DATARIAU.COM - Bentangan samudera di atas awan memanjakan mata, membuat mulut terus bertasbih mengagungkan nama Sang Pencipta. Segala lelah yang menggelayut di pundak seketika hilang. Kerja keras antara raga dan jiwa melawan segala kekhawatiran, segala keraguan, segala ketakutan, terbayar dengan panorama alam yang memeluk kami dengan ramah, seolah berkata (Selamat datang di puncak Marapi )
Gunung Marapi (juga dikenal sebagai Merapi atau Berapi) adalah gunung berapi yang terletak di Sumatera Barat, Indonesia. Gunung ini tergolong gunung yang paling aktif di Sumatera. Terletak di kawasan Koto Baru, kabupaten Agam. Gunung ini dapat juga dilihat dari kota Bukittinggi, kota Padangpanjang dan kabupaten Tanah Datar. Gunung yang masih aktif ini berdiri kokoh dengan ketinggian 2.891 mdpl dan berhadapan langsung dengan gunung Singgalang.
Rencana untuk mendaki dimulai sejak bulan Oktober lalu. Bermula dari pembimbing komunitas kami memasang foto mendaki di akun sosial media miliknya. Hal tersebut membuat kami berinisiatif untuk mengajak beliau mendaki dan beliau setuju. Akhirnya perencanaan demi perencanaan pun mulai disusun walaupun sempat berbenturan dengan tugas kuliah sehingga tidak terlalu matang.
Setelah banyak pertimbangan, kami pun memutuskan berangkat tanggal 23 November 2018. Hal tersebut juga setelah beberapa kali mengalami kemunduran. Sangat disayangkan, karena musim hujan dan pembimbing kami memang sedang sibuk, sehingga beliau tidak bisa ikut. Akhirnya kami berangkat dengan jumlah 13 orang menuju Marapi Sumbar, 6 orang perempuan dan 7 orang laki-laki.
Tanpa banyak persiapan (seadanya) bahkan ada beberapa orang yang tidak mengantongi izin dari orang tua, kami berangkat. Tepat pukul 20.30 WIB bus mini yang kami tumpangi melaju, membawa tekad dan ambisi kami menuju tanah yang biasa disebut (Ranah Minang). Malam itu langit Pekanbaru mengeluarkan rintik-rintik air, lengkap dengan awan kelabunya, menjadi pengiring perjalanan kami meninggalkan Riau.
Di perjalanan tidak banyak terdengar suara, hampir dari awal perjalanan kami memutuskan untuk tidur. Hanya suara lantunan lagu minang yang sayup terdengar menjadi teman perjalanan kami. Sesekali juga terdengar suara derit rem mobil, yang membuat kami terjaga sebentar untuk kemudian tidur lagi.
Sekitar jam 00.15 WIB dini hari, bus mini yang kami tumpangi berhenti untuk makan. Kami pun memutuskan keluar untuk menghilangkan penat. Ada yang ke toilet, ada yang duduk di dekat mobil dan ada yang asik dengan gadgetnya. Setelah hampir 20 menit istirahat, perajalanan pun kembali dilanjutkan.
"Bangun... bangun.. sudah sampai" Suara tersebut membuat kami mau tak mau membuka mata dengan malas.
Pukul 04.05 WIB kami sampai di Koto Baru, Sumbar, kami turun di pinggir jalan raya. Semua peralatan di turunkan dan kami melakukan re-packing ulang untuk merapikan barang-barang yang belum masuk ke tas carrier. Suasana dingin menusuk badan kami yang terbiasa dengan suhu panas Riau. Sesekali terdengar suara gemeletuk disertai dengan uapan.
Dini hari itu, Koto Baru begitu sunyi, hanya sesekali dipecahkan dengan suara kendaaran yang menderu, kadang juga terlihat pengendara yang lalu lalang sambil memabawa tas carrier seperti kami. Tapi suasana begitu bersahabat, tidak ada setetes air pun yang turun dari langit seperti saat kami meninggalkan Riau.
Setelah selesai re packing barang, kami memutuskan untuk langsung berangkat ke pos satu. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Langkah kami disambut oleh langit cerah Ranah Minang, bulan membulat sempurna, bintang gemintang memenuhi langit, membuat suasana dini hari itu tidak terlalu gelap, sehingga kami bisa melihat kokohnya Singgalang di hadapan kami, juga lampu-lampu kota yang bersinar dengan anggunnya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit, kami sampai di pos satu. Aroma dan suasana gunung mulai terasa di tempat ini. Hal tersebut dapat dilihat dari para pendaki yang duduk di warung-warung, tas-tas carrier, dan kendaraan-kendaraan para pendaki yang diletakan di sebuah tanah luas berpagar besi.
