Menurunnya Kualitas Pendidikan di Masa Pandemi

datariau.com
3.085 view
Menurunnya Kualitas Pendidikan di Masa Pandemi

DATARIAU.COM - Seperti yang kita ketahui, pandemi virus covid-19 telah banyak menyebabkan kerugian di berbagai sektor, tak terkecuali pada sektor pendidikan di Indonesia.

Pada sektor pendidikan sendiri, pemerintah telah berusaha untuk mengatasinya dengan menerapkan strategi social distancing, salah satunya dengan menutup sekolah.

Kebijakan lainnya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak adalah dengan menerapkan strategi belajar di rumah menggunakan media belajar online atau lebih dikenal dengan istilah daring.

Tentunya pembelajaran daring ini adalah ide yang sangat tepat yang dikemukakan oleh kemendikbud dalam upaya pencegahan penyebaran virus covid-19. Tapi apakah pembelajaran daring ini efektif?

Di Indonesia sendiri perkembangan teknologi belum merata, seperti listrik dan internet.

Misalnya di Kabupaten Indragiri Hilir yakni di Kecamatan Mandah. Kemudian desa di Kabupaten Kampar yang berada di Kecamatan Kampar Kiri.

Pada desa-desa di daerah tersebut umumnya belum mendapatkan aliran listrik serta belum sepenuh terjangkau jaringan internet sehingga tidak memungkinkan untuk menjalankan pembelajaran daring.

Lain halnya pada daerah yang memiliki jaringan internet yang tersebar merata serta jaringan yang stabil, mungkin pembelajaran daring masih dapat berjalan yang baik.

Pembelajaran daring memerlukan skill dalam bidang teklonogi yang kemudian harus dikuasai, terutama oleh guru.

Mengutip data Ikatan Guru Indonesia (IGI), Lestari Moerdijat, wakil ketua MPR mengungkapkan berdasarkan pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh yang diterapkan beberapa bulan terakhir tercatat 60% guru memiliki kemampuan sangat buruk dalam penggunaan teknologi informasi saat mengajar.

Pembelajaran daring memang harus dipersiapkan dengan baik oleh guru dalam menyajikan materi untuk kelancaran saat proses pembelajaran sehingga siswa dapat memahami materi yang disajikan oleh guru.

Guru juga hendaknya melakukan pemetaan terhadap peserta didik dan orang tua baik tentang jarak rumah, kepemilikan handphone, jaringan internet, paket internet ataupun kemampuan serta kesempatan para orang tua peserta didik untuk mendampingi anaknya dalam kegiatan pembelajaran.

Lalu apa yang terjadi jika guru tidak memiliki skill atau kurangnya kemampuan dalam penggunaan teknologi informasi saat mengajar?

Hal yang sering terjadi adalah guru memberikan banyak tugas di via whatsapp tanpa menjelaskan sedikitpun materi.

Hal ini dilakukan guru untuk mengejar pencapaian pembelajaran dengan tepat waktu. Namun nyatanya, jika siswa tidak memahami atau menguasai materi pembelajaran, hal yang seperti ini tidak dapat dikatakan ?mencapai pembelajaran?.

Maka, dengan mengirimkan banyak tugas kepada peserta didik tanpa adanya penjelasan materi sedikitpun bukanlah cara yang tepat untuk mencapai pembelajaran yang diinginkan oleh seorang pendidik tersebut, tetapi dengan mengirimkan banyak tugas kepada peserta didik itu malah hanya akan membuat peserta didit semakin jauh dari yang katatanya ?mencapai tujuan pembelajaran?.

Hal ini dikarnakan banyaknya peserta didik yang tidak mengerti akan pembelajaran yang diberikan oleh pendidik, yang membuat peserta didik memilih untuk melakukan ?jalan pintas? untuk bisa mencapai tujuan pembelajaran tepat waktu dengan mengerjakan tugas menggunakan aplikasi seperti menggunakan google serta branly, dan bahkan dengan meminta bantuan orang-orang yang ada disekitarnya untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan pendidik.

Banyak peserta didik yang memanfaatkan kemampuan orang di sekitarnya untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh pendidik kepada mereka.

Hal ini terjadi karena mereka tidak memahami tugas yang diberikan sehingga timbul rasa malas untuk mengerjakan tugas tersebut.

Dalam konteks ini mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena mereka sendiri pun tidak memahami tugas yang diberikan secara menumpuk tanpa adanya penjelasan materi sedikitpun.

Bahkan tak jarang juga guru memberikan tugas yang menumpuk dengan deadline yang terlalu mepet atau bisa dibilang dengan waktu yang tidak sesuai dengan banyak tugas yang diberikan.

Maka, tak sedikit peserta didik yang mengandalkan kemampuan orang yang berada di sekitarnya atau bahkan mengandalkan google sebagai ?guru? mereka dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

Bahkan, ada banyak kasus yang dimana peserta didik tidak mengerjakan satupun tugas yang diberikan oleh guru. Tentunya hal ini membuat peserta didik semakin jauh dari yang katanya ?mencapai tujuan pembelajaran tepat waktu?.

Kurangnya interaksi fisik antara guru dan siswa karena dalam pembelajaran online siswa hanya diberikan tugas melaui via online. Kebanyakan siswa kesulitan dalam mengerjakan tugas dikarenakan tidak ada penjelasan-penjelasan awal dari guru tentang tugas yang dibebankan tersebut.

Peserta didik hanya dituntut untuk mengerjakan tanpa mendapatkan penjelasan terlebih dahulu, akibatnya banyak siswa yang mengeluh dan tidak bersemangat lagi dalam mengerjakan tugas.

Dan tak lupa pula akibat kurangnya interaksi langsung antara guru dan siswa, otomatis berkuranglah internalisasi nilai-nilai karakter yang semestinya harus ditanamkan seorang guru ke dalam diri siswa.

Ini akan mengakibatkan degradasi moral pada anak atau siswa, karena tugas seorang guru bukan hanya mengajar, mentrasferkan ilmu pengetahuan (pelajaran) saja, tetapi seorang guru juga dituntut untuk mendidik (pembentukan akhlak dan karakter) siswa.

Hal-hal tersebut merupakan penyebab utama turunnya kualitas pendidikan Negara Indonesia pada saat pandemi yang tak kurun usai ini. Namun, hal-hal terbut tidak boleh mematahkan semangat guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, tidak boleh mematahkan semangat siswa dalam belajar, dan pandemi covid-19 ini tidak boleh mematahkan semangat dan harapan kita semua.

Imam Prasodjo, Sosiolog Universitas Indonesia mengatakan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru, tetapi juga tanggung jawab semua unsur masyarakat. Menurut dia, masa pandemi ini memiliki hikmah untuk membuat gerakan agar semua orang bisa menjadi guru untuk anak-anak agar proses pendidikan tidak terhenti meskipun terdapat beragam kendala.

Untuk itu, kita tidak boleh putus asa karena pandemi covid-19 ini. Kita harus terus mencari inovasi-inovasi yang dapat memudahkan kita dalam penyesuaian pembelajaran daring pada pandemi covid-19.

Penyusun : Aulannisa, Duta Dwi Ananda, dan Nofita Jayanti (Mahasiswa PGSD Universitas Islam Riau)

Dosen Pengampu : Dea Mustika SPd MPd

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)