DATARIAU.COM - Zaitun bukan sekadar pohon bagi rakyat Palestina. Ia adalah identitas, ia adalah sejarah yang mengakar, ia adalah nadi kehidupan yang menghubungkan mereka dengan tanah yang telah mereka jaga selama ratusan tahun.
Ketika zaitun ditebang, yang ingin dicabut bukan hanya kayunya, tetapi eksistensi sebuah bangsa. Peristiwa yang terus berulang di musim panen tahun ini kembali menyingkap wajah asli penjajahan Israel.
Fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan betapa sistematisnya kejahatan ini.
Pertama, pohon zaitun merupakan simbol identitas lokal Palestina yang mengkoneksikan hubungan mendalam antara penduduk Palestina dengan tanah mereka.
Kedua, sebanyak 90.000 lebih keluarga Palestina bergantung secara ekonomi terhadap pertanian zaitun dan termasuk sektor yang menyumbang 8 persen dari PDB.
Ketiga, penyerangan terhadap pertanian zaitun sudah berlangsung lama namun meningkat eskalasinya pada saat musim panen yaitu sekitar di bulan Oktober dan November.
Keempat, sejak awal musim panen zaitun di 2026 ini, sudah terjadi sekitar 200 serangan oleh penduduk penjajah Israel dan didukung IDF, yang menimbulkan 1 orang Palestina tewas, lebih dari 120 orang Palestina terluka, dan lebih dari 2500 pohon zaitun dirusak.
Kelima, di momen tersebut, jurnalis, aktivis serta politikus dalam dan luar negeri juga mendapatkan serangan.
Keenam, Marco Rubio selaku sekretaris luar negeri AS dan Mike Huckabee selaku duta besar AS untuk Israel menyatakan kekhawatiran atas peristiwa penyerangan jurnalis AS dan diplomat Eropa dan meminta Israel menyelidikinya.
Ketujuh, European Union mengecam keras serangan terhadap para diplomatnya dan para petani zaitun, namun tidak diikuti dengan tindakan apapun, seperti kecaman-kecaman sebelumnya.
Jika direnungkan lebih dalam, rangkaian fakta tersebut bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari desain besar penjajahan yang terencana.
Pertama, Israel bertujuan untuk merusak kondisi ekonomi dan akar budaya rakyat Palestina sehingga memaksa mereka untuk pergi dari tanah Palestina. Menghancurkan zaitun berarti menghancurkan sumber hidup dan memutus ikatan batin mereka dengan tanahnya.
Kedua, penyerangan terhadap jurnalis dan aktivis adalah supaya mereka berhenti membersamai petani Palestina saat panen dan supaya kekejaman Israel tidak terekspos kepada dunia. Israel ingin kejahatannya tetap gelap dan tidak bersuara.
Ketiga, sikap kepedulian AS hanya dikarenakan penyerangan terjadi pada warga negara AS dan para diplomat EU. Kepedulian itu bukan untuk petani Palestina yang telah lama menjadi korban, tetapi demi warga mereka sendiri.
Keempat, kecaman EU belum pernah bisa berhasil pada level tindakan apapun. Kecaman demi kecaman hanya menjadi retorika kosong yang tidak pernah menghentikan buldoser Israel.
Kelima, kebrutalan Israel terhadap Palestina telah banyak mengundang kebencian warga dunia namun tetap saja tidak ada perubahan berarti terkait kondisi Palestina. Tanpa kekuatan nyata, kemarahan dunia hanya berhenti menjadi simpati.
Keenam, para penguasa muslim terutama negara-negara Arab hanya berdiam diri bahkan menjadi kaki tangan Israel dan AS. Mereka menyaksikan akar umatnya dicabuti tanpa melakukan pembelaan yang berarti.
Inilah yang seharusnya menyadarkan kita bahwa persoalan Palestina tidak akan pernah selesai dengan sekadar mengandalkan kecaman internasional atau belas kasihan penjajah.
Sebab tanah Palestina bukan tanah biasa. Ia adalah tanah kaum muslimin dan memiliki posisi istimewa dalam Islam yang harus dipertahankan. Di sanalah kiblat pertama dan masjid ketiga yang dimuliakan, Al-Aqsa berada.
Kondisi Palestina saat ini juga menunjukkan satu kenyataan pahit. Umat Islam tidak bisa menggantungkan nasibnya pada pembelaan siapapun kecuali pada dirinya sendiri.
Hal itu hanya bisa terwujud dengan hadirnya kesatuan umat atau khilafah yang berpegang teguh pada Al Quran dan As Sunnah. Tanpa kesatuan itu, umat akan tetap tercerai berai dan mudah dihinakan.
Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menghentikan kezaliman Israel, AS, dan sekutu-sekutunya adalah dengan mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin di bawah kepemimpinan khilafah.
Hanya kekuatan yang dipimpin oleh kepemimpinan Islam yang satu yang mampu mencabut penjajahan hingga ke akarnya dan menjaga setiap pohon zaitun serta setiap jiwa di Palestina. Wallahu'alambishoab.***
Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan artikel opini penulis. Seluruh pandangan, analisis, dan kesimpulan di dalamnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi DATARIAU.COM.