Karena sudah memasuki waktu Subuh, kami pun segera memutuskan untuk shalat. Setelah shalat kami langsung menyelesaikan biaya admisnistrasi di pos regestrasi dengan melakukan pembayaran sebesar 10.000 per kepala. Jam 06.15 WIB kami berangkat. Sebelum melangkahkan kaki, kami berdo'a terlebih dahulu. Untuk beberapa menit suasana menjadi hening, hanya hati dan mulut yang bekerja mengucapkan segala harapan-harapan baik dalam perjalanan kami nantinya.
Selanjutnya, kami langsung menggerakan kaki dan menayunkan tangan meninggalkan pos satu. Dari pos satu, pandangan mata langsung disambut oleh pemandangan pagi Ranah Minang yang sungguh elok. Singgalang yang berdiri dengan anggunnya, panorama kota yang diselubungi awan, serta hamparan ladang-ladang milik warga sekitar kaki Gunung Marapi yang tumbuh subur di kiri dan kanan jalan.
Setelah melewati selama 30 menit pendakian, sampailah kami di Pasanggrahan, sebuah tempat datar yang cukup luas dan mampu menampung banyak tenda. Pasanggrahan juga sebagai tanda perbatasan antara lahan warga dengan hutan. Meski sedang musim hujan, Pasanggarahan tetap dipenuhi oleh berbagai tenda warna-warni. Kami istirahat sejenak di sana sambil mengambil beberapa foto.
Lepas dari Pesanggrahan kami mulai memasuki rimba. Sekitar pukul 07.20 WIB kami istirahat di dekat jembatan bambu untuk sarapan. Suasanan hutan, disertai canda tawa dan sesekali terdengar suara serangga hutan yang saling bersahutan, membuat sarapan sederhana pagi itu begitu hangat.
Setelah selesai sarapan kami langsung melanjutkan perjalanan, dan kami harus menyeberangi jembatan bambu yang licin. Beruntung laki-laki dari rombongan kami dibantu oleh dua orang pedagang di gunung Marapi memperbaiki jembatan terlebih dahulu, agar aman untuk dilewati. Setelah melewati jembatan bambu kami mulai memasuki hutan bambu yang lebat dan kemudian beralih menjadi hutan rimba.
Jalur pendakian mulai menanjak secara konstan, kami menjadikan kayu dan akar sebagai pegangan untuk dapat melewati tanjakan-tanjakan di jalur tersebut.
"Paaaak, Buuuuk" Sesekali terdengar sapaan tersebut ketika berpapasan dengan para pendaki lain di perjalanan. Sapaan yang kemudian membuat keterasingan menjadi begitu bersahabat, senyum ramah dan sesekali canda ria membungkus segala kekakuan.
Perjalanan masih terus berlanjut meski nafas mulai tersengal-tersengal. "Break" atau "Berhenti dulu" Kata-kata tersebut acap kali terdengar sebagai penanda bahwa tubuh kami butuh istirahat sejenak. Hal tersebut juga sesuai dengan intruksi dari pemandu, bahwasannya ketika letih tidak boleh ditahan karena gengsi atau takut membebani temannya.
Ketika watu menunjukan 13.00 WIB kami pun memutuskan berhenti dan shalat Zuhur. Sebagian yang menjalankan shalat langsung shalat berjamaah. Suara takbir dan suara serangga seperti berpadu, membuat suasana menjadi begitu syahdu, belum lagi desir angin yang menyapa lembut dedaunan sehingga sesekali terdengar gesekan-gesekan daun, membuat sempurna suasana syahdu siang itu.
Setelah shalat kami langsung melangkahkan kaki untuk kembali mendaki.
"Kita harus segera sampai agar bisa melihat sunset. " Kata pemandu rombongan yang membuat kami kembali semangat meski letih menggalayut di badan. Demi memacu semangat sesekali seorang teman berteriak
Meski medan perjalanan semakin sulit dan nafas terengah-engah, namun canda tawa tidak pernah lepas dari kami.
Di pertengahan jalan, suasana tiba-tiba diselimuti kabut, langit pun mulai kelihatan kelabu. Perlahan-lahan rintik hujan mulai menyapa tubuh kami yang begitu kelelahan. Menyadari hal tersebut, kami pun segera memakain mantel.
Ambisi untuk mendapatkan sunset pun mulai sirna, terlebih ada beberapa teman yang kondisi fisiknya mulai melemah sehingga perjalanan dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru. Tapi tidak ada yang menegeluh kecewa, kami saling membantu, kami saling menunggu, kami saling memberi semangat. Saat itu perjalanan yang kami lalui bukan lagi perjalanan ambisi, tapi perjalanan hati.
"Dua belokan lagi " Teriak pemandu untuk yang kesekian kalinya, walaupun kami sudah melewati hampir puluhan belokan. Kata pamandu hal tersebut sebagai suggesti bagi tubuh kita untuk tetap semangat. Karena perjalanan ini tidak hanya butuh kekuatan fisik tetapi juga spirit psikis.
