KAMPAR, datariau.com - Pendampingan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) mulai membawa perubahan terhadap kehadiran warga belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumah Kerlip Beriman, Koto Tuo, Kabupaten Kampar.
Sebelum adanya pendampingan, kegiatan pembelajaran di PKBM tersebut kerap diikuti hanya satu hingga dua warga belajar dalam setiap pertemuan. Namun, setelah mahasiswa UMRI melakukan pendampingan dan menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif, jumlah kehadiran mulai meningkat hingga mencapai tujuh orang.
Perubahan tersebut diketahui saat tim mahasiswa melakukan asesmen pada 6-7 Juni 2026. Dalam asesmen tersebut, mahasiswa tidak hanya melihat proses pembelajaran, tetapi juga berdialog langsung dengan warga belajar, orang tua, guru, serta perangkat desa.
Baca juga:KUKERTA UNRI Resmi Serahkan Website Desa Koto Tuo, Perkuat Digitalisasi dan Transparansi Informasi Publik
Dari hasil asesmen, mahasiswa menemukan sejumlah tantangan yang dihadapi PKBM, salah satunya berkaitan dengan konsistensi kehadiran warga belajar.
Meski jumlah siswa yang hadir terkadang sangat sedikit, para guru PKBM tetap menjalankan kegiatan pembelajaran setiap pekan. Bahkan, Asni, salah seorang guru PKBM Rumah Kerlip, mengungkapkan pernah ada siswa yang tidak hadir ketika ujian.
Untuk memastikan siswa tersebut tetap dapat mengikuti ujian, guru bahkan harus mengantarkan lembar ujian langsung ke rumah siswa.
Baca juga:Mahasiswa KKN UNRI Sukses Sosialisasikan Google Maps untuk Promosikan Desa Koto Tuo
Kondisi tersebut menjadi perhatian mahasiswa UMRI. Tim kemudian mematangkan konsep pendekatan pembelajaran baru melalui KERLIP-QUEST.
KERLIP-QUEST diterapkan dalam kegiatan belajar setiap akhir pekan dengan menghadirkan aktivitas yang lebih interaktif. Pendekatan ini dirancang untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik dan mendorong warga belajar agar lebih aktif mengikuti kegiatan.
Mahasiswa tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga berupaya menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan kondisi warga belajar.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Desa Koto Tuo Berinovasi: Bank Sampah dan Ecobrick Hijaukan Taman Toga
Hasil awal dari pendekatan tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah peserta yang hadir. Dari sebelumnya hanya sekitar satu hingga dua orang dalam satu pertemuan, kini jumlah warga belajar yang mengikuti kegiatan dapat mencapai tujuh orang.
Bagi warga belajar PKBM Rumah Kerlip Beriman, melanjutkan pendidikan memiliki alasan yang beragam. Salah satunya adalah keinginan memperoleh ijazah untuk membuka peluang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Rahman, salah seorang siswa Paket C, mengatakan ijazah menjadi salah satu alasan dirinya tetap berusaha mengikuti pendidikan di PKBM.
“Susah cari kerja kalau nggak ada ijazah, Kak. Makanya mau kejar Paket C,” ujar Rahman.
Baca juga:Nyaman Dibaca Tanpa Iklan Menutup Halaman Berita, Media Online Data Riau Jadi Pilihan Mahasiswa untuk Ekspos Tugas Kuliah
Sementara itu, Alwi memandang pendidikan bukan sekadar sarana untuk memperoleh ijazah. Menurutnya, proses belajar juga penting untuk menambah pengetahuan dan wawasan.
“Tujuan utamanya sih pasti ijazah, tapi ya buat nambah pengetahuan juga, Bang,” ujar Alwi.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa warga belajar memiliki motivasi masing-masing dalam mengikuti pendidikan kesetaraan. Karena itu, pendekatan pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan dan karakter mereka menjadi penting.
Melalui program KERLIP-QUEST, mahasiswa KKN UMRI berupaya menghadirkan suasana belajar yang lebih hidup sekaligus membangun motivasi warga belajar untuk hadir secara rutin.
Baca juga:Media Online Tempat Memuat Berita Kukerta, Ribuan Artikel Mahasiswa Tayang di Data Riau
Peningkatan kehadiran dari satu hingga dua orang menjadi tujuh orang menjadi salah satu perkembangan positif dari proses pendampingan tersebut.
Mahasiswa UMRI berharap pendekatan pembelajaran interaktif yang diterapkan di PKBM Rumah Kerlip Beriman dapat terus dikembangkan dan memberikan dampak berkelanjutan bagi warga belajar.
Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi sederhana dalam metode pembelajaran dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, khususnya bagi warga yang mengikuti program pendidikan kesetaraan.***