Oleh: Nidia Mindiyarti

Peran Generasi Kiwari dalam Memajukan Ekonomi Digital Indonesia

datariau.com
1.202 view
Peran Generasi Kiwari dalam Memajukan Ekonomi Digital Indonesia
Foto: Ist.
Nidia Mindiyarti
DATARIAU.COM - Generasi kiwari atau yang lebih dikenal dengan generasi millennial adalah remaja yang lahir antara tahun 1980 sampai tahun 2000 pada era internet dimana segala sesuatu bisa dengan mudah diperoleh. Mereka merupakan generasi melek teknologi yang memanfaatkan media internet untuk memperoleh informasi. Generasi kiwari merupakan generasi terbesar yang ada di Indonesia. Pada Februari 2018, Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan, Indonesia memiliki penduduk usia muda yang besar yaitu sekitar 90 juta millennial.[1]

Besarnya jumlah generasi kiwari yang ada di Indonesia, yaitu lebih dari setengah penduduk Indonesia, menjadi peluang yang besar dalam perkembangan ekonomi digital di Indonesia.[2]  Ekonomi digital (digital economy) merupakan aktivitas ekonomi dan bisnis yang berbasis pada teknologi digital, internet dan web. Ekonomi digital ditandai dengan semakin banyaknya kegiatan bisnis atau transaksi perdagangan yang dilakukan dengan memanfaatkan internet sebagai medianya. Generasi kiwari sebagai generasi yang melek teknologi diharapkan mampu mengembangkan ekonomi digital di Indonesia dan mewujudkan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Digital Energy of Asia pada tahun 2020.

Menurut penelitian dari GFK Asia, rata-rata orang Indonesia menggunakan internet 5,5 jam per harinya untuk membuka 46 aplikasi dan alamat website.[3]  Pada tahun 2017, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, sebanyak 143,26 juta orang Indonesia telah menggunakan internet atau sekitar 54,7% dari total populasi. Dari data tersebut, diketahui 49,52% penggunanya merupakan generasi kiwari. Mereka menggunakan media internet untuk memesan tiket, berbelanja hingga berbisnis dan berkarya. APJII menyebutkan, generasi kiwari juga mulai menggemari profesi-profesi baru di dunia maya, seperti YouTuber (pembuat konten video di YouTube) dan Selebgram (artis di Instagram).[4]

Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo meyakini jika ekonomi digital mampu mendorong efisiensi di sektor ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Selain itu, ekonomi digital mampu mendorong ekonomi 7% per tahun jika dimanfaatkan dengan baik.[5]  Hal ini didukung dengan data dari Google dan Temasek bahwa E-commerce di Indonesia merupakan pasar yang paling besar dimana lompatan pertumbuhannya dari tahun 2015 sampai tahun 2018 mencapai 94%. Indonesia menjadi battle ground, dimana battle ground tidak hanya untuk pemain lokal atau domestik namun juga pemain regional. Dibandingkan Malaysia, Vietnam, Singapura, Thailand dan Filipina, Indonesia merupakan negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi digital terbesar dan tercepat. Tentunya hal ini tidak terlepas dari peran generasi kiwari sebagai pengguna internet terbesar di Indonesia.[6]

