SMM PANEL INDO

Dari Tepian Narosa, Doa dan Harapan Mengiringi Dayung Rajo Bujang

datariau.com
145 view
Dari Tepian Narosa, Doa dan Harapan Mengiringi Dayung Rajo Bujang

TELUK KUANTAN, datariau.com - Di Tepian Narosa, semangat tidak hanya lahir dari hentakan dayung yang membelah Sungai Kuantan. Semangat itu juga datang dari tepian, dari suara masyarakat yang bersorak, dari doa-doa yang dipanjatkan, serta dari kebanggaan sebuah desa yang menitipkan harapan kepada para pendayung jalur Rajo Bujang.

Jumat, 21 Agustus 2026, menjadi salah satu hari yang penuh warna bagi masyarakat Desa Padang Tanggung. Jalur kebanggaan mereka, Rajo Bujang, kembali berlaga dalam Festival Pacu Jalur Kuansing 2026. Di tengah riuhnya ribuan pasang mata yang tertuju ke arena, Rajo Bujang melaju membawa lebih dari sekadar keinginan untuk menang.

Di atas jalur, para atlet mengerahkan tenaga dan menjaga irama dayung. Namun di tepian sungai, ada kekuatan lain yang terus mengiringi mereka. Kekuatan itu bernama kebersamaan.

Baca juga:Selain Larangan Perempuan, Pacu Jalur FPJN 2026 Dibatasi hingga Pukul 18.00 WIB


Masyarakat Desa Padang Tanggung datang memberikan dukungan. Para pemuda berdiri bersama tokoh masyarakat. Mahasiswa yang sedang menjalankan pengabdian di desa itu pun turut larut dalam semangat yang sama.

Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Riau Kelompok 17 dan KKN Universitas Abdurrab Kelompok 20 ikut hadir di Tepian Narosa. Mereka tidak ingin hanya menjadi penonton dari sebuah tradisi besar yang hidup di tengah masyarakat tempat mereka mengabdi.

Di antara kerumunan masyarakat, mereka menyatukan suara, memberikan dukungan kepada para atlet, dan berbaur dengan warga Desa Padang Tanggung. Usai menyaksikan perjuangan Rajo Bujang, para mahasiswa bahkan melakukan foto bersama para atlet sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan yang telah diberikan.

Baca juga:FPJN 2026 Kian Bergengsi, Jalur Jambi dan Sumbar Siap Unjuk Kekuatan


Bagi mereka, Pacu Jalur bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini adalah ruang pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ketua KKN UMRI Kelompok 17 mengatakan kehadiran mahasiswa dalam memberikan dukungan kepada Rajo Bujang merupakan bagian dari rasa memiliki terhadap masyarakat dan budaya Desa Padang Tanggung.

“Kami hadir bukan hanya sebagai mahasiswa yang menjalankan program KKN, tetapi sebagai bagian dari masyarakat Padang Tanggung. Pacu Jalur adalah festival budaya yang harus kita jaga dan rawat bersama. Masyarakat, pemuda, dan mahasiswa harus berdiri bersama agar budaya ini tetap hidup dan tidak tergerus zaman. Hari ini kami memberikan dukungan kepada Rajo Bujang, tetapi pada saat yang sama kami juga sedang memberikan dukungan kepada budaya dan identitas masyarakat kita,” ujarnya.

Baca juga:Kembangkan Potensi Lokal, KKN UMRI 155 Kenalkan Program UMKM hingga Santripreneur di Desa Petani


Kalimat itu seolah menggambarkan suasana yang terjadi di Tepian Narosa. Ketika jalur mulai bergerak dan dayung mulai menghentak air, batas antara masyarakat, pemuda, tokoh desa, dan mahasiswa seakan menghilang.

Semua memiliki tujuan yang sama: memberikan kekuatan kepada Rajo Bujang.

