Liburan di Ruang Tunggu ICU

Admin
714 view
Liburan di Ruang Tunggu ICU
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Embun perlahan menghilang berganti tugas dengan semilir angin sepoi menerpa ujung kerudung yang digunakannya kala itu. Pandangannya menatap lepas ke arah sebrang koridor panjang nuansa putih yang tampak berdiri dengan kokohnya sebuah bukit nan menjulang tinggi tanpa kekhawatiran apapun. Pagi itu ia lewati dengan harapan-harapan yang sama. Ingin pulang.

Sebut saja dia Mira. Pagi itu lamunannya sirna, ketika alarm yang disetelnya berbunyi tepat pukul 08.00. Sejurus kemudian ia berlari kecil menuju depan ruangan itu. Ruangan yang tidak seorang pun berharap dapat berkunjung ke sana, walaupun di ruangan itu terdapat orang-orang hebat dan kuat yang tengah berjuang.

Setibanya di ruangan itu, pandangannya tak lepas pada alat yang asing di matanya. Alat-alat yang selama ini ia saksikan sebatas dalam drama Korea yang sering ia tonton, kini ada tepat di depan matanya. Di sebelah ranjang itu. Di sana ada ventilator dan banyak selang yang bahkan ia tak tahu apa fungsinya.

Waktu bergulir sangat cepat di dalam ruangan itu, satu jam berlalu dan ia masih tidak bisa berbuat apa-apa. Siklus yang sama akan ia jalani lagi. Menunggu, berharap, dan ingin pulang. Tapi ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa, selain percaya pada yang telah digariskan untuknya.

Matahari mulai bersembunyi sedangkan bulan dan bintang tanpa ragu menggantikannya. Malam adalah saat yang tidak ia harapkan selama di sana. Jika saat yang paling tidak dinantikan saat liburan di pantai adalah saat pasang dan badai, sehingga tak bisa meneruskan untuk menyaksikan sunset. Berbeda dengannya di tempat ini. Suara khas panggilan dan bunyi ganggang pintu terbuka di atas jam 21.00 malam adalah hal yang paling menakutkan. Bagi siapa pun, yang mendengarkannya di sana.

Semua mata tampak tidur di ruang tunggu itu. Siapa sangka, mereka sebenarnya tidak tertidur. Mereka hanya mengistirahatkan mata lelah dengan memejamkannya sembari berdo'a dengan degup jantung yang tak biasa ketika mereka yang dari dalam membuka pintu dan memanggil dengan sebutan "keluarga dari...". Panggilan yang sangat mendebarkan dan tidak pernah diharapkan jika itu di atas pukul 21.00 malam.

Pada pagi hari, akan ada panggilan jam besuk pukul 08.00 dan 14.00 siang yang merupakan panggilan paling dinanti oleh keluarga yang berada di ruang tunggu itu. Termasuk dia. Karena saat itulah ia dapat masuk ke dalam ruangan penuh alat medis khusus yang steril dan penuh penjagaan 24 jam oleh tenaga yang berkompeten di bidangnya. Sedangkan panggilan di malam hari, adalah panggilan dengan kabar baik atau buruk sekalipun.

Ketakutan akan panggilan malam itu bukan tidak berdasar, setelah kemarin keluarga tepat di sebelah ruang tunggu tempat ia bernaung mendapat panggilan dengan kabar 'buruk' itu, di sanalah ia mulai sadar betapa mirisnya berada di sana dan menakutkannya panggilan itu.

Liburan kala itu menjadi liburan yang tak pernah ia lupakan. Liburan yang tak pernah diharapkan oleh siapapun itu. Karena tidak ada pantai, gunung, pulau, sawah dan keindahan alam lainnya, melainkan hanyalah cat tembok dan lantai berwarna pucat pasi, putaran-putaran roda di koridor panjang itu, pekerja-pekerja berlalu lalang yang bak memakai dresscode berwarna putih dan aroma khas obat-obatan yang menyeruak dalam penciuman.

Jika sudah seperti itu, ia tidak berharap lebih untuk mendapat liburan dan bersenang-senang. Ia hanya ingin pulang ke rumah, dengan kesembuhan dan keutuhan keluarganya. Karena baginya, liburan yang paling membahagiakan ternyata bukanlah bepergian kesana-kemari melainkan keutuhan keluarga, sehat dan rumah.

Sedikitpun ia tidak pernah menyangka bahwa akan merasakan hal yang bahkan tak pernah terbesit dalam benaknya. Pasalnya, ia meyakini bahwa ayahnya adalah seorang yang kuat. She knew that so well.

Begitu banyak hal yang ia sesali karena tidak mengetahui persis kondisi sang ayah sebelumnya. Tak bisa dipungkiri, hal ini dikarenakan ia dan keluarganya hidup berjauhan. Ibunya tinggal di sudut perbatasan Kota Jambi dan Sumatera Barat, sedangkan ayahnya bekerja di luar kota yang jarak tempuh memakan waktu 12 jam dari kediaman ibunya.

Satu sisi, ia merasa kehidupan ini tidak adil baginya dan keluarganya. Tapi di sisi lain, ia hanya perlu bersyukur. Karena dengan bersyukur siapapun pasti bisa menjalaninya dengan ikhlas. Namun, ia hanyalah orang biasa yang hanya bisa menangis menghadapi semua hal yang sedang menghampirinya.

Pada titik itulah ia merasa, patah hati yang paling menyakitkan ternyata bukan perselingkuhan, pengkhianatan atau bahkan percaci-makian, melainkan melihat orangtua terbaring sakit, tidak berdaya dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengetahui rasanya lebih dari siapapun.

Begitulah liburannya, mahasiswi yang sekarang berada di tahun ketiga studinya di salah satu universitas yang ada di Pekanbaru. Liburannya ia habiskan di salah satu rumah sakit yang terletak di Kota Bukit Tinggi. Kota yang selalu diselimuti dengan dingin. Siapapun itu, ia berharap agar tidak merasakan apa yang ia rasakan kala itu. Semoga dia, kamu dan kalian dimanapun berada selalu diberi nikmat kesehatan.

Spread Loves for all the strongest parents in the world, stay healthy.

Penulis:
Meri Fitri Yely