Mahasiswa Kukerta UNRI 2024 Berkontribusi dalam Kegiatan Melayur Jalur di Desa Lubuk Ambacang

datariau.com
688 view
Mahasiswa Kukerta UNRI 2024 Berkontribusi dalam Kegiatan Melayur Jalur di Desa Lubuk Ambacang

KUANSING, datariau.com - Kabupaten Kuantan Singingi terkenal dengan tradisi budaya yaitu tradisi pacu jalur.

Tradisi pacu jalur dilaksanakan oleh mayoritas masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Kuansing, tradisi yang sudah melekat sejak dulu hingga saat ini.

Salah satu tradisi yang berhubungan dengan pacu jalur yaitu Malayui Parahu Pacu (Melayur).

Malayui Parahu Pacu merupakan istilah yang digunakan pada kegiatan melayur atau mengasapi jalur.

Setelah mempersipkan dasar jalur, proses selanjutnya adalah melayur jalur.

Melayur jalur merupakan proses pembakaran atau pengasapan jalur. Melayur jalur berasal dari kegiatan pacu jalur yang dilaksanakan ketika pembuatan jalur baru.

Melayur jalur dilaksanakan dengan meriah di Desa Lubuk Ambacang pada Senin 05 Agustus 2024 dengan kedatangan Bupati Kuansing Drs H Suhardiman Amby Ak MM.

Melayur jalur di Desa Lubuk Ambacang juga dihadiri oleh orang-orang penting dalam kegiatan ini.

Desa Lubuk Ambacang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Hulu Kuantan, Provinsi Riau.

Desa Lubuk Ambacang dikenal sebagai desa yang aktif dalam kegiatan pacu jalur. Nama jalur dari Desa Lubuk Ambacang adalah Pendekar Hulu Bukit Tabandang (PHBT).

Jalur PHBT sudah beberapa kali mendapatkan kejuaraan di festival nasional teluk Kuantan maupun festival tradisional.

Kontribusi yang dilakukan oleh mahasiswa Kukerta UNRI 2024 di Desa Lubuk Ambacang pada kegiatan melayur jalur adalah mempersiapkan lampu pelita untuk memeriahkan suasana melayur jalur.

Kontribusi lain yang dilakukan yaitu kegiatan gotong royong lingkungan desa, serta ikut serta mempersiapkan hidangan untuk penyambutan Bupati Kecamatan Hulu Kuantan.

Masyarakat sangat antusias dalam mempersiapkan kegiatan melayur jalur, karena tradisi ini merupakan bagian dari persiapan perahu tradisional "jalur" untuk mengikuti perlombaan pacu jalur.

Acara budaya ini sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat setempat. Proses melayur jalur dilaksanakan dengan cara mengoleskan minyak kelapa atau minyak kayu ke badan jalur yang sudah dipersiapkan.

Minyak ini akan dibakar secara perlahan dengan api kecil sehingga minyak meresap ke dalam serat kayu.
Proses ini bertujuan untuk menguatkan kayu jalur agar lebih tahan air dan tidak mudah lapuk, serta membuat permukaan jalur menjadi licin sehingga dapat meluncur dengan cepat di atas air.

Bupati ikut serta dalam proses pembakaran jalur di Desa Lubuk Ambacang menggunakan obor. Melayur jalur tidak hanya merupakan kegiatan wajib yang harus dilaksanakan, tetapi kegiatan ini terdapat nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan.

Seluruh masyarakat desa berpartisipasi untuk memastikan jalur mereka untuk siap berlaga. Tradisi ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kuansing, yang hingga kini masih tetap dijaga dan dilestarikan.

Khususnya Desa Lubuk Ambacang telah sukses memeriahkan dan mempersiapkan kegiatan melayur jalur dari awal sampai akhir agar jalur siap bertanding di festival jalur nasional maupun tradisional.

Kegiatan pacu jalur merupakan kegiatan yang memiliki banyak manfaat, salah satunya meningkatkan kebersamaan dan kerja sama masyarakat khususnya masyarakat lubuk ambacang yang sangat memiliki kerja sama tim yang baik.

"Kami bersyukur dan Bahagia ikut serta dalam semua kegiatan pacu jalur di Desa Lubuk Ambacang selama 40 hari,” ujar salah satu mahasiswa KKN UNRI 2024 Fadhil Ridha.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)