Oleh: Yuriansyah Putra

Meliburkan Beban, Menikmati Ciptaan Tuhan

datariau.com
959 view
Meliburkan Beban, Menikmati Ciptaan Tuhan
Gambar: AinkWeb
DATARIAU.COM - Desember 2018, kelas perkuliahanku sudah tidak aktif, lebih cepat satu minggu dari jadwal yang ditetapkan. Ini sebenarnya atas permintaan anggotaku yang sudah keburu ingin pulang kampung. Maklum, yang namanya rindu sulit untuk diajak kompromi.  Lalu aku? Kebetulan keluargaku datang dari Palembang untuk berlibur ke Riau. Pikirku, syukurlah tak keluar uang untuk membeli tiket pulang.

Aku mahasiswa berasal dari kota Palembang, Sumatera Selatan. Entah kenapa aku bisa terdampar di Riau. Tak pernah terbayang wajah bumi lancang kuning dibenakku. Aku terpaksa meninggalkan kota yang terkenal dengan Jembatan Ampera itu lantaran  lulus kuliah di UIN Suska Riau. Selain harus meninggalkan kota kelahiran, memendam rindu berbulan-bulan pada orangtua dan suasana disana harus mengisi hari-hariku disini.

Untuk mengisi waktu libur, sesekali aku melewati kampus untuk mengecek suasana saat liburan tiba begini. Aku mulai menyusuri jalan berlubang yang menghantarkanku pada gerbang hijau yang megah itu. Tak sampai disitu, jalan tak rata sepanjang menuju arah fakultas mengiringi sepeda motorku yang tak seberapa ini. Karena aku menyusurinya pagi hari, sampah-sampah masih berserakan di bawah pohon-pohon sedikit rindang dan rapi sepanjang jalan.

Gedung-gedung berhias kubah hijau itu tampak sunyi. Sedikit sekali manusia yang berlalu lalang mengejar prestasi. Hanya ada beberapa mobil staf di depan fakultas masing-masing yang mungkin saja mengecek berkas-berkas penting kampus. Juga beberapa tukang bangunan dan alat berat yang mengisi jalan longgar ini. Entah mengapa ada keibaan yang bergelantung di hatiku perihal kampus ini. Entah aku saja yang merasa atau memang begitu kenyataannya.

Setidaknya yang membuatku tak menyesal jalan-jalan pagi ini adalah pemandangan danau yang menyejukkan mata, menenangkan hati. Danau yang dipagari semen itu pinggirannya memang cukup semak kala itu. Lampu-lampu cantiknya juga tak menyala kala malam. Warnanya airnya juga tak menarik, hanya cokelat kehijauan. Tapi entah kenapa, ini menjadi ikon kampusku  yang konon katanya tempat paling menyenangkan untuk membaca atau sekedar mengurangi luka patah hati.

Satu lagi sebenarnya yang menjadi sorotan di kampusku, ialah masjid megah dengan gaya arsitektur Eropa yang sayangnya tak kujung selesai pembangunannya. Nyaman sekali tempat ini. Biasanya jika perkuliahan aktif, satu jam menjelang shalat, ada yang membaca buku di pojokan tiang, ada juga yang sarapan sekaligus makan siang.  Masjid yang didominasi warna hijau dan krim kecoklatan ini, mampu menampung ribuan jamaah. Sayangnya, sedikit yang mau berjamaah.

Lantainya yang berwarna putih tulang ini sering aku gunakan untuk merebahkan badan sekedar melepas lelah. Kipas anginnya yang besar dan berhembus kuat seperti angin setidaknya kurasa mampu menerbangkan kekesalan-kekesalan terhadap birokrat kampus yang kurasa tidak sesuai. Tetapi, berbeda sekali pagi ini, semua tampak sunyi. Maklum mahasiswa libur, maka liburlah juga aktivitas yang melelahkan itu sejenak.

Bosan berputar-putar di area kampus, aku memutuskan pulang ke tempat mengabdiku. Di sinilah aku habiskan hari-hariku sepulang kampus. Belajar, mengajar, mengerjakan tugas, pun sekedar melepas hobi. Tempat ini terasa seperti rumah sendiri. Bersama anak-anak penghafal Qur'an yang aku sayang, aku sering berbagi cerita rindu kampung halaman dan perihnya menuntut ilmu. Antusias mereka itulah yang membuatku tak ingin seharipun alpa mengunjungi mereka.

Siang itu, selepas sholat zuhur, aku membuka gawai pintarku guna mengecek pesan-pesan yang masuk. Mulai kubuka salah satu aplikasi chatting yang kugunakan sehari-hari. Aku periksa grup-grup komunitas, alumni, pergerakan, organisasi satu persatu. Rata-rata menanyakan agenda libur. Ada yang mengajak hangout bersama, ada juga yang mengajak liburan ke tempat rekreasi terdekat. Aku baca satu persatu rencana mereka. Semoga tidak hanya wacana. Semoga saja.

Aku tiba di salah satu grup whatsapp yang amat serius membahas liburan bersama. Aku baca pelan-pelan percakapan mereka. Dari perundingan tersebut, akhirnya terbentuklah sebuah rencana yang akan membawa kami liburan bersama. Ya, air terjun Panisan namanya. Air terjun ini berada di kabupaten Kampar. Lokasinya memakan waktu dua jam paling lama. Setelah berunding lama, akhirnya kesepakatan waktu keberangkatan tercapai.