Pacu Jalur memang telah lama menjadi lebih dari sekadar perlombaan bagi masyarakat Kuantan Singingi. Di balik sebuah jalur yang meluncur di atas sungai, tersimpan kerja keras, gotong royong, kekompakan, dan kebanggaan yang dibangun bersama.

Sebuah jalur tidak lahir dari perjuangan satu orang. Begitu pula kemenangan tidak pernah benar-benar menjadi milik para atlet saja. Ada masyarakat yang memberi dukungan, ada pemuda yang menjaga semangat, dan ada generasi muda yang kelak akan meneruskan cerita tentang warisan budaya tersebut.

“Ketika atlet mendayung dengan seluruh tenaga, masyarakat memberikan suara dan doa, sementara pemuda serta mahasiswa ikut memberikan dukungan, di situlah kita melihat bahwa budaya masih hidup. Inilah semangat yang harus terus kita rawat,” lanjut Ketua KKN UMRI Kelompok 17.

Baca juga:Semarak HUT ke-81 RI di Padang Tanggung, KKN UMRI Dorong Potensi Pacu Jalur Rajo Bujang Dikenal Luas


Semangat itulah yang terasa begitu kuat ketika Rajo Bujang berhasil melaju hingga hari ketiga Festival Pacu Jalur Kuansing 2026.

Bagi masyarakat Padang Tanggung, perjalanan tersebut sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Setiap kayuhan yang dilakukan para atlet seakan membawa serta nama desa. Setiap perjuangan di arena menjadi cerita yang akan dibawa pulang dan dikenang bersama.

Namun, harapan belum berhenti di sana.

Masyarakat, pemuda, dan mahasiswa KKN masih menyimpan doa besar agar Rajo Bujang mampu terus melaju hingga pertandingan terakhir dan mengukir prestasi tertinggi di arena Pacu Jalur.

Harapan itu sederhana, tetapi begitu besar bagi sebuah desa yang berdiri bersama memberikan dukungan.

“Harapan kami sederhana, tetapi besar: Rajo Bujang bisa terus melaju, memberikan yang terbaik, dan membawa pulang gelar juara. Apa pun hasil akhirnya nanti, perjuangan para atlet sudah menjadi kebanggaan bagi Desa Padang Tanggung. Namun tentu kami ingin melihat Rajo Bujang berdiri sebagai juara dan mengharumkan nama desa di Tepian Narosa,” ujar salah seorang mahasiswa KKN.

Baca juga:Festival Pacu Jalur Nasional 2026 Dipastikan Semarak, 77 Jalur Sudah Terdaftar


Di arena, kemenangan memang menjadi tujuan. Namun di balik persaingan itu, ada nilai yang jauh lebih besar.

Rajo Bujang telah menyatukan banyak orang dalam satu semangat.

Di atas jalur, para atlet berjuang dengan tenaga yang mereka miliki. Di tepian, masyarakat membalas perjuangan itu dengan sorakan dan doa. Para pemuda ikut menjaga api semangat, sementara mahasiswa yang datang untuk mengabdi memilih menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat yang mereka temui selama menjalankan KKN.

Ketika dayung kembali menghentak air Sungai Kuantan, harapan pun kembali mengalir.

Mungkin tidak semua doa terdengar. Tidak semua dukungan terlihat oleh para atlet yang sedang berjuang di atas jalur. Tetapi satu hal yang pasti, Rajo Bujang tidak pernah benar-benar berjuang sendirian.

Di belakang setiap kayuhan, ada Desa Padang Tanggung yang percaya.

Ada masyarakat yang menunggu dengan harapan.

Ada generasi muda yang ingin budaya ini tetap hidup.

Dan ada mahasiswa KKN yang belajar bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dari ruang kelas atau program kerja. Terkadang, pengabdian juga berarti berdiri bersama masyarakat, merasakan kebanggaan mereka, dan ikut menjaga warisan yang menjadi identitas sebuah daerah.

Penulis
: Rabbi Fernanda
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)