"Bullying" dan Budaya Literasi

mita
594 view
"Bullying" dan Budaya Literasi
Foto: katadata.co.id
ilustrasi: Bullying (Perundungan).

DATARIAU.COM - Kasus bullying atau perundungan tidak hanya terjadi di sekolah yang dikelola oleh pemerintah dan umum (swasta) saja, kini bahkan sudah merambah ke pondok pesantren. Maraknya perundungan menjadi kegelisahan semua orang terutama orangtua.

Bullying (perundungan) kembali menjadi trending topic di media setelah mencuatnya kejadian di beberapa sekolah dan pesantren elite yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Terbayang bagaimana hancur dan tersayatnya jiwa orangtua si korban, yang berharap anaknya kembali dengan membawa ilmu pengetahuan, malah pulang sudah menjadi mayat dengan penuh luka dan lebam karena disiksa teman-temannya sendiri.

Baca Juga:Santri Meninggal Dianiaya Senior, Ini Tanggapan KemenPPPA dan Pakar Anak UM Surabaya

Dikutip dari kompas.com peristiwa tersebut seolah sudah menjadi rutinitas tahunan, tetapi sampai hari ini belum ada penanganan serius dan komprehensif, mencari akar masalahnya dan bagaimana solusinya. Bahaya sekali apabila bullying (perundungan) dianggap sebagai kenakalan remaja biasa, karena dampak dan efeknya bukan saja akan mencoreng dunia pendidikan, tetapi juga menjadi preseden buruk pada modal sosial bangsa Indonesia.

Ada banyak faktor yang mengakibatkan perilaku bullying oleh peserta didik, di antaranya yang paling mendasar adalah buruknya ekosistem pendidikan, krisis keteladanan, dan kualitas serta kuantitas pengajar. Dalam tulisan ini saya akan membahas faktor lain yang jarang dibahas, yaitu rendahnya budaya literasi peserta didik, yang menurut saya justru paling mendasar.

Bullying yang terjadi di sekolah dan pesantren elite seolah menegasikan peran infrastruktur. Kemegahan infrastruktur sekolah atau pesentren belum tentu menjadi jaminan kualitas pengajaran. Namun mayoritas orangtua justru menjadikan kemegahan infrastruktur salah satu indikator kualitas lembaga pendidikan karena itulah yang kasat mata.

Biaya yang mahal juga seolah menjadi jaminan, karena sering kali dianalogikan dengan membeli barang, “harga tidak akan berdusta.” Namun bullying juga sering terjadi di lembaga pendidikan yang infrastrukturnya sangat sederhana, bahkan seadanya.

Namun, tidak bisa juga dijadikan pembenaran dengan anggapan bahwa yang megah saja seperti itu, apalagi yang kumuh. Jadi potensi bullying atau kekerasan bisa terjadi dalam lingkungan apa saja, maka di sinilah pentingnya ekosistem yang bagus.

Baca Juga:Presiden: Kasus Perundungan Jangan Ditutupi Demi Nama Baik Sekolah

Suherman analis data ilmiah dari BRIN mengatakan membangun budaya literasi di lembaga-lembaga pendidikan adalah solusi tepat untuk mengeliminasi (mencegah), bahkan menghilangkan perilaku bullying.

Pustakawan berprestasi terbaik tingkat ASEAN dan Peraih medali emas CONSAL Award ini menuturkan gerakan literasi sekolah yang digulirkan oleh Kemendikbudristek sudah tepat.Hanya saja harus dilakukan revitalisasi dan pengembangan secara berkelanjutan.

Ia melihat gerakan literasi sekolah yang digulirkan oleh Kemendikbudristek kian hari semakin redup.

“Namun harus diingat, kemahiran literasi saja bukanlah obat mujarab untuk mengobati bullying,” tegas Suherman, dikutip eduhistoria.com.

Literasi kata Suherman, hanyalah cara atau alat untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan. Literasi seperti pisau bisa digunakan untuk menyembelih ayam atau menggorok leher manusia.

Ia mengingatkan dalam genggaman orang-orang pintar yang tidak bermoral, kemahiran literasi justru menjadi mesin kekerasan, bahkan mesin pembunuh yang paling berbahaya.

Oleh karena itu yang harus sangat diperhatikan imbuhnya adalah pesan atau isi dari bacaan, jangan sampai melupakan eksistensi Tuhan atau demensi moral dalam kegiatan membaca.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)