Aku senang sekali sepertinya rencana kali ini tidak hanya akan menjadi wacana. Tapi, aku juga sebenarnya merasa keberatan jika harus pergi hari Ahad. Sebab malamnya, adalah malam begadang bagiku dan tentu saja pasti sepanjang jalan kantuk akan terus menggelantung di kelopak mata. Tapi sudahlah, apapun resikonya aku harus tetap berangkat sebab bagiku solidaritas sulit dipertimbangkan dengan apapun.

Ahad itupun tiba. Titik kumpul yang dipilih adalah halaman rektorat kampusku. Sekitar pukul delapan lebih teman-temanku baru tiba. Lanjut saja aku langsung memimpin rundingan kecil ini. Aku dipilih sebagai penunjuk jalan. Sejujurnya saja aku tidak yakin, tapi tak apalah selagi aplikasi penunjuk arah ada, aku merasa baik-baik saja jika tersesat. Tidak, maksudnya sedikit lebih baik. Aku mulai melaju, disusul teman-temanku. Segar sekali udara pagi itu.

Aku dan rekan-rekan menyusuri jalanan. Rute yang dilalui tidak selalu mudah. Mulai dari jalan bergelombang hingga rusak parah. Belum lagi jalan berkelok yang siap menabrakkan siapa saja yang kurang fokus dalam mengemudi. Berbagai destinasi wisata kami lewati, padahal sebenarnya ingin sekali mampir sekalian. Dari kejauhan terlihat bagus sekali. Memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Termasuk aku, terpesona.

Aku memacu sepeda motorku  lumayan kencang. Tak kusadari teman-temanku jauh tertinggal di belakang. Aku terpaksa menunggu di depan simpang yang menunjukkan arah ke tempat wisata bersejarah di Kampar, yaitu Candi Muara Takus. Lima belas menit menunggu akhirnya ada yang menyusulku dan melaporkan bahwa ada teman dibelakang yang motornya rusak. Terpaksa aku menunggu hingga tiga puluh menit. Lumayan membosakan.

Tapi kebosananku terbayar oleh pemandangan indah yang disuguhkan destinasi yang kami tuju. Setelah sampai, kami memarkirkan motor di tempat yang tersedia. Kami langsung memutuskan menyeberang untuk melewati rute yang sebenarnya untuk mencapai air terjun yang kami tuju. Beberapa menit menaiki perahu kecil, kami sampai di jalur perbukitan yang menyeramkan.

Jalur bukit itu dipenuhi batuan kecil dan licin. Selain menanjak dan melelahkan, ada hikmah yang bisa aku ambil dari parjalanan, ialah sebuah perjuangan menuju keinginan. Selama perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan pohon-pohon yang masih asri menancap di tanah. Ditambah hawa dingin yang semakin membuatku tak sabar melihat puncak air terjun tersebut. Nampaknya, suara gemuruh itu semakin dekat.

Akhirnya, setelah melewati rute yang kurasa panajng dan melelahkan, kami serombongan menemukan salah satu ciptaan Tuhan yang mengisi permukaan bumi. Airnya dingin sekali. Batu-batu  di bawahnya licin dan besar. Gemuruhnya mengundang hati siapa saja yang  ingin berlibur dari sumpeknya kota. Termasuk aku, selain liburan aku juga sebenarnya ingin meliburkan diri sejenak dari beban-beban  mengemban di pundak. Sebentar saja.

Keseruan demi keseruan kami lewati lebih kurang dua jam. Setelah puas mandi, kami memutuskan untuk naik lagi dan berangkat pulang. Dalam perjalanan naik ke atas bukit, kami berbincang tentang syukur atas nikmat Tuhan yang sering terlupakan. Di tengah berisiknya isu-isu kota, justru alam menyembunyikan keindahan yang wajib dikunjungi meskipun hanya sekedar menyendiri menyadari kesalahan.

Tak lama kami sampai di penyeberangan dan melanjutkan perjalanan menuju kota. Jalan yang tadi aku susuri seperti tak akan terlupa oleh ingatanku. Menguatkan solidaritas, menikmati proses, mesyukuri nikmat Tuhan adalah pelajaran yang bisa aku ambil kali ini. Di benakku, kota memang menyenangkan tapi di luar kota lebih menenangkan. Mungkin lain kali aku akan mengunjunginya lagi. Bisa jadi dengan orang dan suasana yang bebeda.

Perjalanan pulang kami memakan waktu lebih lama. Kami memutuskan untuk banyak berhenti. Dari hanya makan, salat hingga sekedar berfoto di tempat yang kami lewati pagi tadi. Hingga tidak disadari waktu sudah  menunjukkan pukul sembilan malam. Pantas saja, angin malam sudah mulai mencekam permukaan kulitku. Mulai terasa dingin. Akhirnya aku dan rekan-rekanku sampai juga di batasan kota. Akupun berpamit duluan untuk pulang karena kantukku sudah tak tertahankan. (***)
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)