DATARIAU.COM - Pembahasan tentang kelompok, khususnya kelompok yang lahir dari perbedaan secara keilmuan adalah akidah, terdapat bab panjang dalam literatur Islam. Kehati-hatian dalam mengemukakan pengertian, ciri-ciri serta menampilkan sejarahnya dalam narasi sederhana, karena terkadang dirasa tidak adil, terlebih berkaitan ranah suci yang sejatinya tidak bisa disentuh secara serampangan.
Namun pertimbangan keilmuan yang diharapkan dapat mencerahkan jalan ke depan memberanikan penulis mengangkatnya dengan harapan dapat membawa manfaat serta dihindarkan dari mudharat sekecil apa pun. Mencerahkan dalam arti menerangi akan memudahkan dan mungkin membantu sebagian kalangan untuk keluar dari masalah atau sekedar kegelisahan kecil yang sedang dialami.
Khawarij, sebagai suatu istilah dari bahasa arab “kharaja” artinya keluar. Sebagai suatu kelompok, Khawarij dinisbahkan kepada mereka yang keluar dari posisi pendukung sahabat Ali yang sedang mengalami suatu pertikaian dengan sahabat mulia Muawiyah. Namun sikap keluar Khawarij, dikatakan dari barisan Ali, bukan berarti masuk kepada kelompok atau imam lainnya, pada saat itu adalah Muawiyah. Khawarij justru menyalahkan semua. Melalui proses yang disebut arbitrase, Khawarij menganggap salah keduanya bahkan mengkafirkan mereka.
Secara ibadah mereka bagus, tampilan sangat Islami, namun bacaan al-Qur'an mereka hanya sebatas tenggorokan, hati dan sikapnya bertentangan. Sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca Al-Qur’an tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya.” (Hadits Riwayat Bukhari, VI/376, No. 3644, Muslim II/42 No. 1064).
Melansir Video Jeda Nulis ulasan Habib Husein Ja’far al-Haedar, sejarah dan ciri-ciri khawarij yakni:
Ciri pertama: menempatkan politik di atas kemanusiaan. Mereka menghalalkan darah demi ambisi (nafsu) politiknya. Dikatakan, kelompok Khawarij rela menggadaikan kemanusiaan hanya karena nafsu kekuasaan mereka. Sebalikbya, Islam justru memerintahkan ummatnya untuk patuh kepada pemimpin selama tidak menyalahi atau menyelisihi syariah.
Ciri kedua: takfiri, gemar mengkafirkan. Mengkafirkan hanya karena berbeda pendapat. Jika Rasul mendakwahkan agar kafir menjadi Islam, Khawarij justru sebaliknya mengkafirkan yang Muslim dan dikatakan mereka justru bersikap pembiaran terhadap kaum kafir.
Ciri ketiga: mereka mengedepankan kekerasan daripada perdamaian. Perdamaian harus diutamakan di atas segalanya oleh setiap Muslim dari kekerasan, bahkan terhadap musuh. Sosok Baginda Rasul dengan akhlaknya yang diakui mulia ileh al-Qur’an bahkan diakui juga oleh musuh-musuhnya.
Keempat: mereka fanatik terhadap pendapat mereka yang mereka anggap benar. Fanatisme ditentang dalam Islam, karena kebenaran sejati (mutlak) itu hanya milik Allah dan Rasul. Para Imam dalam Islam senantiasa menghargai perbedaan pendapat di kalangan mereka. (*)