Sepak Bola Indonesia Memilukan, Wasit Dihajar, Suporter Tewas

datariau.com
1.974 view
Sepak Bola Indonesia Memilukan, Wasit Dihajar, Suporter Tewas

JAKARTA, datariau.com - "Kalau nonton Liga Indonesia enak, bisa nonton bola sekaligus tinju sekalian." Mungkin lelucon usang tentang sepak bola Indonesia itu masih relevan hingga kini. Mungkin sebagian dari kamu, pecinta Liga Indonesia, tak setuju jika kalimat itu disebut lelucon, karena tak lucu sama sekali.

Mau sampai kapan? Ini mungkin jadi pertanyaa selanjutnya yang ada di benakmu, wahai pecinta sepak bola Indonesia.

Tahun 2017 digadang-gadang sebagai tahunnya kebangkitan sepak bola Indonesia. Federasi yang mulai bersatu, permainan Tim Nasional Indonesia di berbagai kategori umur membaik hingga gembar-gembor semangat menjaga profesional begitu terngiang di awal musim.

Kalimat yang seperti disebutkan di awal tadi diharapkan tak boleh lagi keluar dari mulut pecinta Indonesia saat musim kompetisi bergulir.

Namun ternyata memasuki akhir musim, kalimat tersebut justru makin sering didengungkan oleh pecinta sepak bola Indonesia. Penyebabnya adalah kerusuhan baik antar penonton, pemain, wasit hingga official malah makin sering terjadi di penghujung kompetisi.

Tanpa bermaksud memperkeruh suasana, ingin merangkum beberapa kerusuhan yang terjadi di kompetisi Indonesia, baik di Liga 1 maupun Liga 2. Anggap saja ini sebagai cambuk bagi PSSI dan seluruh elemen untuk terus memperbaiki diri.

1. Duel Gladiator Persewangi vs PSBK Blitar

Kami sepakat menyebut laga dua klub Jawa Timur di Liga 2 ini tidak seperti laga sepak bola melainkan lebih mirip duel gladiator ala bangsa Romawi dulu. Mulai dari caci maki hingga baku hantam terjadi pada laga yang berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Selasa (10/10/2017).

Partai yang berakhir untuk kemenangan 1-0 bagi PSBK ini sejatinya sudah berlangsung panas sejak detik awal.  Satu kartu merah bahkan sudah dikeluarkan wasit ketika laga baru berlangsung 26 detik!

Kartu merah tersebut diberikan wasit Suhardiyanto setelah pemain Persewangi Didik Ariyanto didakwa melakukan pelanggaran keras terhadap lawan.  Setelah sempat dihentikan beberapa saat, giliran pemain PSBK, Aditya Wahyudi, yang mendapat kartu merah pada menit ketiga.

Tidak berhenti di situ, pada menit ke-15, pemain Persewangi lainnya, Deki Rolias Candra, kembali diganjar kartu merah setelah melanggar kapten PSBK, Eka Hera. Akan tetapi, keputusan itu membuat penggawa Persewangi lainnya berang yang tidak terima rekannya diusir keluar lapangan.

Mereka lantas mengejar wasit dan mengerubunginya sambil membuka baju sebagai bentuk protes. Dan, ketika memasuki menit ke-17, pertandingan terpaksa dihentikan karena kondisi yang tak kondusif. Wasit pun sampai harus ditarik ke ruang ganti.

Puncaknya, ketika memasuki menit ke-86, para pemain Persewangi terlihat mengejar wasit. Hal itu membuat wasit mencoba menyelamatkan diri hingga masuk ke ruang ganti.

Panpel pun hendak mengganti wasit yang tak sanggup melanjutkan pertandingan. Akan tetapi, keputusan itu ditolak oleh pihak Persewangi. Alhasil, pertandingan tak bisa dilanjutkan sehingga terhenti pada menit ke-86.
Saling pukul pun sempat terjadi usai pertandingan.

2. Wasit Asing Menjadi Korban di Laga Madura vs Borneo FC

Laga pada Sabtu, 14 Oktober lalu memang menjadi salah satu laga penentuan bagi Madura United. Tiga poin akan menjaga asa mereka untuk menjadi juara Liga 1, namun jika tidak maka peluangnya akan semakin tipis.

Rencana Madura United untuk meraup poin penuh awalnya berjalan mulus. Fachrudin Aryanto mampu membuka keunggulan pada menit ke-34.
Namun sayangnya, tim tamu Borneo FC mampu menyamakan kedudukan di menit ke-62. Adalah Flavio Junior yang menjadi pencetak gol bagi klub besutan Iwan Setiawan itu.

Laga memang berlangsung cukup keras hingga pertengahan babak kedua. Beberapa kali wasit asing asal Iran, Hasan Akrami, membuat sejumlah keputusan yang membuat pemain Madura United melakukan protes keras.