Setelah melewati jalan yang begitu terjal, kami mulai menemui batu-batu gunung yang begitu besar dan pepohonan yang mulai berkurang. Hal ini menandakan bahwa kami hampir mencapai cadas. Namun hal itu tidak menandakan bahwa medan yang kami lalui akan lebih baik, bahkan kami harus melewati jalur kecil yang hanya bisa muat untuk satu kaki dan diapit oleh dinding-dinding batu, orang menyebutnya (Jalan Tikus)
Sekitar pukul 17.00 WIB kami sampai di pintu angin, dari sini mulai terlihat panorama kota Sumbar yang masih diselimuti awan kelabu. Kami memutuskan beristirahat dan shalat Ashar. Sementra pemandu jalan duluan untuk mencari tempat pendirian tenda karena diperkirakan cuaca akan turun hujan dan badai. Setelah shalat dan mengisi perut dengan cemilan, kami melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari pintu angin, kami menemukan pemandu sedang mendirikan tenda.
Selepas tenda didirikan, diikuti dengan langit yang mulai mengelam, kami pun memutuskan untuk shalat Magrib bergantian. Saat itulah romantisme alam dan sang pencipta bekerja, awan gelap mulai membuka senja di ujung singgalang secara perlahan-lahan, diikuti dengan awan yang menutupi panorama kota. Langit yang semula kelabu mulai menunjukan senyum ramahnya dengan cahaya bulan puranama dan kerlap kerlip bintang gemintang. Kota Sumbar yang dibalut dengan warna-warni cahaya lampu pun mulai terlihat jelas. Maka tidak ada kata yang mampu terucap, selain gumaman pujian pada Sang Pencipta "Masya Allah? Masya Allah? Masya Allah"
Setelah langit malam menutup senja dengan temaram, kami pun makan bersama, di tengah keindahan malam, suasana gunung yang sejuk dan serangga-serangga malam yang bersahut-sahutan. Santapan malam yang sempurna.
Karena badan yang sangat letih, setalah sahalat Isya kami langsung memutuskan untuk tidur, mengingat juga medan perjalanan menuju puncak yang akan kami tempuh besok sangat sulit.
Sayup-sayup terdengar suara derap langkah yang berjalan di dekat tenda kami dan didukung dengan dingin yang begitu menggigit hingga ke tulang-tulang, membuat kami harus membuka mata. Jam menunjukan pukul 04.30 WIB, kami pun bergegas siap-siap untuk shalat Subuh. dingin yang begitu erat memeluk kami, membuat terdengar suara gemelutuk di mulut. Namun tak membuat kami lupa akan kewajiban menjalankan sholat 5 waktu.
Sekitar pukul 05.30 WIB kami berangkat menuju puncak, harapannya adalah kami dapat melihat surise. Medan yang kami lalui menuju puncak, berupa batuan dan kerikil bercampur pasir vulkanik dengan kondisi jalur yang cukup terjal dan licin. Langkah kaki kami benar-benar harus hati-hati dalam melangkah. Agar mempermudah langkah, kami pun berjalan dengan pola zig-zag mengikuti jalur sampai akhirnya kami tiba di Tugu Abel. Menurut cerita, tugu ini dibangun untuk mengenang pendaki bernama Abel Tasman (1992) yang tewas saat berada di gunung Marapi. Lokasi tugu Abel berada di dataran luas dan terbuka dan merupakan kawah mati. Karena kondisi jalan yang sulit dengan kondisi fisik yang sudah sangat letih, kami tidak bisa mengejar sunrise. Sekitar pukul 06.30 WIB kami baru sampai ke tugu Abel. Walaupun kami tidak mendapatkan sunrise namun panorama alam yang indah dengan awan-awan lembut yang membingkai kota Sumbar sudah lebih dari cukup untuk mengatakan (Luar biasa).
Dari tugu Abel, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Merpati (sebagai pertanda puncak Marapi) yang memakan waktu sekitar 15 menit. Angin kencang dan kabut yang sesekali muncul turut serta menyertai perjalanan kami. Kami melintasi kawah mati mengikuti jalur yang cukup landai dengan vegetasi masih bebatuan kerikil dan pasir vulkanik sampai akhirnya tiba di depan kawah aktif yang cukup besar. Dari sini kami berjalan ke kanan melipir tebing jurang kawah dan sedikit kembali menanjak, dan akhirnya
"Kami di Puncak Marapi..."
Segala letih dan penat hilang seketika, yang terucap hanya syukur dan rasa takjub yang tak terkira, akhirnya kami bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat apabila hanya berjalan di tempat yang datar. Kepuasan, keindahan, kesyukuran bersatu padu menjadi cerita yang akan kami bawa pulang nantinya.
"Hari itu kami berpijak di bumi, tapi dekat sekali dengan langit" (Mengutip kalimat film 5 CM)