SMM PANEL INDO

Pedagogi Hijau Didorong di Sekolah, Hadapi Tantangan Infrastruktur dan Kompetensi Guru

datariau.com
143 view
Pedagogi Hijau Didorong di Sekolah, Hadapi Tantangan Infrastruktur dan Kompetensi Guru
Foto: Nur Aini
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mendorong penerapan pedagogi hijau di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

PEKANBARU, datariau.com - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mendorong penerapan pedagogi hijau di lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Pendekatan pendidikan berwawasan lingkungan tersebut dinilai penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan krisis iklim global. Melalui pedagogi hijau, isu lingkungan tidak hanya diperkenalkan sebagai materi pembelajaran, tetapi juga diintegrasikan ke dalam kebiasaan dan aktivitas sehari-hari di sekolah.

Namun, penerapannya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya berkaitan dengan keterbatasan anggaran sekolah untuk menyediakan infrastruktur yang mendukung kegiatan ramah lingkungan.

Sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan fasilitas pengolahan sampah dan limbah, sarana penghematan energi, hingga ruang terbuka hijau. Kondisi tersebut membuat penerapan pendidikan lingkungan belum dapat berjalan secara seragam di setiap satuan pendidikan.

Selain persoalan sarana dan anggaran, kesiapan tenaga pendidik juga menjadi faktor penting. Tidak semua guru memiliki kompetensi dan pengalaman yang memadai untuk mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam berbagai mata pelajaran.

Padahal, pedagogi hijau memiliki peluang besar untuk menjadikan sekolah sebagai living lab atau laboratorium hidup bagi peserta didik. Lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar nyata untuk memahami berbagai persoalan lingkungan sekaligus mencari solusi sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, siswa dapat dilibatkan dalam kegiatan pemilahan sampah, pengelolaan limbah, penghematan penggunaan listrik dan air, penghijauan sekolah, hingga pemanfaatan kembali barang-barang yang masih memiliki nilai guna.

Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman praktis kepada siswa, tetapi juga dapat membentuk kebiasaan positif. Pendidikan lingkungan akhirnya tidak berhenti pada pemahaman teori di dalam kelas, melainkan diwujudkan melalui perilaku nyata.

Sekolah yang menerapkan budaya ramah lingkungan juga berpeluang menciptakan ruang belajar yang lebih sehat dan nyaman. Lingkungan yang bersih, hijau dan tertata dapat mendukung proses pembelajaran sekaligus memperkuat karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Karena itu, keberhasilan implementasi pedagogi hijau membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Sekolah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan orang tua, masyarakat dan pemerintah.

Dukungan kebijakan yang konsisten juga diperlukan, terutama dalam penyediaan pendanaan, pembangunan fasilitas pendukung serta peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan yang berkelanjutan.

Orang tua pun memiliki peran penting dengan meneruskan kebiasaan ramah lingkungan yang dibangun di sekolah ke lingkungan keluarga. Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak hanya menjadi program sekolah, tetapi berkembang menjadi budaya bersama.

Jika dilakukan secara konsisten, pedagogi hijau dapat menjadi bagian penting dari transformasi pendidikan. Anak-anak tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki kesadaran, karakter dan keterampilan untuk menjaga lingkungan di tengah perubahan iklim dan berbagai persoalan ekologis.

Pada akhirnya, sekolah bukan sekadar tempat untuk belajar tentang lingkungan, tetapi dapat menjadi tempat bagi generasi muda untuk mengalami, mempraktikkan dan membangun kebiasaan menjaga bumi sejak dini.***

Penulis
: Nur Aini
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)