DATARIAU.COM - Dia seseorang yang berpandangan jauh ke depan. Dia telah hidup di berbagai zaman. Mulai dari zaman Inggris, zaman Jepang, zaman Tengku Abdurrahman, zaman Michael Jackson, sampai zaman Google. Dia adalah saksi hidup dari runtuhnya Soviet, jatuhnya Saddam Hussein, sampai dibunuhnya Khadafi. Dia adalah otak dari sebuah negara yang tadinya mengandalkan penjualan timah dan karet, menjadi negara yang menjual mobil buatan rakyatnya sendiri.
Dialah orang yang pemikiran-pemikirannya mengilhami Abdul Razak dan Hussein Onn untuk membuat kebijakan baru yang menciptakan kesejahteraan bagi semua rakyatnya. Dialah orang yang membuat ibukota negaranya menjadi tak terlalu kalah dengan ibukota Prancis. Di usianya yang sudah tak muda lagi, dia memilih jalan yang berbeda. Karena rasa cintanya yang dalam terhadap negara.
Dia memang orang yang fenomenal. Di usianya yang ke-100 tahun, dia masih kuat. Tubuhnya, akalnya, dan jiwanya. Pemikirannya tetap tajam. Bahkan sering kali lebih tajam daripada kebanyakan orang. Dia tetap terhubung dengan banyak orang melalui blog-nya. Pemahamannya terhadap keadaan terkini negaranya sangat mendalam. Begitu juga dengan pemahamannya terhadap keadaan dunia hari ini.
Di masa pemerintahannya dulu, dia telah membawa negaranya menjadi negara yang dikagumi dan disegani di seluruh dunia. Tak hanya menjadi negara yang berkembang pesat ibukotanya, tapi dia juga telah membantu semua warga negaranya mendapatkan kesejahteraan dalam kejayaan negaranya. Dan membuat negaranya menjadi tujuan utama pekerja dari negara-negara dunia ketiga di sekitarnya.
Terilhami dari kejayaan peradaban Islam di Andalusia, dia telah menciptakan sebuah negara dengan peradaban yang berbeda. Yang tak pernah ada di negara lain semenjak zaman perang dunia ke-II berakhir. Dan itu dilakukan hanya dalam waktu yang sangat singkat. Yang bahkan tak bisa dilakukan Khalifah Abdurrahman Al Nasher dalam waktu 49 tahun pemerintahannya di Cordoba.
Tindakannya saat menghadapi ''Masalah Asia 1997'' yang telah menyelamatkan negaranya membuktikan kecerdasan, kebijaksanaan, dan keteguhan hatinya. Setelah masa-masa gawat darurat itu selesai, perusahaan-perusahaan negaranya menjajah Asia Tenggara. Dan beragam pembangunan spektakuler di negaranya telah membuat negara-negara Asia lainnya terpacu untuk mengalahkannya. Akhirnya muncullah Menara 101 dan Burj Khalifa.
Dia bukan seorang pendendam. Dimasa mudanya dia pernah terlibat perselisihan dengan pemimpinnya yang membuat dia ditendang dari partainya, dan dikucilkan dari bidang kegemarannya. Tapi setelah pemimpinnya itu tiada, dia justru menamakan pusat pemerintahan yang dia gagas dengan nama orang yang pernah menghambatnya dulu. Tindakan yang tak ada duanya.
Semua lawan politiknya sering mengatakan dia seorang diktator. Bahkan dia sampai digelar sebagai Fir'aun. Tapi kenyataannya dia tak mewariskan kekuasaan kepada anaknya atau saudaranya, disaat dia sedang sangat berpeluang untuk melakukan itu. Dia juga tak mengharuskan monumen-monumen di negaranya diabadikan dengan namanya. Bahkan saat dia telah wafat.
Kalaupun dia dianggap diktator, diktator mana di dunia ini yang sejaya dia? Apa yang diwariskan Ferdinand Marcos kepada negaranya? Adakah karya seni sekelas menara kembar yang dibuat Hun Sen selama 38 tahun memerintah negaranya? Sejauh mana kerja Suharto memberantas komunis disyukuri rakyatnya? ... Dan yang pasti dia tak seperti Adolf Hitler dan Joseph Stalin.
Dia bukanlah pemimpin negara yang negaranya telah ratusan tahun berjaya. Tapi dia mewariskan sebuah negara yang berjaya dan termasyhur kepada penerusnya. Negara yang didambakan banyak orang, khususnya di dunia ketiga. Semua hal yang dia buat adalah untuk negara yang sangat dicintainya. Dialah Tun Dr Mahathir Mohamed.***
*) Penulis adalah alumni Universitas Islam Indonesia, tinggal di Batam.