SMPN 7 Tambang Suruh Anak Beli Sapu, Kepala Sekolah Sebut Karena Tak Ada Dana

datariau.com
4.530 view
SMPN 7 Tambang Suruh Anak Beli Sapu, Kepala Sekolah Sebut Karena Tak Ada Dana
Irwansyah
Gedung SMPN 7 Tambang.

TAMBANG, datariau.com - Murid SMPN 7 Tambang Kabupaten Kampar yang melakukan kesalahan, diminta membeli sapu untuk sekolah. Hukuman ini dinilai tidak mendidik.

 

"Kalau seperti ini yang dihukum bukan murid, tapi kami sebagai orangtua," keluh seorang orang tua yang anaknya bersekolah di SMPN 7 Tambang, kemarin.

 

Bahkan anak-anak yang melanggar peraturan sekolah juga dikenakkan pembelian barang lainnya untuk sekolah, seperti spidol dan tong sampah yang kualitas bagus. Wali murid menilai hukuman seperti ini tidak mendidik untuk anak.

 

"Ya harus ditinjau ulang, hukumannya yang mendidik lah buat anak," pungkasnya.

 

Kepala SMPN 7 Tambang Emelfa SPd saat dikonfirmasi datariau.com di ruangnya, Sabtu (9/12/2017) mengakui adanya hukuman tersebut, dimana ada 8 anak yang saat itu melanggar, tidak shalat Zuhur dan cabut, mangkal di kedai luar sekolah.

 

"Memang kalau beli sapu saya akui, namun tidak semuanya ngumpulkan, gak dipaksa," kata Emelfa.

 

Emelfa menjelaskan, bahwa kebijakan itu terpaksa diambilnya karena kondisi keuangan sekolah yang memprihatinkan, sekolah ini baru 1,5 tahun beroperasional, dan belum mendapatkan kucuran dana BOS.

 

"Mereka kita hukum suruh bersihkan WC, kemudian kita suruh beli sapu. Karena kondisi sekolah kita, sapu tak ada gini," ujarnya sambil menegaskan, bahwa hanya sapu yang disuruh beli, sementara spidol dan tong sampah tak ada.

 

Emelfa sendiri baru 2 bulan menjabat kepala sekolah di SMPN 7 Tambang, menggantikan Abukari kepala sekolah sebelumnya. Sekolah ini berada di dalam Kompleks Perumahan Permata Asri, Jalan Bupati, Desa Tarai Bangun kecamatan Tambang kabupaten Kampar.

 

Emelfa mengaku kenakalan anak di SMPN 7 Tambang ini lebih parah dari sekolah dia mengajar sebelumnya di SMPN 2 Tambang. Hal ini yang membuat Emelfa pusing sendiri, dana tidak ada, pungutan tak berani dilakukan karena melanggar aturan, maka sekolah menerapkan sistem hutang di fotokopi untuk keperluan ATK.

 

"Honor guru yang saya pusing, ada 30 guru disini 26 orang guru honor, sudah 4 bulan tak gajian. Sebelumnya gaji dari laba pakaian seragam anak-anak, itulah untuk honor guru Rp200 ribu per guru," terang Emelfa.

 

Jumlah murid di sekolahnya 223 anak yang terbagi dalam 8 ruang belajar, Kelas VII 5 lokal dan kelas VIII sebanyak 3 lokal. Emelfa berencana mengajak anak-anak yang terbilang nakal kunjungan ke LP Anak di Pekanbaru untuk melihat secara langsung anak-anak yang dikurung di penjara.

 

"Kasus anak di LP itu kata teman saya yaitu masalah pacaran kelewat batas, orangtua perempuan gak terima dan laporin anak ke polisi, terus kasus sabu-sabu, kita mau ajak anak-anak ke sana agar mereka ini tahu bagaimana dipenjara karena melanggar hukum, kalau kita yang ngomong gak dihiraukan," ujar Emelfa.

 

Namun masalahnya, lanjut Emelfa, lagi-lagi anggaran, saat ini apapun kegiatan menggunakan uang pribadi dan hutang, termasuk untuk potong rumput di pekarangan sekolah juga gunakan uang pribadi kepala sekolah menyewa tukang rumputnya.

 

"Sekarang kondisi memang memperihatinkan, sekolah tak ada labor IPA, lapangan voli dan fasilitas lainnya. Dana BOS sudah kita urus katanya menunggu, sedang diproses," harapnya.

 

Disinggung adanya informasi guru melakukan les mata pelajaran di sekolah ini, Emelfa mengaku tidak tahu pasti. "Sepertinya hanya Matematika, gak tahu juga saya," ungkapnya.

Penulis
: Irwansyah
Editor
: Agusri
Sumber
: Datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)