Oleh: Putri Permata Sari

Strategi Menangkal Radikal Menuai Kontroversial

datariau.com
857 view
Strategi Menangkal Radikal Menuai Kontroversial
Putri Permata Sari
DATARIAU.COM - Menteri Agama Fahrul Razi sukses menjadi sorotan publik melalui webinar yang bertajuk ?Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara? pada Rabu (2/9) lalu. Pasalnya, dalam acara yang ditayangkan oleh channel resmi Youtube Kemen PAN-RB tersebut, Fahrul Razi memberikan beberapa pernyataan yang cukup kontroversial terkait radikalisme, sehingga timbul beragam komentar dari berbagai pihak. Ia bahkan berencana menerapkan program sertifikasi penceramah bagi semua agama mulai dari bulan ini. ?Akan kami mulai bulan ini, tahap awal akan kami cetak 8200 orang? kata Fahrul dalam webinar tersebut. Fahrul mengatakan akan bekerjasama dengan berbagai pihak seperti majelis keagamaan, ormas keagamaan, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).


Dilansir dari detiknews.com (7/9) Menag menyampaikan bahwa selain melalui pendidikan, ada paham radikal yang masuk melalui rumah ibadah ASN, atau di lingkungan masyarakat. Menag mengaku pernah mendeteksi adanya paham radikal di lingkungan kementerian, tapi dia tidak menyebutkan kementerian mana yang dimaksud. ?Saya katakan di tempat institusi pemerintahan sangat banyak peluang untuk masuknya pemikiran-pemikiran radikalisme. Sehingga saya mengingatkan seorang menteri karena saya pernah shalat jumat di tempat itu, mohon maaf kalau saya bilang shalat jumat, bukan berarti yang radikal itu orang muslim saja, bukan. Saya shalat jumat di masjid itu saya terkejut kok khutbahnya menakutkan banget? ungkapnya. Semakin banyak kalangan yang terpapar paham radikal, sehingga perlu upaya serius dalam menangani kasus ini.

Tujuan dari program sertifikasi penceramah ini adalah untuk mencetak penceramah yang memiliki bekal wawasan kebangsaan, menjujung tinggi ideologi pancasila, dan untuk mencegah penyebaran paham-paham radikalisme di tempat ibadah. ?Mudah mudahan dengan itu bisa mengeliminasi penyebarannya (Pemahaman Radikal)." Di sisi lain, Menag juga menyampaikan pola masuknya paham radikal hingga bisa berkembang ditengah masyarakat, salah satunya melalui masjid. ?Cara masuk mereka gampang kalau saya lihat polanya, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa arabnya bagus, hafidz, mulai masuk ikut-ikut jadi imam lama-lama orang simpati diangkat jadi pengurus masjid, kemudian mulai masuk ide-ide yang kita takutkan (radikal)?.

Pernyataan ini lah yang kemudian mengundang reaksi dari berbagai golongan, terutama para tokoh dan jagat sosial media. Banyak orang yang mempertanyakan maksud statement negatif dari Menteri berlatar belakang militer tersebut.

Pernyataan Kontroversial

Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui wakil ketua umum MUI Muhyidin Junaidi menanggapi pernyataan Menag saat diwawancarai wartawan beberapa hari lalu. Ia mengatakan agar Menteri Agama lebih banyak membaca literatur yang benar terkait ajaran Islam. Ia merespon pernyataan Fahrul soal radikalisme yang masuk melalui sosok berpenampilan baik ( good looking) ke tengah masyarakat. Menurut Muhyidin dengan banyak membaca literatur Islam, Fahrul bisa tercegah dari jebakan naskah yang diduga disiapkan pihak lain yang memiliki agenda terselubung di Indonesia.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily mengkritik pernyataan Menag Fahrul Razi yang mengungkapkan bahwa salah satu cara paham radikalisme masuk ke masjid-masjid di lingkungan pemerintahan, BUMN, dan ditengah masyarakat adalah dengan menempatkan orang yang memiiki paham radikal dengan kemampuan keagamaan dan penampilan yang mumpuni. ? Sebaiknya Pak Menteri mempelajari dulu secara komprehensif berbagai kajian dan studi tentang bagaimana paham radikalisme itu menyebar,? kata Ace kepada cnnndonesia.com jumat (4/9).

Haruskah Berkutat pada Radikalisme?

Jika kita menelaah upaya pemerintah dalam mengatasi masalah negeri ini, maka masalah radikalisme sering menjadi sorotan utama pemerintah. Misalnya, dilansir dari Industry.co.id (03/09), Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) semakin memusatkan perhatiannya kepada isu radikalisme di kalangan Aparatur Sipil Negara. Tidak tanggung-tanggung, peluncuran aplikasi ASN No Radikal diklaim sebagai salah satu upaya untuk menangkal penyebaran paham radikal dikalangan ASN tersebut.

Sejatinya, kecemasan pemerintah atas penyebaran paham radikal adalah kekhawatiran yang tidak jelas. Pasalnya klaim radikal ala pemerintah ini bersifat tendensius. Pihak yang selalu dipojokkan dalam isu ini adalah Umat Islam, khususnya Ormas-ormas Islam tertentu yang konsisten dalam berdakwah, serta berani mengkritik pemerintah saat keliru dalam mengambil kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Di sisi lain, tidak ada sedikitpun bukti bahwa orang-orang good looking yang diklaim radikal tersebut pernah menyebabkan masalah di negeri ini. Korupsi, pemberontakan bersenjata, atau masalah apapun, semuanya justru berasal dari 'pihak lain' yang tidak tersentuh. Siapapun yang memiliki akal dan hati nurani, tentu mampu melihat bahwa Indonesia sedang dirundung banyak masalah. Pandemi COVID-19 menyebabkan krisis multidimensi, sehingga Indonesia nyaris di ambang resesi. Bukankah ini lebih urgen untuk diurusi oleh Negara?

Keberadaan para kapitalis asing yang menggurita dan menguasai banyak sektor di negeri ini, apakah ini tidak perlu untuk disoroti? Dan banyak lagi masalah-masalah besar yang menjadi PR bagi pemerintah Indonesia selain isu radikalisme yang faktanya pun tidak terlihat sampai hari ini. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kebebasan yang diagungkan negeri demokrasi ternyata tidak berlaku untuk mereka yang serius menyuarakan Islam. Aktivitas mengkritik penguasa sering dilabeli dengan menebar kebencian. Sadar atau tidak, kita melihat fakta bahwa demokrasi sudah terciderai dan tidak mampu memberikan solusi.

Sementara itu, sebagai bangsa yang mayoritas beragama Islam, kita bisa belajar dari sejarah masa kejayaan Islam. Peradaban Islam pernah menorehkan tinta emasnya selama lebih dari 12 abad. Selama itu, Islam hadir menyatukan kemajemukan ditengah masyarakat. Islam juga hadir memberikan solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi, sehingga kondisi masyarakat di kala itu mencapai puncak kejayaannya, mengungguli bangsa-bangsa selainnya. Islam tidak hanya sebagai agama spiritual semata, tetapi juga sebagai pengatur kehidupan bernegara. Dan terakhir, Islam bukan sumber radikalisme.

Allahu?alam bishawab. (*)

Oleh: Putri Permata Sari (Mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Riau)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)