Berdasarkan data pertumbuhan ekonomi digital yang dirilis Google dan Temasek akhir tahun 2018, Market size digital economy Indonesia pada tahun 2018 nilainya mencapai USD 27 Milyar atau naik 49% dari 2015 dan diperkirakan pada tahun 2025 akan naik menjadi USD 100 Milyar. Data Analisis Ernest dan Young menyebutkan, pertumbuhan nilai penjualan bisnis di tanah air naik 40% setiap tahunnya. Namun peran ekonomi digital Indonesia terhadap PDB masih lemah dibandingkan negara lain, yaitu sebesar 2,9% dan berada di bawah Singapura yang kontribusinya sebesar 3,2% juga Vietnam yang nilai kontribusi ekonomi digitalnya terhadap PDB sebesar 4,0%. Meski demikian, Indonesia melihat peran sejumlah pemain domestik yang memantapkan posisinya di Indonesia dan mulai melebarkan sayap berekspansi ke regional. Misalnya, Gojek dan Traveloka yang telah mulai berekspansi ke negara sekitar Asia Tenggara.[7]  Menariknya, perintis perusahaan digital di Indonesia rata-rata merupakan generasi kiwari yang berusia antara 19 sampai 34 tahun. Seperti Traveloka yang didirikan oleh Ferry Unardi (30 tahun), Buka Lapak yang didirikan oleh Achmad Zacky (32 tahun), PayAccess yang didirikan oleh Rorian Pratyaksa (26 tahun), Prelo yang didirikan Fransiska Hadiwidjana (28 tahun), Crowde (platform investasi digital) yang didirikan oleh Yohanes Sugihtononugroho (25 tahun) dan Muhammad Risyad Ganis (25 tahun), Modalku yang didirikan oleh Iwan Kurniawan (28 tahun) dan Reynold Wijaya (29 tahun), Sale Stock yang didirikan oleh Stanislaus Mahesworo Christandito (27 tahun) dan banyak lagi.[8]

Pada Maret 2018 lalu, majalah Forbes merilis daftar generasi kiwari atau generasi millennial yang paling sukses di Asia. Dari 16 generasi kiwari tersukses di Indonesia, 11 diantaranya merupakan pendiri tujuh startup (perusahaan) digital. Mereka tercatat di dalam daftar 30 Under 30 Asia 2018 versi Forbes dengan tema "Disrupsi dan Inovasi" yang dirilis pada 27 Maret 2018 lalu. Dari nama-nama pendiri perusahaan digital generasi kiwari di Indonesia, Fransiska Hadiwidjana menjadi sorotan lantaran menjadi satu-satunya perempuan pendiri startup di Indonesia.[9]

Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan untuk menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia pada tahun 2020 dengan target pertumbuhan transaksi E-commerce sebesar USD 130 Milyar.[10]  Melihat perkembangan yang pesat dari market size digital economy Indonesia, tentu hal ini bukan tidak mungkin dapat dicapai. Apalagi, bisnis digital yang ada di Indonesia terus berkembang pesat. Besarnya jumlah generasi kiwari Indonesia yang melek teknologi diyakini akan mendorong berkembangnya perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang transportasi online, E-commerce, fintech hingga agen travel tanah air. Beragam inovasi dan temuan baru di bidang ekonomi digital oleh generasi kiwari diharapkan akan terus bermunculan sehingga ekonomi digital Indonesia dapat terus berkembang dan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat. Namun, ekonomi digital harus bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun di perdesaan sehingga potensinya lebih merata. (*)

* Penulis merupakan mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi
___________
Catatan kaki:

[1] https://www.bappenas.go.id

[2] https://www.bi.go.id/id/ruang-media/info-terbaru/Pages/Ekonomi-Digital-Dorong-Pertumbuhan.aspx

[3] http://www.tribunnews.com/lifestyle/
2016/02/26/rata-rata-orang-indonesia-habiskan-waktu-55-jam-
main-hp-dari-bangun-hingga-beranjak-tidur


[4] https://apjii.or.id/content/read/
104/348/BULETIN-APJII-EDISI-22---Maret-2018


[5] https://katadata.co.id/berita/2017/08/09/
bi-ekonomi-digital-bisa-dongkrak-
ekonomi-tumbuh-7


[6] http://www.digination.id/read/012476/
bertumbuh-mencapai-usd-122-miliar-ecommerce-
indonesia-tertinggi-di-asia-tenggara


[7] Lihat https://www.youtube.com/watch?v=QDabNfvTNRA

[8] https://www.cnbcindonesia.com/
entrepreneur/20180328144232-25-8895/
anak-muda-asal-indonesia-ini-
sukses-karena-dirikan-startup


[9] https://www.cermati.com/artikel/
10-generasi-millenial-indonesia-masuk-
daftar-30-under-30-asia-forbes-2018


[10] https://biz.kompas.com/read/2015/
11/20/101500128/Tahun.2020.
Volume.Bisnis.E-commerce.di.Indonesia.
Mencapai.USD.130.Miliar
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)