SMM PANEL INDO

Tesso Nilo Tergerus, Ketika Rumah Satwa Berubah Menjadi Kebun dan Permukiman

Oleh: Rianda Ari Saputra
datariau.com
151 view
Tesso Nilo Tergerus, Ketika Rumah Satwa Berubah Menjadi Kebun dan Permukiman

DATARIAU.COM - Taman Nasional Tesso Nilo di Provinsi Riau merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia yang menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk gajah Sumatra, harimau Sumatra, tapir, beruang madu, serta beragam jenis satwa lainnya.

Kawasan yang ditetapkan untuk menjaga keanekaragaman hayati tersebut memiliki luas sekitar 81.793 hektare. Namun, luas kawasan tidak selalu menggambarkan kondisi hutan yang masih bertahan.

Perambahan hutan, pembukaan perkebunan kelapa sawit, penebangan ilegal, pembakaran hutan hingga pembangunan permukiman telah mengubah sebagian kawasan yang seharusnya menjadi rumah bagi satwa liar.

Menurut data resmi Kementerian Kehutanan, sekitar 20.438 hektare kawasan Taman Nasional Tesso Nilo telah menjadi kebun kelapa sawit. Pemerintah juga mencatat sebagian besar kawasan tersebut telah mengalami perambahan.

Kondisi itu semakin tergambar dari hasil kunjungan Satgas Penertiban Kawasan Hutan pada Juni 2025. Dari total kawasan Taman Nasional Tesso Nilo yang mencapai sekitar 81.793 hektare, disebutkan hanya sekitar 12.561 hektare yang masih tersisa.

Angka tersebut menjadi alarm serius bagi keberlangsungan kawasan konservasi Tesso Nilo.

Bagaimana mungkin kawasan yang luasnya lebih dari 81 ribu hektare kini hanya menyisakan sebagian kecil kawasan hutan yang masih bertahan?

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: ke mana satwa-satwa yang selama ini bergantung pada hutan tersebut harus pergi?



Ketika Rumah Satwa Hilang


Hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan. Bagi satwa liar, hutan merupakan tempat mencari makanan, berlindung, berkembang biak, serta berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Ketika kawasan hutan berubah menjadi perkebunan dan permukiman, ruang hidup satwa otomatis semakin menyempit.

Akibatnya, satwa liar semakin sering berada di sekitar aktivitas manusia.

Situasi tersebut kemudian dapat memicu konflik antara manusia dan satwa liar.

Persoalannya tidak tepat jika hanya dilihat dari sudut pandang apakah kehidupan manusia lebih penting daripada kehidupan satwa.

Menjaga habitat satwa pada dasarnya juga berkaitan dengan menjaga keselamatan dan kehidupan manusia.

Kerusakan hutan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan rantai makanan. Ketika satwa kehilangan sumber makanan serta tempat berlindung, mereka dapat terdorong keluar dari habitat alaminya untuk mencari ruang dan makanan baru.

Gajah, misalnya, membutuhkan wilayah jelajah yang luas. Ketika habitatnya terfragmentasi atau berubah fungsi, kemungkinan gajah memasuki perkebunan dan permukiman masyarakat dapat meningkat.

Begitu pula predator seperti harimau yang bergantung pada ketersediaan satwa mangsa. Ketika populasi mangsa dan habitatnya terganggu, satwa predator juga menghadapi tekanan untuk mencari sumber makanan di wilayah lain.

Konflik Manusia dan Gajah Bukan Sekadar Soal Satwa


Fenomena tersebut bukan semata-mata persoalan teoritis. Penelitian mengenai konflik manusia dan gajah di kawasan Tesso Nilo menunjukkan bahwa perubahan dan konversi hutan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya konflik.

Gajah diketahui dapat memasuki perkebunan masyarakat ketika habitat yang sebelumnya digunakan mengalami perubahan.

Pemerintah pun pernah menangani konflik ketika kelompok gajah liar memasuki kawasan perkebunan warga di sekitar Tesso Nilo.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan konflik manusia dan satwa liar perlu dilihat secara lebih utuh.

Ketika rumah satwa berubah menjadi perkebunan atau permukiman, ruang gerak mereka semakin terbatas.

Karena itu, menyalahkan satwa ketika mereka memasuki wilayah manusia tidak menyelesaikan akar persoalan.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: ketika habitat mereka semakin berkurang, ke mana satwa-satwa tersebut harus pergi?

Tesso Nilo dan Ancaman Perambahan


Kerusakan Tesso Nilo juga tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Profil resmi Taman Nasional Tesso Nilo menyebutkan sejumlah aktivitas yang berkaitan dengan degradasi kawasan, antara lain perambahan untuk perkebunan kelapa sawit, penebangan ilegal, pembakaran hutan serta pembangunan permukiman.

Berbagai aktivitas tersebut secara langsung maupun tidak langsung memberikan tekanan terhadap ekosistem taman nasional. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, kawasan konservasi berisiko kehilangan fungsi ekologisnya secara bertahap.

Padahal, keberadaan kawasan konservasi bukan hanya untuk melindungi satwa. Hutan juga memiliki fungsi ekologis yang berkaitan dengan tata air, iklim mikro, kesuburan tanah, penyimpanan karbon serta keberlangsungan berbagai jenis tumbuhan dan satwa.

Dengan kata lain, ketika hutan rusak, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan.

Kerusakan tersebut dapat memengaruhi keseluruhan ekosistem yang pada akhirnya juga bersentuhan dengan kehidupan manusia.

Penegakan Hukum dan Pemulihan Hutan


Persoalan Tesso Nilo membutuhkan penanganan yang tidak berhenti pada penertiban kawasan.

Pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas perambahan serta penggunaan kawasan konservasi secara ilegal.

Pada saat yang sama, kawasan hutan yang telah mengalami kerusakan perlu dipulihkan melalui rehabilitasi dan pemulihan habitat.

Upaya tersebut juga harus memperhatikan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Masyarakat membutuhkan sumber penghidupan. Karena itu, penyediaan alternatif mata pencaharian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dari upaya perlindungan kawasan.

Konservasi tidak akan berjalan maksimal jika masyarakat hanya ditempatkan sebagai objek.

Mereka justru perlu dilibatkan sebagai bagian dari solusi dalam menjaga kawasan hutan.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)