Literasi Keuangan 49,68%: Kesenjangan Antara Pengetahuan dan Realitas Perilaku Keuangan di Indonesia

Penulis: Ashraf Naufal Saputra*
datariau.com
857 view
Literasi Keuangan 49,68%: Kesenjangan Antara Pengetahuan dan Realitas Perilaku Keuangan di Indonesia

DATARIAU.COM - Perilaku keuangan (financial behavior) merupakan pilar utama yang menentukan stabilitas dan prospek kesejahteraan finansial seseorang di masa depan, dan secara praktis, ini diwujudkan melalui serangkaian upaya sistematis yang mencakup pengembangan kebiasaan menabung yang teratur, pengambilan keputusan investasi yang terinformasi dan bijaksana, serta manajemen utang yang disiplin dan bertanggung jawab, semuanya terangkum dalam kerangka perencanaan keuangan yang terstruktur dan realistis. Untuk memfasilitasi adopsi perilaku yang sehat ini, ekosistem keuangan modern menawarkan spektrum luas produk dan layanan, mulai dari platform tabungan digital yang inovatif dan mudah diakses, produk investasi yang beragam seperti reksa dana, saham, dan obligasi yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai profil risiko, hingga instrumen pembiayaan dan layanan konsultasi perencanaan keuangan personal yang membantu individu merumuskan anggaran, menentukan tujuan jangka pendek dan panjang, serta mengantisipasi kebutuhan darurat.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2022, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 49,68%, meningkat dari tahun 2019 (38,03%). Meskipun meningkat, ini menunjukkan bahwa masih ada separuh populasi yang memiliki pemahaman terbatas mengenai produk, risiko, dan manfaat layanan keuangan.

Di banyak negara maju, rasio utang rumah tangga terhadap pendapatan (Debt-to-Income Ratio) telah menjadi indikator utama kerentanan finansial. Data menunjukkan bahwa rumah tangga dengan rasio utang yang tinggi (terutama utang kartu kredit dan pinjaman non-produktif) cenderung memiliki tabungan darurat yang lebih rendah, membuat mereka sangat rentan terhadap guncangan ekonomi tak terduga (misalnya, kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan mendadak).

Sebuah laporan dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyoroti bahwa banyak negara menghadapi krisis tabungan pensiun. Di banyak negara, individu muda cenderung meremehkan jumlah dana yang mereka butuhkan untuk pensiun, sering kali akibat bias present bias (lebih menghargai imbalan saat ini daripada imbalan masa depan), yang mengakibatkan kurangnya dana yang terkumpul ketika mereka mencapai usia pensiun.

Lonjakan adopsi FinTech telah mengubah perilaku investasi. Di Indonesia, jumlah investor pasar modal (terutama investor saham dan reksa dana) melonjak signifikan, dari sekitar 2,5 juta pada akhir 2019 menjadi lebih dari 10 juta per tahun 2022. Mayoritas pertumbuhan ini didorong oleh investor ritel muda yang mengakses pasar melalui aplikasi online, menunjukkan bahwa kemudahan akses dan biaya transaksi yang rendah menjadi faktor penentu utama perilaku investasi.

Namun, tanggapan dan implementasi produk-produk ini di tingkat individu sangatlah kompleks dan tidak seragam, karena sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, terutama faktor psikologis seperti biases kognitif (misalnya, kecenderungan untuk mengikuti mayoritas atau herding behavior, dan keengganan berlebihan terhadap kerugian atau loss aversion), tingkat literasi keuangan yang dimiliki, status sosioekonomi, serta persepsi subjektif mereka terhadap risiko, imbal hasil, dan kepercayaan terhadap institusi keuangan.

Perilaku keuangan merupakan faktor yang menentukan stabilitas dan kesejahteraan finansial individu dalam jangka panjang, yang tercermin melalui kebiasaan menabung, keputusan investasi yang bijaksana, serta pengelolaan utang yang disiplin dalam kerangka perencanaan keuangan yang terstruktur. Meski perkembangan ekosistem keuangan dan kemajuan FinTech telah memperluas akses masyarakat terhadap berbagai produk dan layanan keuangan, tingkat literasi keuangan yang belum merata masih menjadi kendala utama dalam pemanfaatannya secara optimal. Kondisi ini diperparah oleh faktor psikologis, seperti bias kognitif dan persepsi risiko yang keliru, yang memengaruhi pengambilan keputusan finansial individu.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)