Yang paling mencolok adalah ketika Hasan menganulir gol dari Madura United yang dicetak oleh Dane Milovanovic. Dane pun memrotes keras keputusan Hasan, karena tak ada pernyataan yang jelas mengapa golnya dianulir.

Dari pihak wasit mengatakan, gol Dane dianulir karena ada pelanggaran yang dilakukan oleh pemain berkepala plontos itu sesaat sebelum menceploskan si kulit bundar.

Protes Dane ini kemudian berbuah kartu kuning kedua untuknya. Pemain Madura United pun kemudian sempat melontarkan protes keras. Namun pertandingan tetap dilanjutkan hingga 90 menit.

Kericuhan terjadi usai wasit yang memimpin laga tersebut meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Usai Hasan mengakhir pertandingan, seseorang berbaju putih tiba-tiba masuk lapangan dan berusaha menendang Hasan saat masih berada di tengah lapangan.

Merespons tindakan tersebut, Hasan berupaya meninggalkan lapangan dengan belari kencang. Namun saat berlari meninggalkan lapangan, seorang pria berbaju hitam dan bercelana jins, sempat melayangkan tendangan meski tak mengenai Hasan. Akhirnya Hasan dievakuasi oleh aparat keamanan ke ruang ganti.

3. Seorang Suporter Persita Tewas

Kericuhan juga terjadi saat pertandingan di Liga 2 antara Persita Tangerang kontra PSMS Medan. Seorang suporter Persita atau akrab disapa Laskar Benteng Viola menjadi korban.

Banu Rusman, seorang pendukung Persita, meninggal dunia setelah pertandingan yang digelar di Stadion Mini Cibinong, Rabu (11/10/2017), tersebut. Banu meninggal lantaran pendarahan di otak setelah dirawat selama 15 jam di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), Cawang, Jakarta Timur.

Pada laga itu, PSMS menang dengan skor tipis 1-0 dan membawa mereka lolos ke babak delapan besar Liga 2.

Pemuda berusia 17 tahun itu meninggal setelah bentrok dengan kawanan suporter PSMS. Lewat keterangan yang didapatkan kumparan dari Direktur Persita, Azwan Karim, ada banyak tentara dengan seragam coklat terlibat dalam bentrokan tersebut. Banyak di antaranya melakukan serangan terhadap suporter Persita.

Pada saat pertandingan berlangsung, ada juga pendukung yang melontarkan chant berbunyi "ungu itu janda". Ungu sendiri merujuk pada warna kebesaran Persita. Chant olok-olok itu terus menggema sepanjang pertandingan yang membuat Laskar Benteng Viola —sebutan pendukung Persita— geram.

"Kebetulan saya nonton di sana dan kejadiannya, ya, seperti yang diberitakan media-media itu, ada ejekan-ejekan buat pendukung kami. Awalnya kenapa bisa kejadian, karena ada permintaan dari TNI, seragamnya coklat-coklat, lalu rambut cepak-cepak khas tentara gitu, maksa masuk ke dalam (stadion) untuk nonton dan mengaku sebagai suporter PSMS,” ujar Azwan kepada kumparan.

“Ya, sudah, mereka akhirnya masuk. Panitia Pelaksana (Panpel) Pertandingan awalnya juga sudah menahan-nahan, tapi sudah nggak bisa karena jumlahnya banyak banget. Sebenarnya tidak apa-apa mereka masuk lalu nonton, tapi yang kami sesali ada chant yang mengolok-olok.”

4. Aksi Lempar Botol dari Suporter Persipura

Berdasarkan keterangan resmi PSSI, Ahad (8/10), tim berjuluk “Mutiara Hitam” harus menerima sanksi dari Komisi Disiplin PSSI. Penyebabnya adalah ulah suporter mereka yang kedapatan menyalakan flare, melakukan pelemparan batu dan botol air mineral ke lapangan pertandingan.

Persipura diwajibkan membayar sebesar Rp 126.563.500 dari dua kasus yang disidangkan.

Hukuman pertama dijatuhkan kepada Persipura ketika menghadapi PSM Makassar di Stadion Mandala pada 27 September silam. Ketika itu, penonton menyalakan flare dan melakukan pelemparan botol air mineral sehingga berujung denda sebesar Rp 50.625.000.

Kejadian serupa kembali terulang manakala Persipura menjamu Madura United pada 1 Oktober lalu. Penonton kedapatan melakukan pelemparan batu dan botol air mineral sehingga panpel harus menanggung denda Rp 75.937.500.

Masih ada beberapa catatan minor lagi dari jalannya kompetisi sepak bola Indonesia. Kamu masih punya catatannya? Tahan. Deretan kejadian ini benar-benar memilukan.

Sumber
: Kumparan.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)