada Kabut Asap
Operasi pemadaman dari udara tersebut dilakukan untuk membantu tim di darat yang terus berupaya memadamkan titik-titik kebakaran. Penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan personel dari berbagai instansi.
Tim gabungan yang terlibat antara lain TNI, Polri, BPBD, serta Manggala Agni. Mereka terus melakukan pemadaman dan pendinginan di lokasi kebakaran guna mencegah api kembali menyala dan meluas ke kawasan lainnya.
Dengan kombinasi OMC, patroli udara, water bombing, serta pemadaman oleh tim darat, pemerintah berharap kondisi lahan di sejumlah wilayah Riau dapat kembali lebih basah sehingga potensi meluasnya karhutla dapat ditekan.***