Pilar Negara: Penjaga Gerbang dan Pembentuk GenerasiIni peran yang paling hilang di sistem sekuler. Dalam Islam, negara adalah raa’in, penggembala yang bertanggung jawab atas rakyatnya. Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya dimakan serigala digital.
Pertama, negara wajib menerapkan sensor konten berbasis syariat. Semua konten digital harus lulus uji halal-thayyib. Jika mengandung kekerasan ekstrem, pornografi, judi, atau ajakan bunuh diri, maka wajib diblokir total. Tidak peduli platform itu milik perusahaan asing atau penyumbang pajak besar. Nyawa rakyat lebih mahal dari cuan perusahaan. Ini adalah bentuk nahi munkar dengan tangan, sebagaimana perintah Rasulullah dalam hadis Muslim.
Kedua, negara wajib mengkriminalkan korporasi yang memproduksi konten berbahaya untuk anak. Jika pabrik obat palsu bisa dipidana, maka platform yang membunuh anak juga harus dipidana. CEO dan direkturnya harus bertanggung jawab secara hukum. Tanpa sanksi berat, mereka tidak akan berhenti.
Ketiga, negara wajib membangun ekosistem pendidikan kaffah 24 jam. Sekolah hanya 7 jam sehari. Sisanya 17 jam adalah tanggung jawab media negara, perpustakaan, dan ruang publik. Negara harus memproduksi kartun edukasi, sinetron moral, dan game halal yang lebih seru dari Free Fire. Tujuannya membentuk generasi yang cerdas secara intelektual dan kuat secara aqidah.
Keempat, negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat. Ketika ibu tidak perlu bekerja 12 jam di pabrik atau menjadi TKI, maka ia bisa fokus menjadi madrasah pertama bagi anaknya. Di masa Umar bin Khattab, setiap anak yang lahir mendapat tunjangan bulanan dari Baitul Mal. Tujuannya jelas: agar ibu fokus mengasuh.
Pilihan Kita Hari IniPerang Khandaq dimenangkan karena 3000 orang menggali parit 5,5 km. Mereka tidak menunggu malaikat datang menggali. Mereka bekerja, lalu Allah kirim angin yang mengusir musuh.
Hari ini kita sedang dalam kondisi yang sama. Musuh tidak datang dengan pedang, tapi dengan algoritma. Musuh tidak menyerang benteng, tapi menyerang akal dan jiwa anak-anak kita.
Kita punya dua pilihan. Pertama, terus hidup di sistem sekuler yang hanya bisa memberi himbauan sambil membiarkan korporasi merusak generasi. Kedua, kembali kepada sistem Islam yang menempatkan nyawa anak lebih tinggi dari keuntungan perusahaan.
Parit digital tidak akan jadi hanya dengan kerja orang tua. Parit digital butuh kerja masyarakat dan negara. Kalau hanya orang tua yang gali, paritnya hanya 1 meter. Kuda algoritma tetap bisa loncat.
Dua anak di Lombok Timur sudah menjadi korban pada Mei 2026. Pertanyaannya: berapa anak lagi yang harus mati sebelum kita sadar bahwa sistem ini harus diganti?
Menjaga anak adalah menjaga masa depan umat. Dan menjaga masa depan umat adalah kewajiban setiap Muslim, setiap keluarga, setiap masyarakat, dan setiap negara. Jangan biarkan nyawa anak menjadi tumbal algoritma. Bangun parit digital sekarang, sebelum terlambat.
Wallahu'alambishoab.***
*) Penulis merupakan Aktivis IDARI (Ikatan Daiyah Riau)