DATARIAU.COM - Disebutkan dalam hadits shahih, bahwa sebelum Isra' Mi'raj, dada Nabi shallahu alaihi wasallam di buka untuk dibersihkan hatinya dengan air zam-zam, dan ditambahkan padanya iman dan hikmah, lalu dada itu ditutup kembali.
"Kemudian Jibril membawa beliau NAIK ke langit dunia..
Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit kedua..
Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit ketiga..
Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit keempat..
Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit kelima..
Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit keenam..
Kemudian Jibril membawa beliau NAIK lagi ke langit ketujuh..
Kemudian beliau NAIK ke atas lagi, sampai ke tempat yang tidak ada yang tahu kecuali Allah, sehingga beliau sampai ke Sidrotul Muntaha, dan mendekat kepada Allah ta'ala untuk menerima wahyu wajibnya shalat lima waktu". [HR. Bukhori 7517].
-----
Lihatlah berapa kali disebutkan kata NAIK dalam riwayat ini?
Bukankah naik itu harus ke atas?!
Adakah naik yang berarti ke bawah atau ke samping?!
Dalam riwayat ini juga di sebutkan naik ke langit dunia.
Bukankah langit dunia itu di atas kita?!
Adakah yang mengatakan bahwa langit dunia itu di bawah kita?!
Jika langit dunia di atas kita, apalagi langit yang di atasnya lagi.
Mengapa mudah menerima kenyataan bahwa langit-langit itu di atas kita, tapi sulit menerima bahwa Allah berada di atas, dan tidak ada lagi yang lebih tinggi dari Allah ta'ala?
Bukankah Allah sendiri telah menegaskannya dalam Al-Qur'an, bahkan tidak hanya dalam satu dua ayat, tapi dalam TUJUH ayat, bahwa Dia berada di atas Arsy?!
[Lihat: Al-A'rof:54, Yunus:3, Ar-Ra'd:2, Thaha:5, Al-Furqan:59, As-Sajdah:4, Al-Hadid:4].
Ketika Anda sujud dan meminta kepada Allah, ke manakah hati Anda mengarah?
Bukankah ke atas?!
Ataukah hati Anda bingung tanpa arah?!
Saat Anda berdo'a dalam keadaan duduk atau berdiri, mengapa tangan Anda menengadah ke atas?
Mengapa saat anda sangat berharap dikabulkan doanya, Anda tengadahkan wajah Anda ke langit?!
Saudaraku. Islam yang benar, akan selalu sesuai dengan akal, fitrah manusia, dan dalil syariat. Dan semuanya menunjukkan bahwa Allah berada di atas, berada di atas Arsy-Nya.
Maka sangat bathil pemahaman sebagian orang yang mengatakan Allah berada di mana-mana, Allah tidak memiliki tempat, bahkan sebagian mengatakan Allah ada di hati mereka. Semua ini karena kedangkalan ilmu dan tidak perhatian terhadap agamanya.
Mari lembutkan hati, tinggalkan ego, pelajarilah Al Quran dan hadits-hadits shahih, jangan hanya ngotot beribadah dan beragama mengikut tradisi dan kebiasaan nenek moyang saja tanpa mau tahu, ibadah itu ada di Al Quran atau sunnah Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam atau tidak. Semoga bermanfaat..